"Aku sama siapa kalau Bunda sama Ayah pergi. Aku nggak mau tidur sendirian, aku nggak suka..."
"Pipip."
"Ayah... Bunda... bangun, lihat itu Amel pasti mau ledekin aku karena udah nggak punya orangtua. Aku nggak mau kalian ninggalin aku. Nggak mau.. hiks."
"Pipip jangan nangis, aku nggak akan ledekin kamu. Kamu masih punya aku yang sayang sama kamu."
"Janji?"
"Janji."
Air mataku semakin merebak seiring langkah dan memori masalalu itu berputar. Kenangan masa kecil saat aku berusaha menenangkan Rafif, dan janji kita yang terikat. Maaf untuk itu semua karena aku malah membiarkan laki-laki itu sakit sendirian.
Mama dan Papa tertinggal jauh di belakang sana karena aku berlari lebih dulu setelah bertanya nomor kamar Rafif. Pokoknya aku harus menjadi orang pertama yang laki-laki itu lihat ketika sadar nanti.
Kamar 308.
Aku sampai di depan pintu bertuliskan nomor dan nama pasiennya. Tanganku lincah memutar knop pintu dengan cepat. Aku mendorong tubuhku masuk ke dalam sana. Memfokuskan arah pandangan pada bangsal rumah sakit.
"Pip--Pipip?"
Kamar itu kosong, lalu di mana Rafif?
"Pipip? Hei, Pip... lo di mana?"
Aku memasuki kamar rawat nomor 308 itu lebih dalam. Ruang VVIP itu sama luasnya dengan kamarku di rumah, ditambah dengan toilet yang nyaman untuk pasien. Tapi Rafif tidak ada di dalamnya.
Kubalikkan tubuhku mencapai daun pintu. Keluar dari dalam sana, melangkah ke koridor di sisi kanan sejauh seratus meter. Saat dirasa tidak ada tanda-tanda keberadaan Rafif, aku berganti lari ke koridor di sisi kiri.
Aku mencoba berjalan lebih jauh lagi. Hanya lurus ke depan mencoba mengenali beberapa pasien di sana.
"Woy!" seseorang berseru cukup keras di telingaku.
Aku mengenali suaranya, dia Rafif. Jadi aku dengan tanggap membalikkan tubuh. Dia sudah tersenyum lebar sambil menunjukkan buah apel yang tengah dia makan.
"Lo tuh--"
"Mau apel?" Rafif memotong kalimatku dan mengulurkan buah apel yang terdapat jejak gigitannya.
"Ih ngeselin!" aku mendorong perutnya ke belakang.
"Aw."
"Sakit? sorry sorry." aku lupa bahwa dia sedang banyak terluka dan kesakitan.
"Maaf udah bikin lo khawatir."
"Mau peluk dulu sebelum gue ngomel. Sini--" aku menarik ujung pakaian pasien yang dikenakam Rafif hingga laki-laki itu mendekat padaku.
Lenganku terulur untuk melingkar di pinggangnya. Aku menenggelamkan kepalaku di dada Rafif selama beberapa menit. Membiarkan tangisku pecah di sana, tanpa isakan, agar Rafif tidak mengetahuinya.
Dia menggunakan tangan kanannya untuk mengusap kepalaku, sementara tangan kirinya asik menggenggam buah apel.
"Jangan sakit, gue mohon..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Time [Completed]
Dla nastolatków[Daily Clover Marathon 2021] Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
![Our Time [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/246198852-64-k467512.jpg)