Jiyong's POV
Aku ingat bagaimana wajah Dara menjadi pucat begitu melihat sesuatu dari ponselnya. Tangan kanannya yang memegang ponsel itu langsung mengeratkan kepalannya begitu kuat karena ia bisa saja menjatuhkan ponselnya kalau tidak begitu. Dengan cepat ia berpamitan kepadaku sampai ia melupakan cara berpamitan yang benar, ia tidak menatap wajahku saat kami berpisah. Sudah menjadi sifatku untuk khawatir karena hal sepele seperti itu. Dan bagaimanapun juga aku benci yang namanya ditinggal; aku tidak mau ditinggalkan menggantung sendirian dengan rasa penasaran akan hal sepele yang bisa membuatku kalut, sementara aku punya kesempatan yang besar untuk mengetahui jawabannya. Akhirnya aku mengikutinya diam-diam.
Aku tahu betul aku tidak bisa melakukan ini, lagipula aku tidak ada hak untuk curiga atau cemburu. Dara bukanlah kekasihku dan yang kulakukan ini bisa saja melukai perasaannya. Aku tahu betul batas-batas dalam mencampuri hubungan seseorang, tetapi rasa penasaran ini sudah mengambil alih semuanya, bahkan langkahku sudah tidak dalam kendaliku. Begitu Dara pergi aku mengikutinya dalam diam. Berusaha menjaga jarak agar ia tidak merasakan seseorang mengikutinya ternyata agak sulit. Bandara hari ini sangat lenggang karena belum musim liburan, hanya diisi oleh orang-orang berkoper kabin karena hanya bepergian untuk bekerja. Sembari berjalan dan melihat orang-orang sibuk itu, terlintas sebuah pertanyaan di benakku.
Aku pergi sejauh ini untuk apa?
Seketika yang timbul menjadi jawaban dari pertanyaan itu hanyalah wajah Dara. Begitu kupikir lagi, sepertinya dia tidak acuh akan hal itu, dia malah pergi dariku untuk orang lain.
Tiba-tiba langkah kulihat langkah wanita mungil itu terhenti didepan boarding room. Beberapa petugas tengah memeriksa penumpangnya untuk terakhir kalinya sebelum mereka bisa masuk ke pesawat. Aku melihat layar televisi yang berisi jadwal pesawat dan destinasi penerbangannya.
Manila to South Korea: 13.00 PM.
Nalarku dengan cepat menyambungkan kepada satu orang: Seunghyun-hyung.
Aku membenci diriku sendiri yang tidak menyadarinya lebih awal. Baru sekarang aku menyesal sudah mengikuti perjalanan wanita ini. Aku merasa sia-sia datang kesini, sebagai pria yang hanya menyaksikan wanita yang ia sayangi melepas kepergian seseorang yang bukan dirinya.
Tetapi aku tidak segera beranjak dari tempat tersebut. Sama seperti langkah kakiku tadi yang berjalan semaunya mengikuti Dara, kali ini kakiku memilih untuk merekat dengan apapun yang dipijaknya. Aku menyadari bahwa hatiku berat sekali namun kakiku jauh lebih berat untuk meninggalkan wanita ini sendirian. Kalau dipikir-pikir ternyata saat ini aku juga tidak kalah konyol daripada Dara yang mengejar Hyung saat ini. Bayangkan, hatiku yang tidak bisa menahan diri ketika melihat, mendengar dan merasakan keberadaan Dara. Tiga dari lima alat inderaku akan lumpuh total kalau bersamanya, dan anehnya aku masih ingin kehilangan semuanya. Satu hal yang kutahu pasti: untuk tidak kehilangan akal, meski aku akan mati-matian mempertahankannya.
Sekarang aku melihatnya melompat-lompat sendiri dengan konyolnya, sepertinya ia mencoba mendapatkan perhatian Hyung yang berada di dalam sana. Apa ada sesuatu yang harus ia sampaikan, sampai ia harus berbuat seperti itu?
Seorang petugas keamanan menghampiri Dara dan menyuruhnya untuk pergi setelah hanya mengamati dari kejauhan. Gadis itu tetap mempertahankan dirinya sampai-sampai petugas keamanan harus memanggil yang lainnya. Padahal posisiku dengannya lumayan jauh, tapi aku bisa mendengar suara petugas yang lantang itu kepadanya. Hyung, Dara-noona jadi tuli karena dirimu yang tidak segera melihatnya. Sebaiknya kau segera mendengar apa yang ia akan katakan, Hyung, karena aku tidak mau dia kehilangan semua inderanya karena laki-laki tidak peka sepertimu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Get You // daragon
FanfictionSandara Park dan Kwon Ji Yong, atau kalian lebih mengenalnya dengan Dara 2NE1 dan G-Dragon BIGBANG mengakui pada dunia kalau mereka adalah sepasang kekasih. Kalian tidak salah baca: mengakui. Baik dari agency dan pribadi. Tapi bagaimana kalau sebe...
