Canda Sayang.

182 26 0
                                        

"Ikuti saja alurnya, nikmati prosesnya. Karena Tuhan tau kapan kita harus bahagia."
.
.
.

Setelah selesai makan, mereka bersantai di tepi kolam renang. Lebih tepatnya Kathayla yang bersantai, sedangkan Verralya dan Jovano berenang dan mengadakan lomba dadakan. Kathayla duduk di tepi kolam sembari mulai menelfon Arsen.

(Call)
Kak Arsen

"Halo? Kenapa Kak?", ucap Kathayla setelah tersambung dengan Arsen.

"Gimana? Masih kepikiran?", tanya Arsen di sebrang sana. Nadanya terdengar khawatir.

"Udah gak Kak, ngapain juga gue pikirin. Gak bakal langsung ketemu jawabannya." Kathayla memang sudah malas memikirkan hal ini, kepalanya sudah terlalu pusing memikirkan banyak tugas sekolah.

"Masih pusing gak? Gue bawain obat ya?", hati Kathayla berdegup kencang mendengar ucapan Arsen yang terasa sangat perhatian.

"Eh, gausah Kak.. gue gak pusing kok, beneran." Ujar Kathayla meyakinkan.

"Yaudah kalau gitu, istirahat yang cukup Ay." Kata Arsen sangat lembut.

"Lo nyuruh gue telfon balik cuma buat ngomong gini doang? Serius?", tanya Kathayla dengan nada kecewanya. Ia tidak rela bila percakapannya dengan Arsen berakhir sekarang. Lagi pula, ia hanya duduk sendirian melihat saudaranya sedang asik berenang.

Arsen terkekeh, "kenapa? Masih pengen ngobrol sama gue?" Ujarnya.

"Enggak anjirr! Ya aneh aja, lo nyuruh telfon cuma nanya gitu doang.. padahal lo bisa tanya ke Bang Jo, Kak! Buang-buang kuota gue, tau gak?." Sedari awal Kathayla menepuk dahinya karena ia ketahuan ingin berlama-lama dengan Arsen, tapi untung saja skill nya mengatur suara sangat bagus sehingga terdengar biasa saja.

"Yakin? Gue jadi pengen liat ekspresi muka lo deh." Goda Arsen.

"Dih, bilang aja lo kangen gue." Sahut Kathayla dengan PD nya.

Kathayla dan Arsen memang semakin dekat, dan bahkan mereka saling memberi kabar satu sama lain jika akan pergi ke suatu tempat ataupun ketika akan melakukan sesuatu. Seperti orang pacaran, tapi mereka belum.

"Emang iya." Jawab Arsen enteng. Seketika Kathayla merasakan pipinya memanas. Segera ia membalikkan badan agar saudaranya tidak melihat wajahnya dan berteriak mempermalukannya.

"Ay? Lo masih di sana kan?", tanya Arsen saat tidak mendengar suara Kathayla.

"Iya, kenapa? Udah lah matiin aja." Jawab Kathayla sedikit kesal, karena membuat wajahnya merah padam.

"Gue ke rumah lo ya?" Izin Arsen.

"Gue mau keluar sama Bang Jo, Kak." Jawab Kathayla.

"Kemana?", tanya Arsen.

"Ke toko buku." Jawab Kathayla singkat.

"Ngapain?", tanya Arsen. Kathayla mendengus sebal karena rentetan pertanyaan Arsen.

"Ngerampok Bang Jo." Jawabnya jujur.

"Heh?", pekik Arsen terkejut. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak setelah mengerti maksud Kathayla. Kathayla ikut terkekeh pelan mendengar tawa menggelegar dari Arsen.

"Yaudah, have fun ya.. rampok sampai duitnya habis Ay, beli semua novelnya." Ujar Arsen sembari terkekeh.

"Oh sudah pasti, kali ini gue bakal bikin dompetnya kering." Jawab Kathayla dengan gamblang.

The Untold LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang