"Jeon Jimin! Jeon Jimin! Fighting fighting Jeon Jimin wooo!!" Sorakan penggemar Jimin terdengar begitu kencang di lapangan.
Dengan penuh semangat mereka berteriak dan membuka slogan buatan mereka selebar mungkin. Tidak terlalu jelas apa tulisannya, tapi aku yakin semuanya tertuju pada Jimin. Aku tidak asal menebak, karena itu nampak jelas dari tatapan mereka yang fokus melihat Jimin dan suara lantang yang terus-menerus meneriakan nama Jimin.
Ini adalah hal biasa bagi para siswi untuk berkumpul di lapangan ketika ada pertandingan klub futsal. Namun, setelah kepindahan Jimin ke SMA ini, ditambah bergabungnya ia di klub futsal membuat semakin banyak jumlah penonton, terutama penonton wanita.
Oh iya, apa aku belum memberitahu kalau Jimin sampai sekarang masih aktif di ekstrakurikuler? Eskul yang diikuti Jimin sampai sekarang adalah futsal.
Dia tidak berubah. Ini sama seperti 6 tahun yang lalu. Jimin yang bermain dengan serius. Sorakan dan kekaguman dari para wanita yang menontonnya. Serta aku, yang sampai sekarang hanya bisa menontonnya di kursi belakang.
Sama sekali bukan hal yang baru untukku. Aku sudah terbiasa dengan kepopuleran Jimin di kalangan siswi lainnya. Mungkin aku memang memiliki kekurangan diantara siswi-siswi yang lain. Tapi, saat ini aku memiliki satu keunggulan dari yang lainnya, karena sekarang Jimin adalah milikku.
"Apa kau tidak merasa terganggu dengan suara anak perempuan sebanyak ini?" Tanya Hayoung.
"Tidak. Bukankah ini hal yang biasa bagiku? Ini bukan suatu masalah." Aku tetap memfokuskan pandangan pada Jimin yang masih menggiring bola.
"Nee, aku kagum denganmu. Apalagi dengannya, sepertinya dia tidak pernah merasa terganggu dengan ini semua." Hayoung ikut melempar pandangan ke arah Jimin.
"Ah iya! Harus aku apakan slogan ini?" Hayoung menunjukkan slogan yang bertuliskan 'Uri Jongkookie Fighting!!!'
"Omo! Jungkook benar-benar menulis ini sendiri?"
Hayoung mendengus kasar sambil menunjukkan tatapan matanya yang sipit dan menyeramkan. "Yang benar saja! Ini tulisanku. Asal kau tahu, Hana, semalam dia berkali-kali menelpon dan minta dibuatkan slogan ini. Terus dia memaksaku untuk mengibarkannya saat pertandingan. Memang bocah itu seenaknya saja padaku!" Gerutu Hayoung.
Aku tertawa dengan jawaban Hayoung. Ulah Jungkook ini memang benar-benar, ya. Mentang-mentang Hayoung pintar lettering, dia memanfatkannya untuk dibuatkan slogan.
"Bagaimana lagi, dia anggota baru di klub ini jadi, belum begitu banyak yang mengenalnya. Apalagi anak itu memang tidak ramah dengan perempuan lainnya, bagaimana dia bisa terkenal kalo sifatnya dingin begitu?" Ujarku sambil melempar pandangan pada Jungkook yang sedang bermain.
"Nah, maka dari itu. Kau yang mengibarkannya. Berkat Jungkook kau mendapatkan alibi untuk menonton pertandingan ini." Hayung memberikan slogannya padaku.
Memang benar kata Hayoung, bergabungnya Jungkook di klub ini memberikanku manfaat. Aku bisa melihat Jimin ketika bertanding dan aku memiliki alibi kalau aku disini karena mendukung sahabatku. Jadi, aku dapat menyembunyikan hubungan ini dari siswa lainnya, sesuai permintaan Jimin.
Namun, keinginan Jungkook untuk bergabung bukan semata-mata untuk memberikanku keuntungan. Karena klub klasik yang diikutinya sudah lama kekurangan anggota, akhirnya klub itu dibubarkan. Kemudian Jungkook dengan pilihannya mendaftar ke klub futsal ini, katanya, sih karena dia sudah bosan ikut klub yang hanya duduk-duduk saja, kali ini dia ingin ikut klub yang banyak bergerak.
"Hana, Jimin melihatmu!" Bisik Hayoung.
Mataku membulat ketika mendengar ucapan Hayoung.
Dengan cepat aku langsung mencari dimana Jimin berada. Ternyata benar, Jimin melihatku setelah dia berhasil mencetak gol terakhir. Tatapannya tidak lebih dari 10 detik tapi itu sudah cukup membuat jantungku berpacu dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can't you be mine? (COMPLETED)
FanfictionPernahkah kalian menyukai kakak kelas diam-diam? Jika iya, pasti yang bisa kalian lakukan hanyalah memandanginya dari jauh, begitupun dengan Min Hana. Seorang siswi yang terobsesi dengan kakak kelas, tetapi perasaan yang ia miliki tidak pernah dike...
