24. TDQ (Penculikan 3)🔪

1.2K 87 3
                                        


>>Happy Reading<<

__________________________________________





Melihat dua pria paruh baya yang malang, bulir bening merembes keluar dari mata Kevin. Ayah-nya yang selalu jadi malaikat pelindung, kini ia melihat penderitaan sang ayah. Di siksa oleh manusia keji di hadapannya.

"Tolong lepasin ayah gue, Viola! Apa salah ayah gue sama lo, hah? Apa?!" Entah sudah berapa kali Kevin meminta untuk melepaskan Arya. Bahkan suaranya hampir habis. Viola tak menggubrisnya. Ia lebih senang jika melihat penderitaan orang.

Menyayat Arya tanpa ampun, sekujur tubuh Arya sudah dipenuhi luka sayatan. Tentu saja Viola yang melakukannya. Pria satu lagi—Rizal, sedang di siksa oleh sang adik—Viona.

Jeritan dan ringisan memenuhi ruangan. Bahkan Clara sedari tadi merasa takut akan darah. Raffi, cowok itu melihat aksi Viola. Tak menyangka apa yang gadis tercintanya ini lakukan.

"Arghh!"

"Hentikan! Arghhh!"

"Dasar manusia iblis!"

Umpatan demi umpatan terdengar ketika Viola maupun Viona menyayat tubuh kedua pria paruh baya itu. Viola menyayat kaki Arya hingga menampakkan tulangnya. Menurutnya ini belum seberapa. Ia berjalan menuju meja, terdapat beberapa alat tajam di sana. Seperti pisau, kapak, gergaji mesin maupun alat-alat pemotong lainnya.

Katakan saja kakak beradik itu kejam. Tapi tak sekejam saat mereka melihat kedua orang tuanya dibunuh secara keji. Bahkan lebih keji dari ini. Jeritan-jeritan orang tuanya masih terngiang-ngiang. Bayangan-bayangan itu seperti memory yang tersimpan di otak. Viona dan Viola tak dapat melupakan hal sekeji itu.

Tangan Viola meraih mangkuk yang berisikan garam. Ia kembali mendekati Arya yang sudah terlihat lemah. Tapi masih kuat untuk mengumpat. Manusia berdosa itu memang harus dapat pelajaran yang setimpal.

Viola menaburkan garam pada luka kaki Arya yang terbuka lebar. Bisa dibayangkan sakitnya bagaimana. Arya menjerit. Kakinya berdenyut, sakitnya tiada tara. Viola menyiksanya tanpa ampun. Walau menurutnya ini baru pemanasan. Tapi bagi Arya, ini adalah siksaan terburuk yang pernah ada.

"Ck! Berisik sekali kau!" decak Viola karena terganggu dengan jeritan Arya.

Di satu sisi, Viona menyiksa Rizal dengan caranya sendiri. Gadis itu mengukir sebuah tulisan PEMBUNUH di tangan Rizal. Pria itu menjerit, merasakan sakit ketika pisau menyentuh kulitnya. Viona mengambil garam yang ada di tangan Viola, lalu menaburkannya di tangan yang terdapat karyanya itu.

Viona berdecak kagum dengan hasil karyanya. "Bagus sekali karyaku. Menurutmu bagaimana, Paman? Bagus, 'kan?"

Tak mau menjawab pertanyaan gila Viona, Rizal sesekali meringis. Tubuhnya terasa perih, apalagi tangannya yang sudah luka ditaburi garam. Benar-benar menyakitkan.

Menyaksikan aksi penyiksaan, ke empat remaja yang terikat itu tak berdaya. Mereka tak bisa melakukan apa-apa. Baru kali ini mereka menyaksikan hal sekejam ini. Kevin yang sedari teriak pun suaranya kini habis. Ia lelah, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Na, gue takut," cicit Clara.

Karena tangannya terikat ke belakang dan tubuh Karina, Clara saling membelakangi, gadis itu memegang tangan Clara agar tenang. Ia juga sama merasakan takut dan ngeri dengan apa yang ia saksikan saat ini.

The Devil Queen (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang