Kamu punya aku.

181 18 2
                                        

"Jangan terlalu dipikirkan agar tidak tertekan. Jalani dan nikmati keadaan sekarang, setidaknya akan menjadi kenangan ketika kerinduan datang."
.
.
.
Happy Reading Readerskuu ❤️

"MAMI!!!" Pekik Kathayla dan Verralya heboh segera berlari menghampiri Tiana, ibu dari Alfrey. Dengan senang hati ibu Alfrey yang di panggil 'Mami' itu segera membuka tangannya lebar-lebar.

"Anak-anak cantiknya Mami." Ujar Mami memeluk kedua putri sahabatnya yang sudah ia anggap seperti anak-anaknya sendiri dengan wajah sangat bahagia.

"Kangen Mami." Adu Kathayla setelah menguraikan pelukannya.

"Gue enggak, soalnya udah sering nemenin Kak Rey ke kantor Mami." Ledek Verralya dengan wajah menyebalkan untuk Kathayla.

"Mami kok ga pernah main ke rumah sih? Udah gak kangen Ayla lagi?" Omel Kathayla dengan wajah sedihnya.

"Kangen dongg sayang.. Mami lagi sibuk banget, Mami cepet-cepet nyelesaiin kerjaan Mami biar bisa ketemu sepuasnya sama kalian." Jawab Mami dengan mengelus rambut Kathayla. Jika dia yang lebih dulu menemukan Kathayla, bisa dipastikan gadis cantik ini akan menjadi putrinya.

"Ekhemm." Gini ya kalau udah ketemu anak-anak ceweknya. Sindir Mama.

"Iya, gue ga lupa sama lo! Apa kabar ibu Afenia?" Tanya Mami dengan jiwa gaulnya yang auto muncul saat bertemu sahabatnya ini.

"Baik tante Tiana." Jawab Mama usil sembari memeluk sahabatnya ini.

Mendengar jawaban sahabatnya ini membuatnya kesal dan memukul punggungnya pelan sambil berkata, "ish! Lo pikir gue tante-tante?!"

"Kyknya lo kudu sadar umur deh." Ujar Mama dengan wajah menyebalkan.

"Diem lo! Gue mau nyapa si botak dulu." Si botak yang di maksud adalah Papa, dulu saat pertama kali bertemu dengan Mami, Papa habis kena razia rambut di sekolahnya hingga di gundul dan saat ke sekolah Mama untuk 'ngapelin', malah tudung hoodienya terbuka karena angin dan disaksikan langsung oleh Mama dan Mami.

"Tak! Pakabar?" Sapa Mami sedikit berjiwa preman.

"Ngomong yang bener Na! Gue santet lo lama-lama." Sahut Papa dengan kesal.

"Ngawur lo! Gue belum liat anak-anak gue nikah!" Sahut Mami.

"Yaudah yang bener." Ujar Papa.

"Apa kabar Bapak Valdo Bernardo yang terhormat?" Ujar Mami dengan sangat formal.

"Baik Buk Ti." Jawab Papa asal membuat Mami berdecak.

"Lo kata gue tukang rujak!" Semprot Mami dengan menjok lengan Papa kuat-kuat.

"MAMI GUE!!" Pekik Jovano saat keluar dari rumah sembari membawa dua piring dan melihat Mami di sana.

Wajah masam Mami berubah cerah melihat anak laki-lakinya yang sering ia anggap kembaran putra kandungnya karena umur mereka hanya selisih dua minggu, dan Jovano yang lebih dulu lahir.

"YA AMPUN! ANAK LAKIK PERTAMA GUE!" Tidak heran melihat perlakuan yang cukup berbeda antara anak kandungnya dan anak sahabatnya ini. Karena anak kandungnya itu sangat pendiam, sedangkan anak sahabatnya ini memiliki jiwa yang sama dengannya yaitu, jiwa 'lawak'. Alfrey hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang ini.

"Mamiiiii, Jo kangen." Ujarnya setelah meletakkan piring ia segera memeluk Mami sahabatnya ini.

"Mama, Papa suka pilih kasih! Masa, yang salah adek-adek laknatnya Jo, tapi Jo yang di marahin." Jovano mengadu dengan wajah yang sedih yang di buat buat.

The Untold LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang