Randu mengecup bahu Ale dengan penuh minat sedang Ale yang berada di atasnya merintih dan menuntut hal yang sedang Randu lakukan untuk lebih dalam memuaskannya. Randu sudah akan menyatuhkan tubuh mereka berdua yang sudah haus akan sentuhan satu sama lain. Randu... Randu begitu merindukan suara erangan Ale di telinganya dan merindukan bagaimana jeritan suara Ale menginginkannya lebih dari ini. Randu sudah siap dan saat hendak menarik Ale lebih dekat dengannya Randu melebarkan matanya.
"Mas Randu...," suara Ale yang lembut membuat kesadarannya kembali.
Apa itu tadi? Halusinasi bajingan apa yang baru saja ia berlakukan dalam pikirannya beberapa menit yang lalu?
"Mas? Bisa tolong bukain kunci mobil-nya? Aku mau keluar."
Randu menoleh, menatap Ale yang masih begitu bersih dan rapi dengan penampilannya ketika Randu mengajaknya pulang bersama. Randu berdehem, apa tadi ia sedang terangsang sendirian? Di sebelah Ale? Hanya karena merindukan Ale? Sejak kapan Randu seliar ini? Sejak kapan pikiran Randu begitu berdosa dan menginginkan Ale di atasnya?
"Mas Ran---"
"Le? Boleh bicara sebentar?" Randu menyela ucapan Ale membuat Ale menyandarkan kembali tubuhnya pada sandaran kursi dan menoleh pada Randu sepenuhnya.
"Mau bicara apa, mas?" suara Ale berbeda. Jika dulu ketika Ale masih berada dalam dunianya, Ale akan berbicara dengan senyuman dan sinar mata yang senang saat Randu ingin mengajaknya mengobrol.
Namun saat ini, Randu hanya bisa menemukan sorot mata Ale yang memandangnya tanpa kebahagiaan. Kosong, serta asing. Ale sudah melupakan Randu? Apa secepat itu? Randu saja belum.
"Apa ga ada kesempatan lagi buat kita memperbaiki semuanya?"
Randu menatap dengan berani iris mata Ale, menemukan keterkejutan dari pandangannya serta ekspresi wajahnya saat Randu mengatakan hal yang begitu horror seperti itu.
"Mas mau memperbaiki apa?"
"Ya... apa aja yang sudah aku dan kamu runtuhkan dulu."
Ale diam sebentar lalu terdengar embusan napas yang terdengar di telinga Randu. "Aku bingung. Mas tahu sendiri, kan? Apa yang runtuh ga bisa diperbaiki. Kalau udah hancur ya hancur. Lagi pula apa yang mas mau perbaiki lagi sama aku? Hubungan badan kita dulu? Mas masih mau jadiin aku pelampiasan nafsu mas Randu kalau lagi capek?"
"Le... kamu jangan berpikir seperti itu. Aku ga ---"
"Mas tahu, ga? Pola kehidupan mas itu sama... sejak kita pertama kali bertemu di pesta Sandra. Anggaplah dulu aku yang tolol, aku yang terlalu murahan hingga mau aja mas ajak check in di hotel padahal aku baru kenal mas malam itu, hanya beberapa jam. Sebenarnya sampai seberapa hina lagi mas mau rendahin aku?"
"Ale... kamu tahu sendiri kejadian malam itu kecelakaan. Kita sama-sama mau."
"Ya oke kalau tanggapan mas begitu. Kita sama-sama mau. Lalu besoknya apa? Mas nyamperin aku ke gedung fakultas dan menjadikan yang katanya mas kecelakaan itu suatu kebiasaan sampai sekarang? Mas tahu ga, sih? Perasaan aku waktu tahu kalau mas sebenarnya punya mbak Ayudia? Mas tahu ga betapa malunya aku sama Sandra yang tahu kalau aku ini adalah pelacur kamu?"
"Ale...,"
Ale tidak menangis seperti saat di rumah sakit. Randu bisa melihat betapa kuatnya Ale sekarang, dan Ale kuat setelah melepas Randu pergi dan bersama Jefan. Suatu tamparan bagi Randu bagaimana perlakuan Randu dan Jefan memberikan dampak berbeda bagi kejiwaan Ale sendiri.
"Mas..., di antara aku dan kamu ga akan ada yang bisa diperbaiki. Kamu ga cinta sama aku selama ini yang make perasaan cuma aku, kamu pun harusnya sadar itu dari dulu. Kamu tahu aku suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Kamu tahu... tapi kamu menutup mata karena kamu cintanya sama Ayudia. Kamu hanya merasa bahwa kamu membutuhkan seseorang untuk memuaskan libido kamu, dan kamu merasa aku orang yang tepat untuk ---"
KAMU SEDANG MEMBACA
Randu-Ale [Wenyeol]
FanfictionIni perihal kisah cinta Alexandra Widya Mahanta pada Randu Cahya Adiarta Kisah klise dengan banyak drama di dalamnya. Vange Park ©️ 2020
![Randu-Ale [Wenyeol]](https://img.wattpad.com/cover/216256056-64-k301404.jpg)