Stargazing (Bandung Day 2)

1K 152 62
                                        

(Cheesy? totally cheese)

***










Malam pertama (tolong kondisikan fikiran anda) di Bandung, Taeyong mengajak Ten main ke daerah puncak di Caringin Tilu (cartil). Gara-gara Taeyong sih kayaknya, ngomong want to get lost with you mereka jadi sempat beneran nyasar sebelum sampai ke tujuan. Mana jalannya lumayan sepi melewati perkebunan dan persawahan. Maklum, mereka kesana pas waktu menunjukan hampir pukul 11 malam. Tapi emang ramenya pas malem sih, biasanya.

Disepanjang perjalanan, mereka yang emang dua-duanya penakut akhirnya memutuskan buat nyetel video aja di mobil. Bukan video aneh kok, kalo yang aneh-aneh nanti bisa-bisa Taeyong bakal berenti ditengah jalan.
Videonya itu tentu saja MV boyband kesukaan Ten seperti biasa. Volume full, keduanya joget-joget nggak jelas sambil ikut-ikutan nyanyi berasa carpool sama James Corden.

"Sarangheul haetta, mmm mmm mmm heta mmmm mmmm mmm eta cartil dimanaaa" teriak Taeyong mengikuti nada lagu meski liriknya made by Taeyong. Soalnya selain boyband kesukaan Ten, lagu itu yang lumayan familiar buatnya gara-gara Asian Games.

"Dih apasih, merusak harmonisasi lagu" potong Ten pura-pura sebal.

Keduanya terus-terusan bernyanyi sampai tiba ditujuan, sebuah kafe kopi yang juga menyajikan menu makanan dan alkohol, tentu saja. Daerah dataran tinggi begini kan dingin, jadi kalau nggak rokok, kopi, pasangan, ya alkohol itu pas banget buat ngangetin.

Saat mereka datang, suasana sudah lumayan ramai walau tidak terlalu sesak. Hanya sedikit penuh. Ada rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu gaul yang asyik dengan rokok linting, ada rombongan anak muda yang sepertinya dari luar kota. Belum lagi ternyata ada live musik juga disini, meski sejauh ini hanya membawakan lagu-lagu band lawas macam Scorpions atau The Beatles.

Tapi karena Taeyong itu kadar toleransi alkoholnya parah, jadi mereka cuma pesan kopi racik aja, dan Ten yang pesan banyak makanan pendamping. Entahlah Indomie rebus pake telur dan sayur serta cabe rawit 5 ditambah Roti bakar 2 tangkup itu masih cocok disebut makanan pendamping atau tidak.

"A, mangga" seorang pegawai paruh baya tersenyum sambil menyodorkan sebungkus kertas rokok dan tembakau satu plastik. Rupanya fasilitas gratis.

"Mangganya mana?" Tanya Ten polos. Si bapak yang tadi nawarin langsung ketawa geli, sedangkan Taeyong menutup wajahnya malu.

"Ah, nggak usah Kang" jawab Taeyong ramah, mengembalikan bungkusan tadi.

"Mangga itu maksudnya silahkan, teteh geulis" ucap si bapak pede banget yang diajak ngobrolnya itu perempuan. Ten yang tahu arti teteh hanya memberengut kesal. Tidak terhitung banyaknya orang yang mengira dia perempuan dipertemuan pertama, memang. Sedangkan Taeyong hanya mengelus tangannya menenangkan, sambil menahan tawa, tentu saja.

"Emang mereka nggak bisa liat jakun aku apa?!" keluh Ten saat si bapak pergi dari situ.

"Ya nggak keliatan lah sayang malem begini walau pake lampu juga. Punya kamu juga kecil" ucap Taeyong menjawab keluhan Ten. Maksudnya jakunnya ya, jakun, inget j-a-k-u-n-nya yang kecil.

Ten sendiri tahu diri untuk tidak mengeluhkan suaranya karena suara dia memang cempreng, tidak terdengar seperti laki-laki yang ngebass. Apalagi wajahnya yang punya garis rahang lembut dan mata cantik seperti perempuan. Ini Mae waktu hamil ngidam apa coba anaknya bisa cakep genderless gini.



***








Saat makanannya datang, Ten mulai diam khusu dengan makanan didepannya. Kebiasaan dia memang kalau makan tidak pernah sambil bicara. Jadi Taeyong kalau mau ngajak Ten ngobrol itu nanti pas kelar makan.

[end] CRAYON (TAETEN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang