XIV. Why?

162 42 50
                                        

JUNGKOOK P.O.V

Aku tidak berhenti mencari Jimin. Rasanya aku ingin menghancurkannya separah mungkin. Meskipun itu tidak akan bisa menggantikan rasa sakit yang dirasakan Hana, tetapi setidaknya aku bisa memberikan Jimin pelajaran.

Saat sampai di lorong, langkahku tiba-tiba terhenti. Semua badanku lemas, bahkan aku tidak bisa menggerakan badanku. Semua atensiku terfokuskan pada Jimin yang sedang mencium Hana.

Jimin benar-benar keterlaluan.

~

Aku mendaratkan pukulan untuk kedua kalinya pada pipi Jimin hingga membuatnya kembali tersungkur. Melihat ekspresinya yang masih belum merasa bersalah rasanya aku ingin menghabisinya sekarang juga. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pertandingan bodoh itu. Sekarang yang ingin kulakukan hanyalah memberi pelajaran pada pria ini.

"Ya Saekkia! Apa semua pukulanku ini masih belum cukup untukmu? Bahkan aku bisa menghabisimu sekarang juga!" Aku menarik kerah Jimin.

Jimin hanya tertawa mendengar ucapanku. "Ya saekkia, apa kau marah karena melihatku menciumnya? Atau justru kau marah karena baru mengetahui kalau aku sama sekali tidak mencintai-"

BUK!

Tanpa sadar tanganku kembali mendaratkan pukulan pada Jimin. Cairan berwarna merah terus keluar dari mulutnya.

"Jangan berani menyebut namanya lagi. Kau tidak berhak untuk menjalin hubungan dengannya!" Aku memberinya tatapan mengancam.

Dia mendengus kasar sembari membalas tatapanku.

"Sadarlah pengecut! Jika kau tidak terima kalau noonamu berpacaran dengan hyungku, seharusnya kau salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa merelakan noonamu untuk bahagia. Ini pilihannya, dia berhak-"

BUK!

Rasa nyeri menyelimuti pipi kananku yang terkena pukulan dari Jimin. Setelah aku berbicara mengenai Sakura Noona dia tanpa ragu membalas pukulanku, bahkan dari iris matanya terlihat jelas kalau dia tidak terima dengan ucapanku.

"Ya! Urus saja urusanmu! Jangan pernah kau berani memberiku ceramah mengenai Sakura Noona. Asal kau tahu, aku juga bisa memukulmu dengan lebih keras!" Ujarnya kemudian melangkah pergi meninggalkanku yang masih tersungkur di lantai.

Sekilas aku menyesal telah membuat wajah Jimin penuh dengan luka. Apalagi melihat cara berjalannya yang nampak lemas sembari memegang tembok untuk memudahkannya tetap berdiri. Namun, satu pukulan darinya dalam keadaan seperti itu memang bisa dibilang tidak main-main. Sudut bibirku sedari tadi tidak berhenti mengeluarkan darah. Aku mengacak rambutku frustasi. Entah apa yang harus kukatakan pada Hana jika dia menanyakan mengapa aku dan Jimin sama-sama terluka.

HANA P.O.V

Pertandingan bola sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Namun, sebagian dari diriku tetap menolak untuk pergi kesana. Aku masih berada disini, di salah satu bilik toilet sambil menyentuh bibirku.

Pikiranku masih mengingat kejadian tadi. Cara Jimin menyapu bibirku dengan lembut dan aku merasakan gairah darinya. Aku mengingat bagaimana dia menahanku untuk tidak melepaskan ciuman sepihak itu. Tentu saja aku sudah berusaha menolak, hanya saja dia tidak mengijinkanku.

Jujur aku sangat terkejut. Tak kusangka Jimin bisa seperti itu. Tak bisa kupingkiri kalau hatiku merasa senang akan apa yang telah terjadi, tetapi otakku menolak keras karena rasanya ini aneh. Ayolah, jadi aku harus mengikuti yang mana? Sedari tadi aku merasa frustasi.

"Akh, aku menyesal telah membuat slogan sebesar itu hanya untuk mendukungnya."

"Hahaha, siapa yang mengira kalau ternyata dia tidak turun ke lapangan, bahkan sepertinya dia tidak terlihat ada di lapangan." Suara dua wanita di wastafel berhasil membuatku penasaran. Agar dapat mendengar lebih jelas, aku mendekatkan kepalaku di pintu.

"Padahal banyak sekali yang sudah menunggunya. Menurutmu Jimin Oppa ada dimana?"

"Entahlah, yang jelas dari raut wajah pelatih tadi, pasti Jimin Oppa menghilang begitu saja."

Satu nama yang dibicarakan mereka langsung membuatku tersentak. Dengan cepat aku membuka pintu bilik toiletku dan berlari meninggalkan toilet. Aku tidak peduli dengan eksistensi dua wanita tadi yang terlihat terkejut. Kakiku tetap berlari sembari aku berpikir dimana kira-kira Jimin berada.

Setelah mendengar ucapan wanita tadi, berarti aku tidak perlu mencarinya di lapangan karena Jimin tidak ada disana. Aku mengingat perkataan salah satu dari mereka kalau Jimin sepertinya menghilang begitu saja. Alih-alih pergi ke tempat ramai, aku memilih pergi ke tempat sepi yang tidak banyak orang, atap.

Syukurlah, dugaanku benar. Kudapati Jimin sedang berdiri memperhatikan langit dengan satu tangan di saku celananya. Dia masih berbalut seragamnya.

Langsung saja aku mendekatinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langsung saja aku mendekatinya. Tepat sebelum jarak kami dekat, suara Jimin berhasil membuatku berhenti.

"Kau berhasil menemukanku, Hana." Jimin masih membelakangiku tanpa menoleh sedikitpun.

"Bagaimana kau tahu kalau ini aku?" Tanyaku penasaran.

"Siapa lagi yang bisa menemukanku dengan cepat selain dirimu?"

Aku tertawa hambar mendengarnya.

"Kenapa mencariku? Apa kau butuh penjelasan mengenai kejadian tadi?" Aku tertegun dengan pertanyaan Jimin. 

"Tidak! Bukan itu aku-"

"Maafkan aku."

Tidak, jangan katakan itu. Aku tidak ingin mendengarnya. Tolong, Jimin.

"Aku hanya terbawa suasana."

Sakit. Aku tidak menyangka Jimin mengatakannya. Aku akan bohong jika aku tidak tahu akan hal ini. Berkali-kali otakku menolak untuk menerima kenyataan Jimin yang tiba-tiba menciumku. Tak kusangka kalau lagi-lagi logikaku benar.

Air mataku menetes, aku sudah tidak kuat untuk menahannya. Melihat Jimin yang masih memunggungiku membuatku kembali merasa tak dianggap. Aku tidak berharap, tetapi disini hanya ada kami berdua dan kurasa suara tangisanku terdengar jelas. Namun Jimin masih tidak menghiraukanku. Apakah baginya satu ciuman itu sama sekali tidak berharga? 

Aku menghapus air mataku sebelum akhirnya pergi meninggalkan Jimin. Aku tidak berharap ia datang mengejarku, aku hanya ingin pulang dan menenggelamkan diriku di kasur.

~

"Hana?" Panggilan suara familiar itu membuatku harus berbalik.

"Ah, Oppa, Eonnie ada apa?" Aku memaksa senyuman yang susah payah kubuat.

"Kenapa wajahmu merah begitu?" Tanya Sakura Eonnie.

"Eoh? Ti-tidak apa-apa. Kenapa kalian ada disini?" Aku berusaha mengalihkan topik.

"Kami mencari adik Sakura. Seharusnya dia ikut bermain futsal, tapi sejak babak pertama dia sama sekali belum terlihat."

'Sakura Eonnie punya adik yang sekolah disini?'

"Mungkin kau tidak mengenalnya karena dia kakak kelasmu, tapi dia cukup populer, loh. Siapa namanya tadi, Sakura?"

"Jeon Jimin."

Eoh?

.
.
.

Halo! Bagaimana bab kali ini? Apa aku berhasil membuat kalian ikut sesak kayak Hana? Dalam satu bab Hana ngerasain sakit bertubi-tubi kasian ya😭 Tambah kesini Jimin tambah jahat ya huhu😥 Ayo jangan lupa like dan commentnya biar aku semangat buat lanjutinnya💜 Ditunggu updatean berikutnya, ya! 💜

Can't you be mine? (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang