Satu minggu kemudian namaku menjadi populer ke seluruh sudut sekolah. Jangankan murid-muridnya, bahkan petugas wi-fi yang datang sebulan sekali pun menyapaku ketika kami berpapasan.
Selain banyak disapa murid-murid lain, sialnya beberapa fans Langit pun sering menanyakan statusku dengan cowok itu. Ada yang langsung percaya saat aku menjawab hanya sekedar teman dekat, ada juga yang tetap keukeuh menuduhku menggoda Langit. Ya memang benar aku suka menggoda Langit, namun entah kenapa konteks menggoda yang dilayangkan mereka mengarah kepada hal yang negatif. Maka dari itu aku menjawab tidak untuk tuduhan mereka.
Ternyata menjadi terkenal itu tidak seindah imajinasi kita. Apalagi mulai sekarang aku harus menjaga sikap, bagaimanapun namaku akan jadi pertanggungjawaban citra sekolah.
Dalam empat hari belakangan aku tidak memiliki banyak kegiatan. Langit sibuk dengan syuting untuk film layar lebar terbarunya, sedangkan Naura sibuk dengan perlombaan Karatenya karena tim sekolah kami masuk babak final.
"Mel, minjem buku catetan Fisika lo dong?"
Aku tersadar dari lamunan ketika Randy yang duduk di meja depan memanggil namaku.
"Ya lo sini lah."
"Lempar aja udah, gue tangkep kok." ujarnya.
"Oke." aku mengangkat buku catatan Fisika ke atas kepalaku sebelum bersiap melemparnya pada Randy.
Buk!
"Aw aduh!"
Sial, bukunya mengenai kepala Chika yang duduk di belakang Randy. Gadis itu menoleh padaku dengan tatapan sebal. "Sorry nggak sengaja, Chik. Tuh disuruh si Randy."
"Ya lo lempar yang bener kenapa sih? katanya jago main basket, sakit nih."
"Nggak sengaja, sorry. Kalau mau bales, noh pukul aja kepala Randy."
"Boleh ya, gue bales nih?" tanya Chika.
Aku mengangguk cepat. "Iya, yang keras bila perlu ya."
"Sip."
Randy sudah berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk kabur dari Chika. Namun, gadis itu sigap mengejar Randy ke manapun cowok itu melarikan diri.
"Ampun, Chik. Nggak sengaja lagian itu!"
"Sini lo, apapun alesannya gue harus mukul lo juga!"
"Istighfar Chik, nyebut nyebut atuh."
"Astaghfirullah aing siap mencabut kepala si Randy!!"
Aku tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejar-kejaran Randy dan Chika yang kemudian hilang dari pandangan, mereka terus berlari sampai keluar dari dalam kelas.
Seisi kelas juga ikut menertawakan mereka. Andaikan Naura ada di sini, dia juga pasti ikut mengompori Chika. Aku jadi rindu Naura, semoga saja dia pulang membawa kabar baik besok.
Untungnya pelajaran terakhir Kamis ini Bu Hanifa selaku guru pelajaran Pendidikan Agama Islam sedang tidak bisa mengajar. Jadi kami hanya perlu menunggu bel pulang berbunyi untuk bubar.
Aku tengah mengerjakan PR Kimia yang diberikan Pak Gugun sebelum istirahat kedua. Lumayan biar di rumah tinggal mengoreksinya saja.
"Mel, lihat deh."
Aku berjengit kala Rafif tiba-tiba datang lalu meletakkan sebuah undangan dengan cepat di atas mejaku.
"Datang ya, Mel. Acaranya malam minggu, dress code-nya dilihat aja di undangan."
Itu suara gadis yang dipanggil Vi, ternyata Rafif datang ke kelasku bersama dia. Mereka pamer undangan pesta ulang tahun, Rafif bahkan tersenyum lebar. Apa dia sebahagia itu dengan pesta ulang tahun si Vi ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Time [Completed]
Novela Juvenil[Daily Clover Marathon 2021] Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
![Our Time [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/246198852-64-k467512.jpg)