Bab 22 : Apartemen Ale

1.5K 168 88
                                        


Haluuu lagi...

kangen tidak nih?

Zuzurr... part kemarin part yang paling rame sepanjang karir randu ale kayaknya.. meskipun 90 % adalah hujatan pada Nadin dan Randu wkwkwk.. tapi ga papa, berarti Nadin berhasil bikin kalian kesel...

Boleh di vote dulu ya sebelum baca.... 

terus coba kasih love dulu buat Ale biar Ale nya cepet sembuh...  ❤️❤️❤️❤️

Btw ada unsur mature dikit ya... untuk yang tidak nyaman bisa di skip ga papa. heheh

***

Randu mengusap kening Ale yang sedang tertidur di atas ranjang rumah sakit sambil menggenggam jemarinya. Ia benar-benar tidak diizinkan pulang atau pun beranjak dari tempat duduknya. Randu sudah duduk sekitar berapa jam, ya? Entahlah Randu tidak tahu sudah berapa lama ia terduduk di kursi berbentuk bulat tanpa sandaran dan membuat punggungnya sudah mulai pegal.

Dua tahun lalu, ketika mendengar Sandra memberi kabar bahwa Ale dan Jefan batal menikah, rasanya kesempatan untuk memiliki Ale semakin besar. Keinginannya untuk cepat keluar dari rehab sangat besar dan harapan untuk menjadikan Ale miliknya lagi begitu berada di puncak. 

Proses yang Randu jalani tidak ringan. Namun ia bertahan untuk Ale. Agar janji yang ia ucapkan pada Ale bisa ia tepati. Janji bahwa akan bertemu lagi dengan versi terbaik dirinya. Randu yang lain, yang baru dan yang akan lebih menghargai Ale sebagai wanitanya.

Ada Nadin dalam proses rehab-nya. Randu tidak bohong ketika menceritakan awal pertemuannya dengan Nadin pada Sandra. Sebenarnya ia juga tidak berbohong jika bilang bahwa ia senang ada Nadin. Maksudnya, Nadin adalah sosok ceria yang bisa membuat hari-harinya terasa lebih berwarna di negeri orang.

Namun hubungan keduanya murni teman dan tak lama setelah mengenal Nadin, gadis itu malah terpincut dengan Kalil. Keduanya memutuskan menikah, meskipun segala sesuatunya terbilang buru-buru. Ketika pulang ke Indonesia, Nadin yang memang selalu jahil membuat kejahilannya berubah menjadi petaka.

Ia sebenarnya tidak menginginkan pertemuan pertamanya dengan Ale begitu buruk. Nadin... sama sekali tidak ada dalam skenario pengejarannya pada Ale.

"Nggh...," Ale meringkuk kemudian membuka matanya. Ia tertidur dari siang sampai pukul empat sore barulah ia mulai tersadar. 

"Mas masih di sini," ucapnya parau dengan jemarinya yang kini lebih kuat menggenggam jemari Randu. 

Randu hanya tersenyum dan mengangguk. Mama dan Sandra sudah pulang. Membiarkan Randu mengambil tanggung jawab penuh untuk menjaga Ale karena mereka tahu kehadiran mereka di sana tidak akan lagi diperlukan. Karena yang paling Ale butuhkan saat ini adalah Randu dan kehangatannya.

"Kamu mau makan? Laper ga? Tadi Sandra beliin brownies. Mau?" tanya Randu kemudian tanpa sadar bergerak berdiri hingga tangannya terlepas dari Ale dan hal itu membuat Ale langsung terbangun dan meraih ujung kemeja Randu untuk tetap di sisinya.

Randu tidak tahu se-trauma apa Ale hingga ia benar-benar takut Randu pergi. Bahkan hanya berdiri menuju nakas yang jaraknya hanya beberapa senti dari duduknya.

"Aku cuma mau ambil brownies, Le."

Mata Ale bergetar. Seolah takut itu datang lagi menghantuinya. Randu benar-benar merasa terpukul melihat wanitanya semenyedihkan ini dan semua itu dimulai karena ketololannya yang menunda bertemu Ale untuk membawanya kembali dalam hangat yang mereka rindukan.

Randu pun menggenggam jemari itu lagi. Tidak melepaskannya namun ia tetap berdiri dan mengambil brownies yang sempat ia sebutkan tadi. 

"Mau, ga? Aku suapin, ya?" pinta Randu dan Ale mengangguk.

Randu-Ale [Wenyeol]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang