4.0 | Dengarkan Bunda!

224 176 480
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

"Gue juga suka!"

Icah tersentak mendengar suara tersebut. Ia mengelus dada lalu menoleh, melihat siapa yang berani mengganggunya menonton.

"Ini salah satu film favorit gue."

Icah terdiam melihat siapa orang tersebut. Sedangkan yang dilihat justru menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Icah menimbang-nimbang, pengganggu ini, harus segera diusir!

"Eh, gue ganggu gak?"

"Y-ya ... nggaklah. Hahaha." Icah tertawa canggung. Ia tidak bisa mengusirnya!

"Lo tau banget ya, tempat yang cocok untuk nonton. Di sini emang nyaman banget, cuman 1% dari seluruh penghuni sekolah yang tau dan jadiin tempat ini sebagai tempat favorit," jelas orang itu.

"Saya sangat tidak peduli, Wahai Tuan! Pergilah cepat!" teriak Icah dalam hati. Tangannya terpaksa menekan tombol pause dan melepas earphone.

"Oh gitu." Icah tersenyum canggung. "Berarti salah satunya Kak Hadza?"

"Iya, yang nemuin, sih, si Tama," ucap Hadza. Icah masih mempertahankan senyumnya, sedangkan dalam hati terus menggerutu.

"Siapa juga si Tama, gak kenal. Untung kakak kelas, lumayan ganteng pula. Hah!"

"Oh iya, film yang lo tonton itu film Mariposa, kan? Lo wajib tonton sampai akhir. Ceritanya seru, recomended!"

"Kak Hadza ... suka nonton film romantis?" tanya Icah hati-hati.

Hadza mengangguk, "iya. Aneh, ya?"

Hadza tersenyum simpul. Ia sudah biasa diejek sana-sini karena suka genre romance. Padahal gak ada peraturan genre romance hanya untuk perempuan. Namun lingkungannya seperti membuat peraturan tak tertulis tentang itu.

"Nggak, kok. Gak aneh, tapi langka aja ... baru pertama kali ketemu cowok yang suka sama film romantis. Kebanyakan sukanya action. Bahkan film romatis sering dikatain, romantis menye-menyelah, buncinlah, apalah, itulah, inilah. Padahal film romantis juga banyak pelajaran yang bisa diambil dan gak semua cuman ceritain kisah asmara aja," tutur Icah jujur. "Meskipun, film action juga banyak yang seru, sih."

Hadza tertegun mendengar jawaban gadis di depannya.

"Aslinya lumayan cerewet."

"Eh, kenapa diem Kak? Aku gak bermaksud apa-apa, kok." Icah gelagapan menghadapi Hadza yang membisu. Apa ia salah bicara?

"Nggak, kok. Oh, lo ada rekomendasi film gak? Gak harus romantis, gue penyuka all genre, kok."

"Sama, Kak! Aku juga suka all genre. Emm, ada banyak film recomended, yang pertama ...."

Icah menyebutkan beberapa judul film. Dengan cekatan, Hadza mencatatnya di memo HP. Pembicaraan tak berhenti sampai di situ. Mereka kembali larut dalam percakapan dengan satu topik, film. Saling menceritakan film favorit tanpa rasa canggung. Tak terasa Icah dan Hadza mengobrol sampai bel berbunyi kembali, waktu istirahat telah habis. Hadza melambai lalu pergi menuju kelasnya.

Hide N SeekTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang