JIMIN P.O.V
"Min Hana! Min Hana, kau dimana?!" Aku berteriak sekeras mungkin sembari tetap berlari.
Meskipun hanya berbekal flashlight dari handphone, itu tidak menghentikan langkahku. Semua yang menghalangi jalan, aku singkirkan. Tidak peduli apakah itu rantai pohon ataupun hewan sekaligus, aku harus tetap menemukannya.
Kau ada dimana, Hana?
Semakin memasuki hutan suasananya makin mencekam. Ini terlalu berbahaya untuk seorang perempuan. Bahkan tidak ada yang tau apa saja yang ada di dalam hutan ini.
Arrrgghhh!
Tiba-tiba badanku terhempas ke depan karena tersandung. Entah apa yang menyandungku, yang jelas aku merasakan ada cairan yang keluar dari lututku. Namun, bukan saatnya memikirkan itu. Aku berusaha untuk berdiri, sampai akhirnya suara tangisan wanita terdengar tidak jauh dari posisiku. Dengan cepat aku memutar arah tujuanku dan mencari darimana asal suara itu.
"Tolong aku...tolong aku..."
Dengan deru napas yang tak teratur aku menghentikan langkahku. Melihat sosok perempuan yang duduk dengan rapuh sembari menunduk dan merangkul tubuhnya. Aku merasa lega sekaligus bersyukur. Akhirnya aku menemukanmu.
"Min Hana!" Teriakku.
Sontak dia mengangkat kepalanya dan matanya membulat setelah melihatku. Dengan sisa tenaga, aku berlari mendekati posisinya.
"Ji-Jimin Oppa?! Bagaimana kau bisa-"
Tanpa aba-aba aku langsung meraih tubuhnya kemudian menariknya ke dalam pelukanku. "Syukurlah, kau tidak apa-apa!" Aku memeluknya erat.
"Oppa, kenapa kau ada disini?!"
"Tentu saja aku mencemaskanmu!" Balasku.
"Eoh?! Oppa ani Jimin Sunbae, kau tahu, kan tidak sepantasnya kau mengkhawatirkanku. Kau lupa? Kita sudah tidak ada hubungan lagi sejak 3 pekan yang lalu. Aku tidak ingin membuat Sakura Eonnie salah paham-"
"Bisakah kau hentikan itu? Aku tidak memiliki perasaan apapun dengan Sakura Noona. Tidak lagi," aku menatapnya dengan serius.
Namun, dia terlihat tidak percaya dengan ucapanku. Aku menarik napas kemudian kembali melanjutkan ucapanku, "Aku memang sempat menyukainya, tetapi perasaan itu sudah hilang setelah aku mengenalmu. Selama kau tidak ada, aku merasa kehilangan dan itu membuatku sadar bahwa perasaanku pada noona hanya sebatas-"
"Apa maksudmu? Kau bahkan sempat mabuk karenanya. Dan sekalipun kau tidak menyukainya, kau sudah menolakku," Jelas Hana.
Kata-katanya berhasil membuatku terdiam sejenak.
"Ayolah, sebaiknya kita pulang. Kau tahu arah jalan pulang, kan, Jimin Sunbae? Sebaiknya kau memimpin." Hana berjalan melewatiku begitu saja.
Kalimatnya terdengar biasa saja, tetapi kenapa aku merasa ada sebuah kesedihan dalam ucapannya. Selain itu, dia sudah tidak memanggilku dengan sebutan 'Oppa' lagi. Itu membuat dadaku perih.
Benar, ini memang salahku. Wajar jika Hana bersikap seperti itu, karena aku sudah menolaknya. Namun, aku tidak bisa menyerah. Aku tidak ingin kehilangannya lagi.
"Bisakah kau mendengarkanku dahulu?" Aku menahan pergelangan tangannya.
Tanpa membalas ucapanku, Hana berbalik menghadapku. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya dari jarak sedekat ini. Meskipun tak tersenyum, dia tetap tidak pernah gagal membuat jantungku berdetak kencang.
"Bisakah aku meminta kesempatan sekali lagi untuk membahagiakanmu?" Mata kami saling bertemu. Tidak lama, Hana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can't you be mine? (COMPLETED)
أدب الهواةPernahkah kalian menyukai kakak kelas diam-diam? Jika iya, pasti yang bisa kalian lakukan hanyalah memandanginya dari jauh, begitupun dengan Min Hana. Seorang siswi yang terobsesi dengan kakak kelas, tetapi perasaan yang ia miliki tidak pernah dike...
