Bab 3 : Hukuman

1.9K 253 132
                                        


Jika kebanyakan orang menyukai hari Minggu, maka Ale adalah orang yang berbeda. Ale benci hari Minggu. Ia benci hari libur. Rasanya jika hari Minggu tiba, ia hanya berharap agar Senin cepat kembali.

Mengapa?

Ya, Ale benci ketika Minggu membuatnya tidak dapat melihat Randu. Ia benci ketika hari Minggu memisahkannya dengan Randu. Ia tidak suka di mana ia harus libur untuk berbincang dengan Randu, atau bahkan membuat Randu tidak membutuhkannya.

Ia ingin selalu ada di dekat Randu, untuk merasa selalu diperlukan ketika Randu lelah, untuk selalu berada di sisinya jika Randu bosan. Ia ingin dibutuhkan selalu dengan Randu. Namun hari Minggu adalah hari liburnya, dan itu membuatnya hanya mendekam di dalam apartemen dan tidak ke mana-mana.

Hanya pesan dari Sandra yang memenuhi HP-nya. Ale enggan membalas. Ia tahu Sandra hanya ingin mengajaknya keluar, bertemu dengan beragam pria yang tidak ia kenal, dan bahkan tidak Ale inginkan.

Mengetahui bahwa Ale tidak membalas pesannya, membuat Sandra langsung menelepon perempuan itu. Dan mau tidak mau, akhirnya Ale menjawabnya.

"San, gue bilang enggak, ya!"

"Tapi lo kemarin udah batalin janji kita, Le! Ga bisa gitu, dong!"

"Gue juga ga mau."

"Ngomong apa Randu sama, lo, hah?! Dia ngelarang lo buat pergi?!"

"Bukan karena Randu, San. Gue yang ga mau."

Ale memejamkan matanya malas mendengar ocehan Sandra yang gampang sekali tersulut emosi jika mengenai Randu. Ale sampai heran, sebenarnya mereka saudara kandung atau saudara tiri? mengapa Sandra begitu benci dengan Randu? Mengapa Sandra tidak bisa ikut bahagia mengetahui bahwa Randu dan Ale bahagia?

Ya, bahagia versi Ale memang sedikit menyeramkan memang. Tapi, Ale senang, kok. Ale... tidak ingin berhenti menjalin hubungan seperti ini dengan Randu.

"Gue mohon, Le. Oke, oke... ini yang terakhir. Setelah ini, gue janji ga akan ngajak lo ketemu cowok-cowok itu lagi. Masalahnya gue udah buat janji sama dia. Ya?"

Ale mendesah kasar. Alasan Sandra dari dulu adalah 'ini yang terakhir' selalu seperti itu, namun anehnya selalu membuat Ale percaya dengan ucapannya. Ini... Ale yang terlalu percaya, atau Ale yang terlewat bodoh?

"Oke. Shareloc aja. Nanti gue dateng."

Terdengar pekikan sorak dari Sandra bersamaan dengan berakhirnya pembicaraan mereka. Ale pun menghela napasnya pelan, ia beranjak berdiri menatap lemari dan mulai memilah baju yang cocok untuk bertemu Sandra dan entah cowok siapa lagi kali ini yang akan Sandra kenalkan padanya.

Andai saja Randu menghubunginya hari ini dan menyuruhnya untuk tidak pergi, maka Ale akan menurut. Namun, jarang sekali hari Minggu Randu menghubunginya. Mereka sepakat, Minggu adalah hari libur. Ya, benar-benar libur dari pekerjaan, dan libur dari memuaskan satu sama lain.

Namun Ale tidak ingin ada hari libur. Ia butuh Randu. Ia ingin Randu mempergunakannya sebanyak yang Randu inginkan. Namun Ale harus tahu diri, ia siapa untuk Randu? Ia harus tahu bahwa Randu memiliki kebebasannya sendiri. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu Randu atau sekadar berani mengirimkan pesan pada Randu untuk berkata rindu.

Ale sangat ingin melakukannya sebenarnya. Namun, Ale sama sekali tidak pernah mengirimkan pesan pada Randu jika hal itu tidak penting. Ia hanya mengirimkan pesan jika itu masalah pekerjaan, bukan masalah pribadi.

***

Pukul tujuh malam tepat, Ale sudah menghampiri salah satu restoran yang Sandra sebutkan di pesannya, untuk menghadiri janji temu yang sudah Ale sepakati. Sejujurnya Ale datang hanya untuk Sandra. Karena Sandra bilang ini yang terakhir, jadi Ale ingin mencoba percaya kembali. Ale bersumpah jika ini akan menjadi yang terakhir ia menyetujui ajakan Sandra. Ia tidak mau membuat Randu kecewa karena mengetahui ia menuruti permintaan Sandra yang sudah jelas tidak disukai oleh Randu.

Randu-Ale [Wenyeol]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang