"Dirimu harus bisa berdamai dengan masa lalu itu. Jadikan itu sebagai pembelajaran, jangan jadikan beban."
.
.
.
~Happy Reading~
Kathayla mengerjapkan matanya, bau obat menyambut kesadarannya. Ia menatap sekeliling dan mendapati ruangan serba putih. Kathayla bangkit dari tidurnya menjadi duduk, ia melihat tempat yang ia duduki adalah brankar. Dahinya mengerut heran.
"Kenapa gua bisa di rumah sakit sih?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Ck! Mana pusing lagi pala gue." Ujarnya sembari menyentuh kepalanya dan memijat pelan.
Ceklek!
Pintu ruangannya terbuka membuat Kathayla terkesiap, ia bernafas lega saat mendapati seorang suster tersenyum ramah.
"Sudah sadar Nona?", Sapa suster itu ramah.
"Kok saya bisa di sini sus? Saya kenapa?" Tanya Kathayla.
"Maaf Nona, utuk masalah itu saya tidak tau. Saya menggantikan shift teman saya, dan tadi dia hanya berpesan ada pasien yang pingsan belum sadar di ruangan VVIP, bisa pulang saat sadar. Tapi jika, masih ada keluhan terpaksa harus di rawat di sini beberapa hari lagi." Ujar Suster itu. Kathayla membelalakkan matanya, ia baru sadar bahwa ruangannya adalah ruangan VVIP.
"Sebentar Sus, siapa yang bawa saya ke sini?" Tanya Kathayla penasaran.
"Wah saya juga kurang tau Nona, yang saya tau biaya administrasi anda sudah di bayar lunas." Jawab suster itu seadanya.
"Terima kasih Sus." Kathayla memutuskan untuk tak bertanya lagi. Toh, dilihatnya suster di hadapannya ini benar-benar tidak tau apa-apa. Mungkin saja hanya orang baik yang benar-benar ingin membantunya.
Kathayla turun dari brankar secara perlahan. Jujur saja tubuhnya masih sedikit lemas, tapi pusing sudah tidak terlalu terasa.
"Mau pulang Nona?" Tanya suster itu seraya membantunya berdiri.
"Iya Sus, terima kasih ya." Ujar Kathayla tersenyum tulus.
"Sama-sama Nona, mau saya bantu sampai ke depan untuk menunggu jemputan keluarga?", Tanya Suster itu menawarkan bantuan.
"Tidak perlu Sus. Saya baik-baik saja." Tolak Kathayla.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati Nona. Saya permisi dulu." Pamit suster itu, Kathayla mengangguk seraya tersenyum.
Kathayla mengambil ponselnya berniat menghubungi keluarganya.
"Shit!" Umpatnya pelan saat mendapati ponselnya mati.
"Lupa lagi gak bawa charger." Ujarnya sembari meletakkan ponselnya kembali kedalam tas.
Kathayla menuju toilet untuk merapikan penampilannya.
•^•
Arsen, Jovano, dan Annasya keluar dari mobil dan menghampiri Alfrey dan Verralya yang berjalan menuju parkiran rumah sakit.
"Gimana?" Tanya Arsen dan Jovano cemas.
"Gak ada juga." Jawab Verralya lesu, matanya berkaca-kaca.
"Kita cari lagi ya, jangan putus asa." Ujar Alfrey sembari memeluk Verralya dari samping untuk menenangkan.
"Kita udah cari hampir ke seluruh rumah sakit yang terdekat. Tapi, sampai detik ini belum juga nemuin Kathayla. Apa jangan-jangan Kathayla beneran di culik?" Ujar Jovano tidak mengisyaratkan ketenangan sama sekali, terlihat cukup frustasi karena sampai saat ini belum menemukan adik bungsunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Untold Love
Teen FictionCintamu tak terbatas untuknya. Lalu bagaimana denganku? Berapa lama lagi kau "butuh waktu"?. ~Kathayla Bernardo _________________ Kathayla Bernardo, gadis SMA yang cantik, cerdas, ramah, dan ceria. Hidup dalam keluarga yang sempurna. Kathayla tidak...
