Ketika dunia mengajakmu bermain, dan kamu dituntut untuk mencari.
Pencarian yang justru membawa pilu.
Apakah kamu akan ikut bermain?
Sayangnya, kau tak diperbolehkan menolak.
_____
Cepat bersembunyi, dunia sedang mencari pemain baru.
•••
Start: 01/0...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Original pict by: pinterest
•••
Seorang laki-laki menyerahkan tiga lembar kertas berisi sketsa gaun yang indah. Wanita di hadapan mengambil dan mengamatinya.
"Bagus, Hadza. Kamu berkembang dengan cepat," puji seorang wanita dengan senyum tipis.
Hadza yang menyadari itu tak bereaksi sedikit pun. Ia tau betul, senyuman yang ditujukan padanya dari wanita itu sangat langka. Apa ini pertama kalinya? Ah, atau kedua kalinya? Entahlah. Meski begitu tak ada rasa senang atau bangga dalam diri. Sketsa itu bukan miliknya, jadi pujian dan senyuman itu juga bukan untuknya.
Kinan menyimpan kembali sketsa tersebut. Ia cukup senang melihat perkembangan pesat anaknya. Mata menangkap sosok di hadapan hanya menunduk tak bereaksi apapun. Haruskah ia tanyakan alasan? Memangnya ia akan memberi tahu? Sudahlah, tidak ada gunanya aku bertanya.
"Ini."
Kinan menyerahkan selembar kertas penuh warna. Hadza mendongak dan mengambilnya. Hanya melihat judulnya saja, Hadza mengerti apa yang diinginkan Kinan. Keinginan yang tak akan pernah ia kabulkan. Bukan tidak mau, tapi tidak bisa.
"Ikutlah," titahnya tanpa memberi ruang untuk Hadza berkomentar. "Mama akan jadi guest star di babak final dan Mama akan bersikap profesional. Jadi, gambarlah dengan bagus. Jangan sampai ada kesalahan. Acaranya memang tidak besar, tapi ini acara bergengsi."
Hadza terdiam sambil terus memegang poster lomba desain baju. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut.
"Kamu boleh pergi," ucap Kinan yang sebenarnya adalah bentuk pengusiran. Namun, Hadza tetap diam tak bergeming. Kinan menatap heran. "Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Hadza menatap kedua bola mata Kinan. Mama, wanita yang sangat ia sayangi. Namun kini rasanya ia kehilangan rasa peduli. Tak lagi berusaha mendapatkan kasih sayangnya.
"Memangnya aku akan di dengar?"
Nada bicara seperti itu sangat asing di telinga Kinan. Ini pertama kalinya sang anak membalas dengan ketus. Matanya terus menatap punggung Hadza yang lenyap ketika pintu tertutup. Kinan terdiam beberapa saat. Sebelum ketukan pintu menyadarkannya kembali.
"Masuk."
Seorang wanita masuk sembari menenteng kertas dan beberapa kain. Ia meletakkannya di meja Kinan.
"Ini sketsa dan jahitan anak itu, Kinan."
Kinan tersenyum simpul menatap hasil kerja anak itu. "Dia sangat berbakat, tapi masih belum bisa menyaingi Hadza."
"Justru itu, kemampuannya hampir menyamai Hadza. Setiap harinya anak itu selalu mengalami peningkatan. Peningkatan yang sama persis dengan Hadza. Bukankah ini sedikit mencurigakan?" jelas wanita itu setelah duduk di kursi.