8. Special Gift

67 5 12
                                        

Hai, diary

Aku tidak pernah menyangka akan ada hari terbaik yang hadir dalam hidupku seperti kemarin. Di mana aku menjadi satu-satunya orang yang diminta laki-laki itu untuk menjadi temannya. Menemani sorenya, di bawah guyuran hangat cahaya senja, di terangi bintang-bintang malam.

Aku malu sekali, bahkan hanya dengan memikirkannya saja siapapun tahu bahwa aku sangat menyukai hari itu. Walaupun tidak tahu apakah hari seperti itu akan datang lagi atau tidak.

Diary, tolong ingat hari kemarin itu. Untuk Jumat-ku yang sangat istimewa. Bersama Langit Delavar.

Aku merebahkan tubuh di atas boneka beruang putihku dengan kedua mata yang lurus menatap langit-langit kamar. Lantunan musik dari ponselku yang tengah memutar lagu My Boo dari Usher ft. Alicia Keys seakan menjadi backsound terbaik untuk kegiatanku saat ini.

Tadi pagi aku heboh menunjukkan pada Mama dan Papa foto selfie milikku bersama Langit. Kedua orangtuaku tertawa keras mengejek bahwa anaknya menipu mereka. Katanya itu foto palsu, hanya editan. Aku langsung protes dan menunjukkan room chat di WhatsApp yang berisi Langit mengirimkan foto itu padaku. Akhirnya mereka percaya, dan memberiku semangat '45.

Saat Mama dan Papa mendukung, tetapi semesta dan keadaan menolak, adalah aku yang merasa mendapatkan Langit sangatlah sulit.

Tubuhku miring ke kiri, melirik buku diary yang masih menampilkan tulisan baruku beberapa menit tadi. Aku iseng membuka lembar sebelumnya, yang berisi tulisanku tentang Rafif yang menghilang seharian. Kemudian kembali ke halaman sebelumnya, tentang Rafif yang menangis di malam hari. Dan kusibak ke halaman sebelumnya lagi, tentang Rafif yang tidak suka makanan pedas.

Hei, semua tulisan hari-hariku penuh dengan Rafif. Memang, laki-laki itu adalah orang penting dalam hidupku setelah Mama dan Papa. Bahkan jika memilih antara Langit dan Rafif, tentu aku akan memilih Rafif.

"Amel, sayang..."

Seruan dari Mama buru-buru membuatku bergerak menutup buku diary dan menyimpannya di bawah bantal. Kemudian berjalan membuka pintu. Aku melongokkan kepala ke bawah dari lantai dua.

"Kenapa, Ma?"

"Kamu nggak sibuk, kan?"

"Ngga, Ma."

"Temenin Mama belanja yuk, sayang."

"Iya, Ma. Aku ganti baju dulu, Ma."

"Oke, Mama tunggu di luar ya."

"Iya." seruku sambil melompat untuk kembali masuk ke dalam kamar.










🍂🍂🍂









Aku selalu suka ketika berbelanja bersama Mama. Ditanya memilih bahan makanan yang mana, atau bagusnya membeli detergen yang mana, semua itu kujawab dengan antusias. Meskipun kami menghabiskan banyak waktu, bisa sampai dua jam lebih jika berbelanja bulanan dengan Mama.

Terkadang Mama mengajak Papa ikut juga, pulangnya sekalian makan-makan, berburu kuliner. Tetapi Mama bilang Papa sedang tidur, semalam Papa pulang larut sekali. Jadi setelah sarapan, sekitar pukul sepuluh pagi Papa tidur lagi di kamar.

"Mel, kata kamu Mama beli yang aroma mawar merah apa putih?" Mama mengangkat dua pelembut pakaian.

Aku berfikir sejenak, menilik kemasan kedua pelembut pakaian di tangan Mama. "Yang putih boleh dicoba Ma, kemarin Mama pakai yang mawar merah. Menurutku yang mawar merah baunya nggak tahan lama. Apalagi kalau dipakai pas musim hujan kemarin, nggak berasa sama sekali."

Our Time [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang