(9) Mafia Jatuh Cinta

19 9 0
                                        

By Khansa

**

Seorang paruh baya berlari tergesa-gesa kearah sebuah markas yang nampak kusam, kotor, dan menyeramkan. Ia terpaksa mendatangi tempat ini demi keselamatan putrinya.

Saat ia sudah berada di depan pintu masuk persis, ia di hadang oleh dua orang berbadan besar dan menyeramkan. Dengan ekspresi melotot tajam, badan di tegakkan dan pakaian serba hitam. membuat sang paruh baya ini agak sedikit ketakutan menghadapinya.

"Siapa anda?" orang berbadan besar itu menatap pria paruh baya ini dengan tatapan menyelidik.

"Saya Edo Atmaja," pria paruh baya ini tak berlama-lama langsung menerobos pintu yang di jaga oleh dua orang berbadan kekar.

Pria yang tadi menjaga pun mengejar pria paruh baya itu. Terlihat, ua sedang mencari-cari seseorang sembari membuka satu persaru pintu ruangan yang ada di sana.

"Aldebaran!" panggil pak Edo sembari terus melangkahkan kakinya. Sampai akhirnya terlihat sebuah ruangan berada di ujung lorong dengan pintu bercat hitam bertuliskan *_'Aldebaran rom'.*_ Tanpa berlama-lama ia langsung menuju pintu itu.

Dengan tergesa-gesa pria paruh baya itu membuka kasar pintu itu. Saat sudah masuk terpampang jelas laki-laki kekar ber hoodie hitam sedang berdiri memandang sekitar di depan kaca besar ruangannya.

"Ada apa?" tanya Aldebaran _to the point_. Seketika penjaga yang tafi mengejar pun ikut berhenti di belakang sang pria paruh baya itu.

"Tolong saya, saya butuh bantuanmu, Bantuan kalian."  pak Edo terlihat sangat memohon dan berharap agar mereka membantu menyelesaikan masalahnya, mengambil berliannya yang di curi.

Yap! Pak Edo sekarang sedang berada di markas Black Star gengster. Markas mafia terbesar nomor satu di dunia ini. Pak Edo meminta bantuan mereka karena ia telah kehilangan harta berharganya, berliannya, dan hidupnya.

"Bantuan apa?" tanya Aldebaran dengan menaikkan satu alisnya.

Pak Edo terlihat menghela nafas lirih, "Anak saya, berlian saya, hidup saya, telah di culik oleh salah satu rekan bisnis saya yang menginginkan saya hancur lewat anak saya," airmata yang di tahan sedari tadi akhirnya luruh sudah. Terlihat, jika pak Edo sangat-sangat menyayangi dan menghawatirkan putrinya.

"Apa jaminanmu untuk kami membebaskan putrimu?" tanya Aldebaran menantang.

"Semua akan ku berikan asal kau menyelamatkan putriku!" ujar pak Edo mantab. Aldebaran tersenyum _smirik_ ia menatap Aldebaran dengan pandangan sulit di artikan.

"Saya akan membantumu, tapi—kau menuruti perintahku." Aldebaran langsung saja berjalan meninggalkan pak Edo yang berdiri di sana. Ia berjalan menuju lapetop kemudian mengetikkan sesuatu. Setelah selesai ia tersenyum misterius dan langsung mengambil pistol beserta alat perang lainnya.

"Kumpulkan pasukan terlatih, kita lakukan penyerangan sekarang juga!" Seketika semua bawahannya menunduk patuh dan langsung keluar menyiapkan anggota yang di butuhkan.

Aldebaran keluar dari ruangannya di ikuti oleh Pak Edo di belakangnya. Aldebaran dan anggotanya termasuk pak Edo sekarang sedang menuju tempat penyekapan berlian Atmaja.

CACTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang