Song for listening to (if you want): Menunggu pagi versi Noah
[warning: bahasa kasar bertebaran, bacanya gausah ikut-ikutan teriak ya]
***
Yuta bersyukur Taeyong nyeret dia ke studio tempat biasa Taeyong latihan sama anak-anak Akamsi. Kalo nggak, mungkin Taeyong bisa dibawa polisi sekarang gara-gara bunuh anak orang.
Setengah jam yang lalu, Taeyong sama Yuta duduk melingkar sama anggota Akamsi lain. Ada Chanyeol, Yoon sama Marteen. Mereka mau nyoba nyari tahu siapa diantara 3 curut itu yang curut beneran. Taeyong udah berprasangka buruk sama 1 orang; Yoon, karena temennya itu jelas suka sama Danah, bisa jadi dia ngelakuin itu buat balas dendam. Tapi Yuta punya fikiran lain; dia bilang nggak mungkin Yoon balas dendam dengan rekaman suara disaat lelaki itu tidak tahu apa-apa perihal Taeyong dan cewek itu, ngapain juga kan ngerekam suara mereka saat latihan udah selesai? Yuta malah curiga sama Marteen. Dia nggak ngitung Chanyeol karena cowok itu udah punya pacar dan cenderung masa bodoan, sedangkan Marteen--berdasarkan cerita Taeyong- kayaknya naksir sama Ten, ditambah cowok itu nggak banyak ngomong di rekaman.
Nggak butuh waktu lama, Yuta yang ternyata berbakat jadi detektif nemuin tersangkanya siapa. Entah berbakat atau emang tersangkanya goblok. Yuta sengaja nggak cerita jelas, dia cuma bilang kalau ada yang ngirim rekaman itu ke seseorang, yang langsung nge-forward ke Taeyong. Dia satu persatu nanyain 3 orang itu.
"Gue bahkan nggak punya nomor Ten"
Bingo. Satu kalimat, dan si curut terjebak.
"Gue gak cerita kalau rekamannya dikirim ke Ten" ucap Yuta yakin, ngeliatin satu orang itu. Dan gitu aja, si curut nggak mencoba buat ngelak, atau nge-counter ucapan Yuta. Kalo Yuta yang ada diposisi si Tersangka pasti doi udah ngeles, kan dia jagonya ngeles, lulusan primagama.
"Oke. Itu gue. Males mikir buat boong-"
BUGH.
Satu tinju melayang, tubuh Marteen terpental. Entah sepertinya Taeyong tadi baru disusupi Lucifer, kekuatan pukulannya tak main-main. Yuta bisa melihat darah di sudut bibir Marteen.
"BAJINGAN BANGSAT LU ANJING!" tadinya Taeyong pengen bilang bedebah, tapi nanti cerita ini berubah jadi novel stensil taun 2000an.
"NGACA LU BANGSAT!" eh si Marteen goblok malah provokasi. Untung aja Chanyeol sama Yoon yang lagi nunggu diluar langsung rusuh lari ke dalam studio, bantuin Yuta krempeng buat nahan-nahan Taeyong yang tiba-tiba berubah jadi beast.
"NGGAK GINI LU NYET KALO MAU DAPETIN TEN! DIA BENCI SAMA GUE SEKARANG, PUAS LU ANJING?!" Taeyong berteriak kencang sampai urat lehernya terlihat. Wajahnya memerah, tinjunya mengepal.
"Ten emang harus benci sama orang nggak tau diri kayak lu, he's deserved better" ucap Marteen santai sambil menyeka darahnya.
"Bagong diem dulu lu!" Yuta melotot ke arah Marteen. Yang di pelototin cuma mendecih.
"MANGECEK JUO ANG LAI, PANTEK*!" minangnya Taeyong udah keluar, artinya dia udah bener-bener muntab.
"Yong yong, sabar yong, duduk dulu duduk" Yoon mengusap-ngusap punggung Taeyong seolah mendiamkan anak TK yang menangis. Tapi Taeyong masih belum puas. Gara-gara curut ini, Ten sakit dan minta putus-oke ralat, break rasa putus.
"SALAH GUE APA SAMA LU MONYET?! SEKARANG GUE MESTI NGOMONG APA SAMA TEN? DIA PASTI MIKIR YANG ANEH GARA-GARA REKAMAN SETENGAH-SETENGAH ITU! BABI ANG!" Taeyong masih teriak-teriak kayak lagi orasi depan gedung DPR.
KAMU SEDANG MEMBACA
[end] CRAYON (TAETEN)
Fanfiction[Bahasa] Keseharian Taeyong dan Ten (serta beberapa member NCT dan idol lain) sebagai Mahasiswa dan penghuni kosan di Indonesia. CRAYON Collecting Random Affectionate from Youth Of Naive _____ ©️ photo by Ekrulila - Pexels. ◼️ Lokal ◼️ Boyslove (nor...
![[end] CRAYON (TAETEN)](https://img.wattpad.com/cover/231880457-64-k837700.jpg)