27: We'll Be Okay

294 32 6
                                        

Dara's POV

Aku pernah membaca tulisan dari seorang filsuf Amerika bernama Henry David Thoreau, yang paling kuingat adalah bagaimana ia mengatakan seseorang tidak perlu berhitung sampai satu juta, melainkan cukup menghitung sampai ke lima atau enam, hanya supaya bisa selesai berhitung dengan dua ibu jari di tangan kita. Pada intinya adalah dia sangat menyukai ide bagi seseorang untuk hidup dengan sederhana dan tidak menyusahkan diri sendiri. Sejujurnya aku sependapat dengan Thoreau, karena aku juga bukan orang yang menyukai hal-hal yang rumit. Aku rasa aku tidak membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup, aku merasa cukup dengan apa yang sudah aku miliki saat ini...

Namun sepertinya ini sangat bertolak belakang dengan kehidupanku sebagai seorang public figure yang dalam kesehariannya sebenarnya tidak jauh dari kata rumit, bahkan aku membutuhkan orang lain untuk membantuku tetap terjaga pada jalanku (seperti Jjangmae yang menjadi tangan kananku). Begitu banyak hal yang harus kujaga seperti image, penampilan, kesehatan, relasi, dan popularitas, rasanya mustahil jika aku menjalani semua ini sendirian tanpa dukungan orang lain.

Aku sadar beberapa hari ini, Jiyong adalah salah satu orang yang selalu mendukungku sampai sekarang ini aku menganggapnya sebagai salah satu kekuatan terbesarku. Kehadirannya, ah tidak, hubungan kami berdua memberikanku banyak kebahagiaan meskipun jalan yang kita lalui sama-sama rumit dan tidak akan bisa menjadi sederhana. Kami saling menguatkan satu sama lain, bahkan dengan jarak yang berjauhan seperti sekarang aku bisa merasakan perasaan yang kami rasakan itu sama dan kalau bisa dikatakan malah lebih kuat semakin hari. Cinta yang ternyata luar biasa, yang aku kira tidak akan kudapatkan dari siapapun, ternyata Jiyong adalah orang yang selama ini kucari untuk memberikan cerita cinta yang sebesar itu.

Aku mungkin tidak akan bisa hidup sederhana, namun tidak apa-apa jika Jiyong yang akan disampingku untuk menjagaku.

***

"Hari ini juga tidak ada jadwal lagi?" tanyaku kepada Jjangmae. Sembari mengantarku ke kantor, dia mengangguk dan melirikku dari kaca mobil.

"Iya. Get It Beauty akan rekaman lagi episode terakhir musim ini di minggu depan. Paling hari ini kamu hanya akan membaca script drama dan film yang ditawarkan untuk dipertimbangkan di kantor, sih." Jawab Jjangmae.

"Oh begitu."

Mungkin karena aku sudah terbiasa melanglangbuana dari satu stasiun tv ke stasiun tv lainnya, bahkan ke studio pemotretan setiap harinya, jadi jika tiba-tiba tidak ada pekerjaan seperti ini rasanya kosong sekali. Lagi-lagi berlawanan juga dengan keinginanku dengan hidup sederhana. Mungkin aku tidak perlu lagi berandai-andai memiliki kehidupan yang sederhana, karena secara tidak sadar aku ternyata memilih menjalani apa yang kulakukan sekarang.

Sesampainya di kantor, aku menemui Nona Choi yang kemudian menyerahkan beberapa naskah drama dan film untuk dibaca. Sebelumnya ia sudah memberikan beberapa judul yang menurutnya akan menjanjikan, salah satunya ada yang berjudul 'Cheese in The Trap'. Sebelumnya sudah pernah dijadikan drama dengan judul yang sama dan memperoleh kesuksesan, yang kemudian mendorong para produser untuk mengadaptasi ini menjadi sebuah film.

"Ini menarik sekali ceritanya, aku juga suka dengan karakter yang aku perankan disini. Kamu boleh memberitahukan sutradaranya kalau aku tertarik berperan di film ini." ujarku kepada Nona Choi. Ia menyanggupi perkataanku dan pergi sebentar, mungkin menghubungi sutradara film ini.

"Baik, aku akan mengirimi menghubungi sutradaranya kalau kamu menyutujui untuk berperan di film ini."

Aku kembali membaca lanjutan dari skrip Cheese In The Trap sembari menunggu Nona Choi mengkonfirmasikan mengenai peranku di film itu, namun aku mendapat Jjangmae yang menyusulku ke di depan ruangan dengan wajah yang pucat pasi dan nafas terengah-engah seperti habis berlari.

Get You // daragonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang