Maaf ya kalo banyak typo, ini dadak kek tahu bulat soalna😁
🍂🍂🍂
Sejak kecil aku selalu memiliki cita-cita untuk menjadi seseorang yang beruntung. Definisi kata beruntung untuk segala yang aku inginkan, dengan kata lain jika aku beruntung, maka apapun yang kuinginkan pasti terwujud.
Aneh memang, tapi bukankah hal itu luar biasa? jika aku benar-benar jadi orang beruntung, kupikir hidupku yang biasa saja ini terasa akan sangat membahagiakan. Misalnya, ketika aku ingin sekali bertemu Bapak Presiden dan harus mengikuti suatu kompetisi untuk mewujudkannya, maka pasti aku bisa bertemu Bapak Presiden karena aku orang yang beruntung.
Namun kurasa contoh tadi itu sedikit berlebihan. Beruntung yang kumaksud adalah ketika satu hal sederhana dalam hidupku terjadi. Baiklah, contoh kali ini sederhana, misalnya mengubah status sahabat antara aku dan Rafif menjadi sepasang kekasih.
Tidak banyak yang berubah dari cowok itu. Dia tetap manis, perhatian, dan menyenangkan. Namun entah kenapa di setiap ukiran senyumnya, aku seperti menemukan sesuatu yang lain.
"Amel, ini HP-mu ketinggalan, sayang." Mama berseru mengejar langkahku dari dalam rumah sambil menunjukkan ponselku, membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Makasih, Ma. Dari kemarin aku banyak mengangguri HP-ku."
"Sana berangkat, nanti terlambat."
Aku mengangguk, lalu mencium punggung tangan Mama. "Mama nanti ke rumah sakit?"
"Iya, siang ini Rafif sudah boleh pulang."
"Mama sama Papa beneran mau ajak Pipip tinggal sama kita, kan?"
"Tentu, itu sudah jadi keputusan Mama sama Papa. Kamu jangan khawatir, kami tidak akan membiarkan Rafif terluka lagi."
Aku mengucapkan banyak terima kasih pada Mama pagi itu sebelum pergi diantar Papa pakai mobilnya. Perasaanku sudah lega lagi, tidak melulu memikirkan tentang Bang Rafa.
Papa mengantar sampai depan gerbang sekolahku. Bertepatan dengan bunyi gesekan antara jalan beraspal dan ban mobil Papa, saat itu netraku menemukan sosok Naura yang baru saja turun dari motor besar kakaknya.
"Nauraaaa."
Gadis itu membalikkan tubuh ketika kuteriaki namanya di sepanjang langkahku. Naura melambaikan tangan setinggi-tingginya, nampak antusias ketika melihatku.
"Diantar sama kakak lo, Ra?" tanyaku basa-basi.
"Iya, Bang Chiko lagi baik hehe."
"Yuk ke kelas, ada kabar bagus yang mau gue bagi sama lo."
"Soal?" Naura bertanya cukup menyelidik.
Aku ingin membuatnya penasaran, jadi aku mengedikkan kedua bahuku sebagai respon.
"Nanti juga lo tau."
"Oke deh."
Seiring langkah kakiku menapaki pelataran sekolah aku merasa banyak pasang mata yang mencuri-curi pandang ke arahku. Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, setiap murid-murid yang aku lewati pasti menatap ke arahku.
"Lo beneran jadi artis, Mel." bisik Naura.
Secepat kilat kepalaku menoleh padanya, mengerutkan kening bingung. "Artis apaan? model sekolah kan udah lewat ya, apa masih hits, Ra?"
"Nggak usah pura-pura gitu lah lo sama gue, hmm?"
"Pura--"
"Ekhem!" deheman seseorang yang datang berhasil menunda ucapanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Time [Completed]
Roman pour Adolescents[Daily Clover Marathon 2021] Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
![Our Time [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/246198852-64-k467512.jpg)