#13 - Tawaran Bahagia

414 71 19
                                    

Sore itu, Ecan baru saja selesai memandikan belasan burung lovebird milik peternakan burung papanya bersama dengan adiknya, Cakra. Ketika tengah beristirahat di kursi garasi rumahnya, Ecan melirik handphonenya dan melihat ada notifikasi bertuliskan "Arin" dengan isi pesan,

Arin:

Aku ke rumah kamu ya. Hehehehe. Bawain kue crepes rasa milo, pasti kamu doyan.

Sontak ia langsung berdiri dan melempar handphonenya ke pangkuan Cakra.

"ANJIR KANG URANG CAN MANDI!!!" Kata Ecan sambil berdiri.

"Halah biasana ge engke maghrib mandi na." kata Cakra yang akrab disapa Kakang di rumahnya.

"SI ARIN REK KADIEU ANJIR URANG KUDU KUMAHA?!" kata Ecan setengah berteriak karena panik.

"Arin Arin yang lagi deket sama 'Aa?"

"HEEUUUHHHHHH pang balesin lah, bilangin gitu hati-hati. Aa rek mandi heula. Kalau dia minta share loc, share loc in Kang, punten." Kata Ecan pada Cakra sambil berlari ke dalam menuju kamar mandi.

Ecan:

Oh iya, Hati-hati, Rin. Tau alamatnya gak?

Tidak sampai 1 menit, Arin membalas,

Arin:

Tau kok. Ini aku udah di perempatan gatsu.

Cakra berlari ke dalam menuju kamar mandi, lalu menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak pada Ecan,

"AA BURU MANDI NA! IEU SI TEH ARIN GEUS DI PARAPATAN GATSU!"

Mendengar teriakan Cakra dari luar, terdengar dari dalam Ecan buru-buru menyiram tubuhnya dengan air yang ada di ember. Cakra pun memutuskan untuk menunggu kedatangan Arin di garasi, takut-takut Arin kebingungan mencari alamat rumah Ecan.

Beberapa menit kemudian, tampak mobil jazz warna putih berhenti di depan rumah Ecan. Cakra pun menghampiri mobil tersebut dan bertanya pada Arin.

"Cakra ya?" tanya Arin dari dalam mobil.

"Iya teh, teteh...Teh Arin ya? Temennya A' Ecan?" tanya Cakra.

"Iya, Ecan nya ada?"

"Ada teh, bentar aku----" baru saja Cakra akan berjalan ke dalam rumah untuk memanggil Ecan, Ecan keluar dengan stelan kebangsaannya, celana pendek dan kaos pendek berwarna hitam. Dilihatnya oleh Arin, rambut not-so-gondrong Ecan basah karena baru selesai keramas.

"HAAAIIII! Untung aku udah mandi pas kamu sampe. Hehehe." Sapa Ecan sambil terkekeh menghampiri mobil Arin.

"Bohong. Tadi Teh Arin ngechat baru tuh si Aa mandi." Kata Cakra sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

"Gak usah didengerin si Kakang mah, masuk sok. Tuh parkir disitu aja." Tunjuk Ecan ke lahan kosong di depan rumahnya.

Selesai memarkirkan mobilnya, Arin berjalan menuju rumah Ecan. Rumah yang ukurannya tidak lebih besar jika dibandingkan rumah Arin yang terletak di daerah Permata Hijau. Meskipun begitu, kawasan rumah Ecan juga strategis, karena ada di pertengahan Kota Bandung yang dikelilingi banyak fasilitas umum yang mencukupi.

Ecan mempersilahkan Arin untuk duduk di kursi yang ada di garasi rumahnya. Papa Ecan sengaja membuat dua ruang tamu, di dalam dan di luar.

"Papa sama mama kamu kemana, Can?" tanya Arin sambil duduk.

"Lagi pada ke Garut, ke rumah Ninda. Ninda teh ibunya mama. Nih, di minum kopi racikan Pak RT." Katanya sambil menyodorkan segelas es kopi susu buatan papanya.

CANDIKA (Bejana Puspawarna) - Haechan & RyujinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang