Sabtu siang itu Ten sedang berbenah kamar. Mumpung jadwal kosong, Ten berencana untuk sedikit merombak ruang pribadinya ini. Untung cat kamarnya yang warna putih itu tidak pernah di apa-apakan, jadi Ten gampang kalau mau ubah-ubah dekorasinya.
Ten baru saja mengeluarkan kain gorden yang ia beli dari Ikeike saat matanya menangkap pesan dari mamanya Taeyong. Tumben.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ten geleng-geleng kepala liat kelakuan Taeyong. Bisa-bisanya dia tega bawa-bawa nama Ten buat modus operandi ke mamanya. Padahal Ten yakin banget Taeyong cuma lagi mager dan pengen tiduran sampe sore, atau main games sepuasnya di kamar.
"Ten?"
Sebuah--atau sepotong? atau seonggok? kepala muncul dari balik pintu kamar Ten.
"Iya Kak?" jawab Ten masih sambil merakit gorden pada cantelannya.
"Kak Il pergi dulu ya? gerbang depan kakak kunci, soalnya ngeri kemaren di belakang ada yang kemalingan siang-siang"
"Hm hm" jawab Ten mengacungkan jempolnya.
"Kakak balik besok sore ya" tambah Taeil lagi. Ten mengangguk.
"Eh Kak, bilangin bang Johnny kemaren bang Dean kirim email tolong di cek, takut wa nya nggak dibaca katanya" kejar Ten saat Taeil hendak menutup pintu.