Flashback Arin & Ale (1)
********Bandung, Agustus 2016.
Kota Bandung bukanlah kota yang asing bagi Arin. Terlebih setelah salah satu kakak sepupu terdekatnya, Teh Ayi menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri yang sama dengan Arin saat ini. Memang bukan persis di tengah Kota Bandung, banyak orang menyebutnya Bandung Coret.
Semenjak Teh Ayi menetap di Jatinangor dan melakukan kegiatan koas disalah satu rumah sakit di Bandung, Arin sering kali berkunjung ke Bandung ketika weekend atau liburan kenaikan kelas.
Tiba saatnya Arin menempuh pendidikan lanjutan, yaitu menjadi seorang mahasiswi. Lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan membuat Arin sebenarnya mampu untuk mengikuti jejak kakak laki-lakinya, Lenggana Raga Sastadinata, yang menempuh pendidikan di University of Nottingham jurusan Arsitektur.
Kedua orang tua Arin dan Kak Ega, begitu kakak laki-lakinya kerap disapa, memperbolehkan Arin untuk mengikuti jejak kakaknya berkuliah di belahan benua Eropa. Beruntung, keluarganya membebaskan Arin untuk memilih perguruan tinggi mana yang ingin Arin tuju untuk mengejar cita-citanya.
Sampai akhirnya Arin memutuskan untuk memilih berkuliah disalah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Jatinangor.Ketika ditanya, "kenapa sih lo gak ngikutin kayak Kak Ega aja? Kuliah di luar negeri gitu? Kan keren!"
Jawaban Arin sangat sederhana,
"Di UK gak ada gorengan, gak ada seblak, basreng, cilor, cimol dan semua jajanan gak sehat lainnya. Ribet."
Kalimat itu yang menjadi pembuka pembicaraan antara Arin, dan laki-laki yang ada di sampingnya saat itu. Laki-laki dengan perawakan tinggi, berkulit putih bersih, rambut hitam dan tebal, ada kumis tipis terpatri di atas bibirnya dan tertera name tag bertuliskan,
Aleandra Sadawira Harsa - FEB - Akuntansi - 2016
Sebetulnya, Arin sedang tidak berbicara pada Ale dan Ale pun tidak bermaksud mencuri dengar pembicaraan Arin dan teman barunya, Asmara. Ya, gak sengaja mendengar karena ketiganya duduk berdampingan di bawah pohon rindang.
"Di UK ada tau cireng rujak. Di asian market." timpal Ale.
"Oh iyaya? Berarti kakak gue yang mainnya kurang jauh. Dia bilang, disana susah nyari cireng dan gorengan gak sehat lainnya. Atau mungkin karena kakak gue bukan di London kotanya." Jawab Arin sambil mengunyah keripik kaca yang ia beli di kantin FEB.
"1 tahun lalu gue kesana sih ada, gak tahu ya sekarang masih ekspor apa enggak. Oh ya, gue Ale. Aleandra." Katanya sambil menyodorkan tangan kanan ke hadapan Arin dan Asmara.
"Larinka." Jawab Arin sambil menyambut jabatan tangan Ale sambil tersenyum.
"Asmara."
Sudah satu minggu semenjak masa pengenalan lingkungan kampus selesai, namun sebagai mahasiswa baru, mereka diwajibkan menggunakan name tag kecil yang di kalungkan di leher mereka selama 1 bulan ke depan.
"Unik banget nama lo berdua." Kata Ale sambil menyeruput teh kotak.
"Pasti lo mau bilang nama gue kayak juri masterchef." Timpal Arin terlebih dahulu.
"Engga anjir. Hahaha. Unik aja gitu gue belum pernah punya temen namanya kayak lo berdua." Jawab Ale sambil tertawa mendengar reaksi Arin.
"Eh, kayaknya gue pernah liat lo deh? Muka lo ga asing. Lo orang Bandung, Le?" Tanya Asmara penasaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
CANDIKA (Bejana Puspawarna) - Haechan & Ryujin
FanfictionTentang semua yang tidak terduga. Tentang makna kata "akhirnya". Tentang dua insan yang bertemu di tempat yang tak pernah mereka duga dan siap mengarungi asa bersama. **Cerita ini mengandung percakapan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda**