PART'18

84 14 0
                                        

Hari selasa ini, Abi meminta antar Clara untuk menemaninya memberikan kado untuk Sang Ibu. Mereka akan pergi kesebuah toko perhiasan yang cukup terkenal di kotanya.

Mereka berangkat menggunakan motor kesayangan Abi. Tidak ada tujuan lain selain toko perhiasan.

Karena jaraknya tidak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.

Mereka memilih beberapa rekomendasi dari sang pelayan.

"Sayang ini kayanya cocok deh," ucap Clara pada Abi.

"Tapi yang itu kayanya lebih elegan deh Cla."

"Bener Bi, itu lebih bagus dari ini. Yaudah ambil aja cincin yang itunya ya."

Seperti yang didengar Balqis, Abi pun sama halnya mendengar suara Balqis.

"Qis kamu coba dulu cincinnya. Mamah coba yang buat Husain, karena jari manis Husain Mamah bisa perkirakan," ucap Yuli.

"Baik Mah," jawab Balqis.

'Jadi, kamu benar akan menikah gadis kecil?' batin Abi

"Sayang," panggil Clara namun tak ada sahutan dari Abi.

Clara pun memanggil lagi sampai tiga kali.

"ABI!"

Sontak Abi pun menoleh kearah Clara.

"Eh iya apa?"

"Kamu liatin apa sih? Dipanggil dari tadi gak nyaut-nyaut!"

"Ehh ngga, maaf tadi aku fokus sama motor aku."

Clara tidak memperdulikan perkataan Abi.

Fokus Abi pun buyar saat melihat Balqis dan Yuli keluar dari toko perhiasan tersebut.

'Apakah ini sudah terlambat, mengapa rasanya sakit sekali Tuhan?'

****

H

ari begitu cepBcepBaSenya sekarang kamu minggu lagi pernikahan BaSekarann segera dilaksanakan. Semenjak fitting baju, Balqis dan Husain tidak pernah bertemu sama sekali. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Bahkan untuk sekedar chatting saja mereka tidak melakukannya.

Saat ini Balqis sedang ada dihalaman belakang rumahnya. Menikmati rumah yang mungkin tinggal itungan hari akan ia tinggalakan.

"Eh calon penganten diem bae," ucap Ibra.

"Ehh Aa', ngapain kesini? Tumben banget," jawab Balqis.

"Pengen aja, emang gak boleh ya Aa ngeliat adeknya?"

"Ya boleh sih, tapi tumben aja gitu."

Ibra tak menjawab lagi ucapan Balqis. Ibra kini terdiam beberapa saat.

"Gak kerasa ya, sebentar kamu bakalan jadi istri orang," ucap Ibra dengan lirih.

Balqis menoleh kearah Ibra. "Ihh Aa' kok jadi melow gini? Geuleuh pisan¹."

"Hehe ya gak nyangka aja gitu, anak Mamah sama Bapak kan cuma kita berdua. Nah, Aa' pasti kesepian nanti ditinggal kamu,"

Balqis terdiam sebentar.

"Ninggalin kemana atuh A'? Emang Balqis mau meninggal?" Canda Balqis.

Cinta Dalam DiamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang