[Daily Clover Marathon 2021]
Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍂🍂🍂
Sudah satu bulan sejak kepergian Rafif, namun rasanya sudah bertahun-tahun aku ditinggalkan. Rasanya masih sakit, aku rindu, tidak tahu harus apa.
Saat itu, di hari jumat yang cerah, kami masih bertukar cerita manis. Bergandengan tangan memasuki gedung sekolah. Nyatanya, saat aku tengah dirisak oleh Sekar dan teman-temannya yang lain, saat itu Rafif juga tengah kesulitan.
Rafif mendengarkan dengan seksama bagaimana ketua OSIS tengah menerangkan teknis pelaksanaan pentas seni di sekolah. Laki-laki itu masih baik-baik saja, sesekali ikut menyanggah dan memberi masukan. Tidak ada yang aneh, dia bahkan mencuri-curi kesempatan untuk membalas pesanku pada siang itu, bilang agar aku menyusulnya ke ruang OSIS mengantarkan minuman.
"Ada lagi yang ingin memberi masukan?" tanya Yunan.
Rafif mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi. "Mau usul guest star dong, Nan."
"Siape? lo maunya sape? bilang aja bilang sama gue."
"Undang NCT Dream, cewek gue suka banget tuh sama mereka."
Pletak!
Rafif meringis kala sebuah spidol mendarat tepat sasaran di atas kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang ketua OSIS yang bersiap murka akibat masukan dari anggotanya.
"Sinting lo, Fif!"
"Tadi katanya bebas siapa aja boleh, lo yang sinting." sarkas Rafif.
"Ya tapi bukan gitu cara kerjanya, Fif."
Anggota OSIS yang lain sibuk tertawa melihat perdebatan ketua mereka dengan Rafif. Cerita itu juga membuat aku sedikit menyunggingkan senyum ketika Yunan menceritakannya padaku. Dia bilang Rafif tertawa sangat lebar, kedua matanya membentuk sabit, seperti biasa.
Aku membayangkan wajahnya kala itu, Rafif pasti bahagia. Aku sangat bersyukur, setidaknya Rafif memiliki banyak alasan kenapa dia harus tersenyum meski hidupnya sangat tidak adil.
Setelah rapat OSIS selesai, Rafif melangkah keluar dari ruang OSIS sendirian. Dia mendahului yang lain, berdiri di sebelah dinding ruang OSIS, menunggu seseorang yang akan mendatanginya--itu aku. Dia menunggu aku datang seorang diri, bahkan menolak pergi ke kelas saat Yunan menawarinya pergi bersama.
Rafif menunggu hingga bel masuk berbunyi. Tidak, dia bahkan telat masuk ke kelas sepuluh menit hanya untuk menengok isi kelasku. Saat itu Langit bilang Rafif mencemaskan aku. Namun Langit memberikan jawaban masuk akal, mengatakan bahwa aku kemungkinan sedang izin keluar kelas. Rafif pun percaya, dia mengikuti pelajaran berikutnya dengan tertib meskipun pikirannya dipenuhi olehku.
Dia tidak sabar ingin bertemu denganku, dia pasti ingin mengatakan ucapan selamat tinggal. Aku yakin sekali, karena Rafif tidak akan meninggalkan aku tanpa mengatakan apa-apa.