23. Dark Past Story

48 6 23
                                        


Langit mengambil satu bungkus tissue di atas meja milik dokter sekolah. Lalu dia mengambil dua helai dan telaten mengusap kedua pipiku. Harusnya aku berhenti menangis, mengambil ponsel dan mengabadikan momen langka ini. Namun aku tidak bisa, seluruh liquid menyebalkan ini tetap saja meluruh dari kedua mataku.

Aku menangisi Rafif, takut dia kenapa-kenapa. Aku menangisi diriku sendiri, yang tidak tahu apapun tentang cowok itu. Dan aku juga menangisi tentang takdir seperti ini yang mengapa harus menetap pada sahabatku.

"Kenapa mesti nangis di kelas? lo nggak malu, Mel?"

Bibirku rapat tidak bisa balas apa-apa selain menangis, menuntaskan rasa sesak ini.

"Diem ah, diem dong..." bujuk Langit.

"Mel--" Langit berpindah posisi, yang semula jongkok di bawahku, sekarang dia duduk tepat di sebelahku. Kami duduk di bangsal UKS, saling berhadapan karena Langit menghadapkan bahuku memutar ke arahnya.

"Percaya nggak kalau gue bisa ngilang?"

Aku menatap Langit dengan kening berkerut, menunggu kalimat selanjutnya. Dia nampak serius, seolah tahu kalau aku sangat penasaran dengan kata-katanya. "Manusia itu sebenarnya punya cara kamuflase untuk mengelabui sekitarnya dengan cara yang unik, seperti mimikri yang dilakukan oleh bunglon. Gue bisa menghilang, itu cara gue berkamuflase, Mel."

"Hey, lo nggak percaya?"

Langit merogoh saku jas almamaternya dan kini di telapak tangannya sudah ada ponsel, entah dia ingin membuktikan apa.

"Lihat nih, gue mau buktiin kalau gue bisa ngilang."

Ponsel Langit menyala, dia membuka folder vidio di layar benda pipih itu. Tiga detik selanjutnya ponsel Langit menyalakan sebuah vidio. Aku memperhatikan bagaimana di sana tubuh Langit yang semula berdiri di depan tiga orang berpakaian hitam tiba-tiba menghilang.

"Tuh kan, bisa kan? hehe..."

"Apa itu? itu kan vidio editan." kataku.

Langit mengangguk, "Sstt... tadi itu treaser buat film terbaru gue. Lo beruntung karena jadi orang pertama yang lihat ini."

Sudut bibirku sedikit terangkat ke atas, aku harus memberikan apreasiasi untuk kerja keras Langit di film terbarunya. Dia keren sekali berperan di film fantasi seperti itu.

"Nah gitu dong jangan nangis terus."

"Iya." singkatku, berkat Langit aku tidak sadar bahwa tangisanku reda.

Tok... tok...

Terdengar suara ketukan dari ambang pintu, lalu disusul ucapan seseorang. "Langit, kamu tidak bisa berlama-lama. Ayo... kita harus pergi ke acara selanjutnya, tadi saya sudah bicara dengan guru Fisikamu, kamu bisa ujian susulan."

Langit mengangguk seraya memberi tanda oke dengan ibu jarinya.

"Balik bareng gue ya, gue anterin." tawarnya padaku sebelum pergi.

"Nggak usah, Kakak manager pasti buru--"

"Maaf menyela." sela Kakak manager Langit. Pria itu menatap aku dan artisnya secara bergantian. "Lebih baik gadis ini pulang sendiri saja. Dan kamu Langit--akh, bilangnya tidak ingin terlibat rumor dengan perempuan. Tapi ini apa? tadi itu apa? adegan mirip film-film begitu, media sosial heboh karena kalian."

"Maaf..." lirihku.

Kakak manager menggeleng tegas, di luar dugaanku. "Tidak apa-apa. Namamu Amel, kan?"

Aku mengangguk. Kakak manager kembali berbinar-binar memperhatikan aku.

"Justru saya suka, rumor seperti ini bisa membuat penggemar Langit yang dulu meninggalkannya karena tahu dia gay pasti akan kembali."

Our Time [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang