15. Pillow Talk

1.2K 146 29
                                        

Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Hanbin berusaha masuk ke dalam rumah keluarga Zhang dengan langkah sepelan mungkin dengan tujuan tidak membuat suara sedikit pun.  Dalam hati dia terus berdoa supaya si tuan rumah sudah telelap supaya dia terhindar dari interogasi kedua kalinya. Selain itu, Hanbin juga meruntuki dirinya sendiri yang lupa waktu saat berada di tempat Matthew.  Kegiatan yang tadinya hanya mau menjelaskan hubunganya dan Zhang Hao, malah merambat kemana-mana. 

Sejauh ini keadaan tenang-tenang saja.  Bahkan sekarang Hanbin sudah berhasil masuk kedalam rumah dan hampir melewati ruang tamu.  Namun saat dirinya hampir menaiki tangga untuk menuju kamarnya, dia dikejutkan dengan sosok pemuda yang berdiri di tengah tangga dan beberapa saat kemudian keadaan yang tadinya gelap menjadi terang.

"Kemana aja Bin?" ujar Zhang Hao yang menuruni tangga dan menghampiri Hanbin yang terdiam karena tertangkap basah. 

"Tau sekarang jam berapa?" sambung pemuda China itu dengan raut wajah datarnya yang terlihat menakutkan untuk Hanbin. 

"Bukannya gue nyuruh lo pulang bareng Gyuvin tadi?" cecar Zhang Hao yang masih terus mendekat yang mana membuat Hanbin melangkah mundur karena ketakutan. 

"Dari sekian banyak panggilan, gak ada satupun yang lo jawab," lagi-lagi hanya diam yang bisa Hanbin lakukan.  Dia terlalu takut bahkan hanya untuk menatap balik pemuda dengan wajah datar itu. 

Karena terlalu banyak mengambil langkah mundur, hingga kini Hanbin terhenti karena sebuah dinding menghalangi langkahnya. Sementara itu pemuda lainnya terlihat semakin mengikis jarak mereka. Hingga kini Zhang Hao tepat berada di hadapan Hanbin dan mengurungnya yang tersudut.

"Sebenernya Bin, gue gak bakal ngelarang buat pergi kemanapun asal lo kasih kabar ke gue."

Nada suara itu mulai melembut tapi Hanbin masih segan untuk mengangkat wajahnya. 

"Apa seberat itu bagi lo buat kasih kabar ke gue Bin?" lanjut Zhang Hao yang terlihat putus asa hingga menjatuhkan wajahnya ke bahu Hanbin. 

Sementara itu Hanbin masih mematung. Dalam situasi ini dia tau bahwa dirinya lah yang salah.

"Gue khawatir Binaah..."

Ucapan lirih Zhang Hao kali ini sangat membekas di dalam hati Hanbin.  Hingga tanpa sadar dia menjadi emosional sampai Zhang Hao merasakan getaran pada bahu yang sedang ia gunakan untuk menopang wajahnya.

"Hikss..."

Isak tangis itu membuat Zhang Hao kembali menegakan tubuhnya. Dengan lembut ia meraih dan mengangkat wajah Hanbin agar dia bisa melihatnya. 

"M-maaf...H-hao," ucap Hanbin di sela isak tangisnya begitu pandangan mereka bertemu. 

Zhang Hao membawa tubuh Hanbin dalam pelukannya dan tepat saat itu juga tangisan Hanbin pecah. Selama beberapa menit posisi mereka tidak berubah. Hingga dirasa Hanbin sudah mulai tenang, barulah Zhang Hao kembali menangkup wajah yang sudah basah dan memerah karena habis menangis.

Dihapusnya jejak air mata yang mengalir melewati pipi Hanbin lalu dilanjutkan dengan Zhang Hao yang mengecup kedua mata basah itu dan di akhiri dengan menyatukan kening keduanya.

"Udah yaa... gue maafin kok, lain kali kabarin gue kalo mau pergi sendiri," ucap Zhang Hao sambil menatap lurus mata Hanbin yang hanya berjarak beberapa centi saja. 

Setelah mendapat anggukan kecil dari Hanbin. Zhang Hao kembali menjauhkan wajahnya dan mengjak Hanbin menuju kamar mereka. 

...

Baru saja Hanbin selesai membersihkan diri. Dilihatnya Zhang Hao yang sedang bermain game di ponselnya di atas kasur mereka. Karena tubuhnya sudah cukup lelah seharian ini, Hanbin segara berjalan menuju kasur.

Everlasting | HaoBinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang