[Daily Clover Marathon 2021]
Tentang Rafif Dimansyah Fajaro, sahabatku, cinta pertamaku, yang belum juga kembali. Dia bilang dia tidak pernah pergi, dia ada bersama tetes hujan, embusan angin, dan terpaan cahaya senja. Aku belum menemukannya, bagaim...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Outfit Langit pas anterin Amel pulang
🍂🍂🍂
Seisi kelas riuh dalam waktu bersamaan ketika mata pelajaran terakhir di kelas kami selesai. Guru kami pamit undur diri setelah tiga detik mendengar bel pulang berkumandang. Gema sorakan perayaan untuk weekend keluar dari setiap bibir teman-temanku, begitupun aku.
Rasanya menyenangkan, apalagi hari ini aku ada kesempatan berduaan bersama Langit. Meskipun untuk memberinya bantuan, itu lebih dari cukup. Jika Langit mulai merasa nyaman padaku, tandanya sebentar lagi dia akan tertarik, bukan?
"Bukankah seharusnya mereka ngasih gue keringan, Mel?"
"Maksud lo?"
"Itu--" Naura menunjuk lurus ke arah papan tulis yang masih terpampang nyata hasil rumus-rumus Fisika. "Belum lagi tugas Kimia, Matematika, Biologi, Bahasa Inggris--akh, otak gue bleduk ini!"
Aku tertawa melihat gaya bicara Naura. Sejujurnya aku pun turut merasakan apa yang tengah mengganggu pikirannya. Dia baru saja kembali setelah perlombaan, tetapi harus segera menyusul materi yang tertinggal. Sialnya, minggu ini banyak sekali tugas yang diberi guru-guru kami.
"Gue kan nggak tau gimana nyusulnya? Mel.... lo mau ajarin gue, kan?"
"Tenang aja, pasti gue bantu. Besok lo ke rumah gue aja, sekalian lo traktir gue kan? habis itu kita cari kado buat Salvina."
Naura kembali bersemangat, dia langsung berdiri sambil mengangkat tas punggung. "Oke, pokoknya gue traktir lo sampe puas tenang aja. Rafif juga ajak lah, syukur-syukur dia ntar mau ajak Yunan hehe."
"Ajak sendiri dong kalau berani."
"Nggak bisa, grogi gue."
Naura menarik lenganku untuk segera keluar dari dalam kelas, kami berjalan bersama menuju sekre ekskul karate untuk menumpang sholat dzuhur.
"Rafif tau kalau lo diminta jadi pacar pura-pura sehari sama si Langit, Mel?"
"Nggak tau, baru lo doang kok yang tau. Lagian nggak penting keknya, cuma sehari ini."
"Iya juga sih."
"Ada mukena nggak sih di sini?" tanyaku setelah meletakkan tas di atas sofa.
"Ada tuh di samping papan informasi."
"Oke."
Aku terpaku setelah meraih satu mukenah, pada papan informasi yang berisi semua info penting milik anggota ekskul karate. Selama beberapa detik sampai kemudian Naura mencolek lenganku mengajak kami ke luar untuk mengambil wudhu.