Olimpiade olahraga telah berakhir. Waktu yang sudah lama kutunggu, hari dimana aku bisa melihatnya bermain di tahun terakhirnya sudah selesai. Namun, ada yang masih mengganjal dalam pikiranku. Sakura Eonnie yang sudah kuanggap sebagai eonnieku adalah kakak tiri Jimin sekaligus wanita yang dicintai Jimin. Jika dipikirkan sekali lagi, semua pendekatan Jimin padaku memang terasa aneh. Tak kusangka aku sudah jatuh kedalam hubungan bodoh ini.
Aku menenggelamkan diriku di kasur. Suara Jimin masih terngiang di pikiranku. "Maaf, aku terbawa suasana."
"Akh menyebalkan! Kalau terbawa suasana seharusnya kau mengontrolnya bukan menciumku, dasar bodoh!" Aku melempar bantalku, kesal. Air mata kembali mengalir di pipiku. Ditambah suara hujan diluar yang menemani malam senduku. "Aku harus bagaimana? Appa jadi ikut menangis denganku diatas sana."
~
Aku membaringkan kepalaku diatas meja. Ini memang masih terlalu pagi untuk bermalas-malasan. Tetapi aku memang sedang tidak mood untuk berangkat sekolah.
"Hana, apa kau sudah mengambil buku paket Kimia?" Suara Oh Soo berhasil memaksaku untuk mengangkat kepala.
"Hah? Kenapa kau bertanya padaku?"
"Ya! Hari ini adalah jadwal piketmu!" Ucap Hayoung yang entah sejak kapan sudah duduk di depanku.
"Cepatlah, Hana! Kau tahu kan kalau Pak Ryuk selalu tepat waktu di jam pelajarannya?" Itu Oh Soo yang kembali memaksaku.
"Iya, mianhae aku lupa."
"Sebaiknya kau ajak Jungkook, kemarin dia sudah tidak piket."
"Baiklah, Oh Soo. Oh, iya! Apa kau melihat Jungkook? Tasnya sudah ada di kelas tapi dia tidak disini." Aku melirik ke tempat duduk Jungkook.
"Tadi aku melihatnya tertidur di UKS."
"Di UKS? Sepagi ini?" Tanyaku memastikan kemudian dibalas anggukan oleh Oh Soo.
Ruang UKS masih sangat sepi. Bahkan, guru perawat belum ada. Aku melangkahkan kakiku sambil membuka setiap tirai penutup untuk mencari kasur mana yang menjadi korban Jungkook tidur hari ini.
"Jungkook! Ryeo Jungkook kau dima- ah disini rupanya!" Aku membuang napas lega setelah menemukan sosok Jungkook yang masih tertidur dengan pulas. Pasti dia lelah setelah pertandingan kemarin.
Tunggu sebentar.
Bukankah kemarin dia juga tidak ada di lapangan? Hayoung bilang padaku kalau dia tidak melihat Jimin ataupun Jungkook disana. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Ya, Jungkook! Bangunlah! Kita harus mengambil buku Kimia sebelum Pak Ryuk datang!" Aku menggerakkan tubuhnya, tetapi tidak ada respon apapun darinya. Haish, rasanya daritadi aku bicara sendiri.
"Baiklah akan kuambil sendiri," Aku membalikkan badanku hendak meninggalkan Jungkook, sebelum akhirnya salah satu tangannya menahanku untuk pergi. Spontan aku mengarahkan pandanganku padanya. "Temani aku sebentar," ujar Jungkook masih dengan kedua matanya yang tertutup.
Aku mendaratkan bokongku di kasur samping Jungkook. Tidak, kami tidak berada dalam kasur yang sama, lebih tepatnya aku berada di kasur sebelahnya. Posisiku sekarang saja sudah membuat jantungku berdetak dengan kencang. Maksudku, disini hanya ada kami berdua dan ini pertama kalinya aku melihat Jungkook tidur selain saat jam pelajaran.
Tubuhnya yang kekar, tangannya yang besar, kemudian bulu matanya yang tebal. Ah, hampir saja aku jatuh cinta pada makhluk menyebalkan ini. Memang tidak bisa kupungkiri kalau wajah Jungkook dan proporsi tubuhnya memang sempurna. Kalau tidak ada Jimin mungkinkah aku akan jatuh cinta padanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Can't you be mine? (COMPLETED)
FanfictionPernahkah kalian menyukai kakak kelas diam-diam? Jika iya, pasti yang bisa kalian lakukan hanyalah memandanginya dari jauh, begitupun dengan Min Hana. Seorang siswi yang terobsesi dengan kakak kelas, tetapi perasaan yang ia miliki tidak pernah dike...
