Jangan lupa Vote dan Share ke teman-teman kalian ceritanya.
Kalian juga boleh kasih saran maunya gimana alurnya.
Happy Reading
🍒
Marah, kesal dan bingung sudah menyatu dipikiran Aileen. Aneh kenapa cowok yang gila itu mengurungnya disini? Apa maunya? Kenapa dirinya yang dipilih untuk masuk dalam permainan cowok itu?
Akh! Sangat mengesalkan.
Aileen tidak menyerah, ia mengambil patahan kayu yang berbentuk pipih lalu memasukkan kesela-sela pintu setelah itu ia tekan, masih mencoba membukanya tanpa lelah.
Tak berhasil. Aileen pun memukul-mukul kaca jendela yang lumayan tinggi, berharap ada seseorang dari luar mendengarnya.
Wajahnya pun kini dipenuhi dengan keringat yang mengalir melewati pelipisnya. Aileen sesekali berdecak kesal hampir merasa putus asa. Matahari pun mulai terbenam, memberi warna jingga yang memantul lewat jendela.
Lelah, Aileen pun terduduk dilantai dengan nafas yang memburu. Poni tipisnya itu terlihat basah dikarenakan keringat. Tak hanya itu, pakaian seragam sekolahnya pun saat ini menjadi kotor karena debu-debu di gudang itu.
"Dasar Luca gak punya otak!" Umpatnya dengan detak jantung yang belum normal kecepatannya.
Namun, tiba-tiba saja pandangan Aileen memburam ditambah rasa pusing membuat kedua tangannya memegangi kepalanya. ditambah hawa panas di ruangan itu menambah kesan pusing dikepalanya yang bertambah sakit.
Dan benar!
Detik berikutnya, tubuh Aileen tidak bisa menahannya, ia melemas yang akhirnya terbaring dilantai yang kotor itu, dengan keringat masih mengalir perlahan dari pelipisnya.
Bersamaan itu, Cahaya jingga itu mulai meredup berganti warna malam yang lebih gelap.
🍒
25 Menit berlalu.
Ruangan sunyi yang penuh dengan debu itu menjadi saksi bisu Aileen yang masih terbaring lemas di lantai kotor itu. Keringatnya sudah mulai mereda tapi matanya masih menutup dengan tenang.
Tak lama, Aileen pun tersadar. Ia mengejap-ngejapkan matanya lemah, lalu mencoba duduk dengan mata mengarah kearah jendela luar yang sudah menampakkan sinar rembulan.
Aileen memegangi kepalanya yang sudah mulai reda sakitnya. Aileen tidak menyangka kalau dirinya akan ambruk seperti tadi yang hanya dikarenakan tidak makan sejak tadi pagi. Biasanya ia kuat menahan laparnya tapi kali ini sepertinya ia sudah mencapai batas.
Terlintas dipikirannya untuk memberi kabar kepada Cinta tentang keadaannya sekarang.
Bego!
Kenapa?
Sebab, mengapa sejak tadi ia tidak berpikir untuk menelpon atau pun memberi pesan bantuan?
Segera Aileen mencari-ceri keberadaan tasnya yang sebelumnya ia letakkan dilantai, tangannya meraba-raba sampai satu cahaya menjadikan ia lebih mudah mengambil tasnya.
Ternyata, Ponselnya sejak tadi berbunyi. selama ia pingsan Ada 7 panggilan yang tak terjawab dan 23 pesan dari Cinta. Aileen pun segera membukanya.
Ia membaca semua pesan dari Cinta dengan wajah khawatir, sebab sejak tadi Bu Kara mencarinya untuk berkerja, namun ia tak kunjung datang. Ditambah lagi pesan baru dari Cinta tentang jam pemeriksaan karyawan yang sebentar lagi, dimana itu adalah Luca, seseorang yang ditugaskan untuk melihat-lihat keadaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luc'een
Fiksi RemajaJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR NYA OKAY!! Maafkan jika, banyak Typo yang bertebaran. Tegur aja, okay. °°° Ketika dua insan mencari kebahagiannya. Begitu pula ada tantangan yang mereka hadapi. Sebuah Pertemuan yang mungkin akan merujuk kearah kebencian...
