5. Pale But Seems Red

1.7K 225 70
                                        

Pagi ini, Hanbin mengawali harinya dengan sakit kepala. Bagai mana tidak, setibanya di sekolah, ia langsung mengajak para panitia MPLS untuk melakukan rapat pembuka beserta memberikan arahan secara singkat mengenai apa yang harus mereka lakukan dan hindari saat kegiatan di mulai. Lalu melakukan koordinasi kepada pihak sekolah terkait pemberian sambutan dan pengisian materi. Dilanjutkan dengan melakukan cross check terhadap alat perlengkapan dan properti yang akan mereka gunakan saat acara nanti. Belum lagi dia harus melakukan penyambutan setelah upacara rutin selesai. Rasanya Hanbin mau lengser dari jabatan secepatnya.

Untungnya kali ini Hanbin dibolehkan untuk tidak mengikuti upacara rutin sebagai dispensasi menjadi panitia MPLS. Jadi Hanbin bisa beristirahat sejenak di ruang UKS. Meski awalnya dia sempat menolak karena ada beberapa hal lagi yang harus dipersiapkan. Tapi para anggota osis memaksanya untuk istirahat karena mereka mengatakan bahwa wajah Hanbin terlihat pucat.

Disinilah dia sekarang, ruang UKS sangat sepi hanya ada Hanbin seorang yang sedang berbaring di sofa dengan teh hangat yang sudah disediakan oleh petugas PMR yang kini sedang berjaga di lapangan. Dia memejamkan matanya untuk sekedar mengurangi rasa pusing yang menyerang kepalanya pagi ini. Namun sepertinya hal itu tidak membawakan pengaruh apapun, yang ada sekarang dia mulai merasakan perih di perutnya.

Saat Hanbin sedang fokus untuk menahan rasa perih di perutnya, dia merasakan sebuah tangan yang menyentuh dahinya yang mana membuatnya terkejut sampai membuka mata.

"Kok lo di sini sih!" ujar Hanbin sewot saat melihat suaminya berada di hadapannya.

Zhang Hao menarik tangannya dari dahi Hanbin dan duduk disebelah istrinya yang kini sudah merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.

"Ishh! Jawaaab, ngapain disiniii!" rengek Hanbin menjadi-jadi.

Tanpa menggubris rengekan Hanbin, Zhang Hao justru kini terlihat sibuk dengan kotak bekal yang dia bawa. Hal itu membuat orang disebelahnya tambah cemberut karena dicueki.

"Aaa, cepetan buka mulut," ucap Zhang Hao yang kini sedang mengarahkan sesuap mac and cheese di depan mulut Hanbin.

"Gamauuu! Gue ga-"

"Jangan banyak protes Bin, mau buka mulut atau gue cokokin?" Ujar Zhang Hao memotong protes Hanbin.

"Gamau Hao! Gue lagi mual takut muntah," Hanbin masih bersikeras menolak sambil merengek.

"Zhang Hanbin," ucap Zhang Hao tenang namun terdengar mutlak tanpa mau dibantah.

Seketika nyali Hanbin menciut ketika mendengar ucapan tegas suaminya. Dengan terpaksa dia pun membuka mulutnya menerima suapan dari Zhang Hao.

"Karena tadi lo gak sempet sarapan di rumah, mama nitipin ini ke gue buat lo, tapi pas gue samperin ke kelas lo, malah gak ada lo nya. Kebetulan sebelum upacara gue denger dari anak osis kalo lo sakit di UKS, makanya gue gak jadi masuk barisan dan langsung kesini," ucap Zhang Hao menjelaskan semua kronologi kenapa dia bisa sampai di UKS sambil tetap menyuapi Hanbin tentunya.

"Jadi secara ga langsung lo kabur dari upacara?" sahut Hanbin setelah menelan suapan dari Zhang Hao.

Pemuda di hadapannya mengangkat bahu tak acuh.
"Yang lo liat sekarang aja gimana."

Sedangkan Hanbin hanya menggelengkan kepalanya akan tingkah suaminya ini.
"Siniin buku kesiswaan lo, gue mau ngasih poin pelanggaran."

Zhang Hao memandang Hanbin tak terima.
"Kan gue kesini juga gara-gara lo Bin," ujar Zhang Hao protes.

"Gak peduli, lo tetep aja melanggar aturan, lagian gue gak minta lo kesini tuh," sahut Hanbin dengan wajah tak pedulinya dan mengulurkan tangan meminta buku kesiswaan milih Zhang Hao.

Everlasting | HaoBinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang