Malam mulai menyelimuti Bumi Jogja. Tak ada bintang dan rembulan, hanya ada awan malam yang menghiasi angkasa. Bau hujan masih menguar tercium hidung, tanah basah dan genangan air tersebar dimana-mana.
Memang tadi sore Bumi Jogja terguyur hujan, 2 jam pula lamanya. Untung sekarang sudah reda, meskipun dingin masih menyelimuti kulit.
Malam minggu ini kawasan Bumi Jogja masih ramai seperti biasanya. Meskipun sisa-sisa hujan masih ada tak membuat jalanan sepi. Bahkan acara live music di beberapa sudut Maliboro sudah dipenuhi penonton, dan juga angkringan-angkringan pinggir jalan mulai ramai dipadati para pemuda yang ingin menikmati malam minggu mereka.
Di malam minggu yang bebas tugas ini, seperti biasa bujang ganteng 2000-an mengadakan acara rutinan nongkrong di angkringan langganan mereka yang terletak di pinggir jalan dekat Malioboro.
Siang tadi, 3 bujang teknik -Kama, Jeno, sama Kala mengajak ngumpul. Katanya mumpung mereka free tugas sekalian refreshing. Kangen juga kan sama bacotan anak-anak, apalagi julidnya Aksa yang paling ngangenin.
Lewat grub chat yang ngga pernah sepi mereka sepakat ngumpul malam minggu ini. Dan tumbennya hari ini mereka bisa full formasi. Ya mereka sih sering ngopi full formasi, tapi kalo malam minggu yang udah punya gandengan pada jalan sendiri.
"Jun ngapain pakek masker, biar lu dikira idol kipop?" sahut Arya ketika seorang pemuda berjaket Denim dan memakai masker hitam menghampiri sudut angkringan tempat bujang 2000-an berkumpul. Meskipun memakai masker, masih terlihat jelas mata sebelah kiri pemuda itu memar. Siapa lagi pemuda itu kalo bukan Arjuna Bagaspati.
Kalian tentu ingat kalo Aksa nemuin Ajun di parkiran kampus dalam keadaan pingsan dan mukanya bonyok kan? Nah jadi hari itu Ajun duel sama Yunan, berakhirlah Ajun terkapar dan ditinggal Yunan. Untung saja Aksa yang habis kumpulan MAPALA lewat dan nemuin Ajun tergolek tak berdaya di parkiran yang sepi.
"Masih parah luka lo?" tanya Kala saat Ajun duduk di sampingnya dan Ajun menganggukkan kepalanya.
"Pas gue nemuin Ajun waktu itu, asli mukanya udah jelek nambah jelek lagi. Pipinya lebam, matanya memar, bibirnya robek, pokoknya miris deh" julidnya Aksa pun keluar dan mendapat balasan lemparan kulit kacang dari Ajun.
"Lo kenapa bisa sampe bonyok gitu sih Jun? Lo gelut sama siapa?" tanya Jeno dan diikuti tatapan penasaran dari ke 10 bujang lainnya.
Ajun memang belum menceritakan kalau dia mendapat luka itu karena berantem sama Yunan. Ajun ngga mau temen-temennya ikutan kena masalah karena Yunan. Yunan dan Arum adalah urusannya.
"Woy ditanya diam aja!" kejut Janu hingga Ajun terperanjat.
"Percuma kalian nanya, dia ngga bakal jawab" sahut Agi.
"Tapi gue yakin nih, kalo lo abis berantem kan?" Aksa berusaha membuat Ajun bercerita.
Ajun menghela nafasnya, "Iya gue abis berantem sama kucing garongnya FMIPA"
"Ya kali lo gelut sama kucing lukanya sampe kayak gitu" saut Dylan.
"Beneran gue gelut sama kucing garongnya FMIPA, ngga percaya yaudah"
Denger jawaban Ajun kesepuluh bujang itu cuma bisa menghela nafas sambil mandang jengah Ajun. Mereka udah hafal sih kalo Ajun ngga mau cerita sampe dipaksa kayak apapun ya tetep ngga bakalan mau cerita.
"Yang ngajak ngumpul mana sih?! Tuman suka ngaret!" tanya Jaya pas dia sadar yang hari ini ngajak nongkrong belum dateng. Siapa lagi kalo bukan Artakama Janari.
"Palingan lagi jemput Husna" sahut Leo yang tengah menyeruput kuah indomie ayam bawangnya.
Emang paling bener kan abis ujan makan mie instan kuah, pakek telor, tambah sayur sama irisan cabe, kuahnya ngga terlalu banyak, disruput anget-anget, beuuuuhhh terdabest lah. Ngga ada yang ngalahin nikmatnya indomie buatan abang angkringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
September Boy | 00L
Teen FictionCuma sepenggal kisah sederhana si 4 Jejaka yang entah kebetulan lahir di bulan dan tahun yang sama hanya tanggal yang berbeda..... Cuma sepenggal kisah keseruan si 4 Jejaka yang menjuluki diri mereka sebagai "September Boy" berjuang sebagai anak ran...
