Rencana takdir yang mempertemukan.

258 34 0
                                        

"Cukup ingat, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan.. sebaliknya."

.
.
.

#rumah/07.10/

Kathayla berlari menuruni tangga dan menuju meja makan. Ia sangat bersemangat untuk menemui Papanya yang memang dua minggu terakhir ini jarang di rumah karena pekerjaannya.

"Pelan-pelan Ay, jangan lari." Ucap Valdo, sang Papa saat melihat anak bungsunya berlari dari tangga.

"Hehehe gak kok Pa.. Pagi Mama." Sapa Kathayla kemudian mengecup pipi sang Mama, Kathayla menyapa Mamanya terlebih dahulu karena jaraknya lebih dekat ke Mamanya dari pada ke Papanya.

"Pagi sayang.. tumben jam segini udah turun?" Balas Mamanya yang di sambung dengan pertanyaan.

"Biar ketemu Papa, pagiii Papa." Jawab Kathayla sekaligus menyapa Papanya. Kemudian ia memeluk Papanya.

"Pagi sayang.." Balas Papanya yang kemudian mencium pucuk kepala dan memeluk Kathayla.

"Duhh.. kangen banget nih ke Papa? Sampai meluknya sekenceng ini?" Tanya Papa.

"Iya lahhh, ketemunya cuma malem doang.. kan jadi cuma bentar." Ucap Kathayla sembari membuat wajah cemberut.

"Hahaha, iya-iya maaf ya.. entar kalau Papa udah gak sibuk, Papa pasti luangin waktu buat kalian." Jawab Papa dengan menyesal.

"Iyaa gapapa Pa, yang penting Papa jaga kesehatan ya.." Pinta Kathayla kepada Papanya.

"Oh tenang aja, tiap jam makan pasti Mama kirim masakan buat Papa.. jadi aman kan?" Jelas Papa dengan menaikkan satu alisnya.

"Emang Mama ter the best!" Seru Kathayla dengan mengacungkan dua ibu jari tangannya.

"Oh ya jelas!" Ucap sang Mama dengan bangga.

"Hahaha kumat pede nya tuh." Ejek Papa yang ditanggapi dengan senyuman dari Kathayla.

"Oh iya, Papa libur kan sekarang?" Tanya Kathayla dengan semangat.

Sang Papa membuang nafas pelan, mendengar pertanyaan putrinya membuatnya merasa bersalah, ia terlalu di sibukkan dengan masalah kantor saat ini yang sudah terjadi beberapa minggu yang lalu. Tapi, ia tidak mau jika anak-anaknya mengetahui masalah ini.. cukup ia sendiri yang mengatasinya, tentunya dengan dukungan dari istrinya.

Menyadari perubahan wajah suaminya, Afenia segera memberi pengertian kepada Kathayla.

"Sayang.. Papa harus kerja hari ini, segaknya kan Papa berangkatnya gak sepagi biasanya. Jadi, Ayla masih sempet ketemu Papa." Jelas sang Mama dengan lembut.

"Iya Ma, tenang aja.. Ayla ngerti kok, Ayla cuma tanya aja." Jawab Kathayla dengan senyum yang tulus.

"Maaf ya sayang.." Ucap sang Papa sembari mengusap kepala Kathayla.

Kathayla tersenyum kemudian mengangguk. Kemudian, ia berdiri dari kursinya.

"Papa lanjutin dulu sarapannya, pasti sepuluh menit lagi Papa berangkat kan?" Tebak Kathayla.

The Untold LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang