Mobil merah milik Langit berhenti di depan gerbang rumahku, tidak sampai masuk ke pelataran. Aku yang menyuruhnya karena memang dia harus cepat kembali. Langit bilang dia ada jadwal sekitar satu jam lagi.
Aku hendak membuka seatbelt, namun Langit menahan lenganku. Terpaksa aku kembali membalikkan kepala untuk menatapnya.
"Lo bawa bandul kalung yang pernah gue kasih?" tanyanya.
"Selalu gue bawa, kenapa?"
Langit tersenyum senang mengetahui barang pemberiannya masih aman. Aku memang selalu membawanya. Sejak Langit bilang bahwa benda itu cukup berharga, aku menyimpannya di dalam dompet. Biar aku bisa bawa ke manapun aku pergi, maka benda itu disimpan di sana.
Selanjutnya Langit merogoh sesuatu di dalam saku jaket jeans putih yang membalut kaosnya. "Siniin deh, biar bentuknya nggak aneh lagi."
"Bentar." aku membuka resleting tas di atas pangkuanku dan langsung mengambil benda itu yang disimpan di dalam dompet. "Ini."
Ternyata benda yang dikeluarkan Langit dari saku jaketnya adalah rantai kalung. Warnanya keemasan dan sangat menyatuh dengan bandul bulat yang dia berikan sebelumnya.
"Nggak aneh lagi kan sekarang? gimana, bagus nggak? gue nggak beli sendiri soalnya, titip nih sama Kakak manager."
"Bagus kok, Kakak manager pinter deh milihnya. Cocok banget jadi kek baru beli."
"Sini majuan dikit, biar gue pakein."
"Eh?"
Belum selesai aku terkejut dengan pernyataan dia, Langit malah dengan santai menarik lenganku. Aku sudah mencondongkan tubuh jadi lebih dekat dengannya.
Langit memasangkan kalung itu lewat depan hingga posisi kami sangat mirip seperti orang berpelukan. Jantungku berdegup sangat kencang, aku tidak sanggup bernapas dalam beberapa detik. Apakah Langit juga merasakan hal yang sama sepertiku?
"Sudah, coba gue lihat--" Langit menegakkan tubuhku dan meneliti kalung yang kini bertengger di kerah seragam sekolahku. "Lo jadi... lo... cantik."
Aku pikir Langit tidak sedang melihatku, maksudku dia hanya fokus melihat kalung itu. Namun begitu aku mendongakkan kepala, saat itu tatapan kami bertemu. Langit menatapku cukup dalam, seperti banyak rasa yang ingin ia ungkapkan.
"Makasih, Mel. Gue belum ngucapin kata itu hari ini. Terima kasih udah mau bantu gue."
"Sama-sama, anak muda hehe." ujarku meniru panggilan ayahnya.
Langit tertawa mendengarnya, tangannya bergerak mengusap kepalaku. Perlakuan sederhana yang membuat aku semakin tidak bisa mengontrol degup jantungku.
"Gue turun ya, dadah..."
"Iya, hati---"
"Tunggu." aku kembali membalikkan tubuh karena ada hal yang belum sempat kutanyakan. "Lo besok malem dateng ke acara pesta Salvina nggak?"
"Salvina? siapa?"
Keningku ikut berkerut, bingung. Salvina itu teman sekelas Langit, lalu mengapa dia bisa lupa?
"Dia temen sekelas lo."
Dengan acuh jawaban Langit hanya bahunya yang terangkat. "Gue kan udah bilang sama lo, gue nggak bisa inget nama cewek sembarangan."
"Oh my god! gue spesial?" pekikku girang.
Telunjuk langit terulur mendarat di atas keningku. "Lo kan temen sewaan gue, Amelia Anjani."
"Ish... ya udahlah, yang penting gue seneng lo inget nama gue. Makasih kalungnya, gue turun. Bye..."
"Bye... Auza."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Time [Completed]
Ficção Adolescente[Daily Clover Marathon 2021] Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
![Our Time [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/246198852-64-k467512.jpg)