"Ternyata benar. Kehilangan sahabat lebih menyesakkan."
****
S
emenjak mendengar percakapan antara Balqis dan Dinda, Abi merasa gelisah dalam hatinya. Pikirannya terus melayang memikirkan gadis tersebut.
Belakangan ini Abi bingung dengan perasaannya sendiri. Menyukai Balqis? Abi tidak menapik hal itu. Tapi mengapa perasaan ini muncul saat Balqis sudah ada yang meminang? Apakah dirinya terlambat? Itu semua selalu menjadi pikiran Abi saat ini.
"Apakah dia menerima pinangan lelaki itu?"
"Sial, harus pada siapa saya mencari informasi tentang perempuan itu?"
Abi terus berbicara pada dirinya sendiri.
Untuk mencari informasi seputar seseorang itu adalah pekerjaan yang cukup sulit. Jika orang lain bisa mencari infomasi seseorang lewat orang suruhannya, maka Abi tidak bisa. Karena ia tidak sekaya itu. Lagi pula ini masalah hatinya. Tidak perlu orang suruhan, ia harus berjuang sendirian.
Abi terus memutar otaknya untuk mencari informasi tentang Balqis.
Seketika wajah Dinda terngiang di kepala nya. Apakah dia harus meminta informasi pada Dinda? Tapi, kenal saja tidak bagaimana mungkin dia bisa mencari tau.
"Apa saya harus mengajak teman perempuannya berbicara empat mata?"
Sial. Hanya gara-gara gadis berbicara tentang lamaran, hampir membuat Abi gila.
Daripada memikirkan Balqis yang tidak ada titik temunya, lebih baik ia pergi ke kantor untuk menenangkan pikirannya.
Abi pun mengambil kunci motornya, lalu ia segera keluar dan pergi menuju kantornya.
****
Hari ini Balqis dan temannya sudah membuat janji. Mereka akan berkumpul di restoran terdekat sore ini. Balqis akan memberitahu mereka soal pernikahan Balqis yang tinggal menghitung minggu saja.
Mereka akan berangkat bersama naik kendaraan yang dipesan lewat aplikasi berwarna hijau.
Balqis sudah menyiapkan mentalnya, karena pasti teman-temannya akan marah padanya.
Setelah ashar mereka pergi ke sebuah restoran. Setelah kendaraan yang dipesan telah ada, mereka langsung pergi. Tak butuh waktu lama untuk sampai.
Setelah sampai dan membayar ongkosnya, mereka masuk dan memilih meja. Dan langsung memesan makanan.
"Qis kamu mau cerita apa? Tumben banget ngajak makan," ucap Ratih.
"Iyaa nih, tumben banget sumpah." Nisa menimpali.
"Aku emm.." saat Balqis akan berbicara. Pesanan mereka keburu datang.
"Makan dulu aja deh, udah makan baru cerita," usul Balqis.
Mereka mengangguk.
Dalam sela-sela makan, mereka bercanda ria. Tak sesekali melihat handphone dan mencari berita terbaru.
"Yaampun, gemes banget sih liat pasangan Rey sama Dinda." Nisa tiba-tiba berbicara agak kencang.
"Jadi pengen taaruf deh," balas Ratih.
"Iyaa bener, tapi hilal kapan muncul" timpal Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Diam
Romance[Ayo Baca!] [Typo Bertebaran] Cinta dalam diam? Entah berapa banyak doa yang telah aku panjatkan pada Tuhan, agar kita dapat dipersatukan Entah berapa kali ingin 'menyerah' namun hati tak bisa 'pasrah'. Entah berapa banyak kata 'ikhlaskan' namun ha...
