20. Sang Pengganggu

23 16 35
                                        

Hai!

Maaf sebelumnya karena cerita ini alurnya aneh dan agak membingungkan karena memang ini hasil pemikiran gabut.

Typo? Tegur aja,

Sama, terimakasih juga yang udah baca cerita ini. Lope U!

Happy Reading

🌼🌼🌼

Dibawah sinar bulan, seorang gadis sedang berdiri di atas jembatan. Matanya menilik semua pengendara yang sudah tidak terlalu padat lagi, di bawah sana juga nampak beberapa pedagang yang hampir tertidur.

Sejak kejadian di sekolah tadi, tepatnya saat Sadam menamparnya sudah membuatnya sakit hati, ia sangat kesal. Bahkan pipinya masih terasa sakit, lelaki gila yang hanya ingin balas dendam.

"Maaf'in gue, Luc..,"lirihnya dengan kepala tertunduk, membuat semua rambutnya ikut menutupi seluruh wajahnya.

Satu langkah kakinya mulai berjalan ke sisi jembatan, entah kenapa ia sudah muak dengan semua ini.

Menjadi budak Sadam yang bahkan memiliki liku yang menyakitkan, papanya yang kini memiliki hutang dengan keluarga gila itu, sungguh kenapa dirinya yang menjadi incaran dan tameng untuk menjatuhkan.

Perlahan Luna memejamkan matanya sambil menghirup udara di jembatan yang kian makin jarang di lewati orang-orang. Kedua tangannya sudah merentang lebar, entah apa yang sedang di pikirannya saat ini, namun dari bawah jembatan itu orang-orang yang mulai menyadari kegilaan Luna pun berteriak meminta di turun.

Lekas, Luna membuka matanya, ia mengerutkan keningnya seolah orang tersebut mengatakan hal yang membingungkan nya.

"Lo gila!" Teriak seseorang dari arah samping Luna, ia berlari menghampiri Luna.

"Lo pikir dengan lo bunuh diri seperti itu, gue bakal lepasin lo?! Lo nggak takut mati?!" Tanya lelaki itu yang tak bukan adalah Sadam.

"Sadam?" Heran Luna, ia malah nampak bingung karena lelaki itu mengatakan kalau ia akan bunuh diri, apalagi orang-orang yang berada di bawah jembatan itu meneriakinya supaya tidak melanjutkan hal yang akan membuat dirinya rugi.

"Menjauh dari situ Luna!"teriak Sadam.

lekas Luna memundurkan langkahnya, ia juga nampak gelagapan.

Setelah merasa Gadis itu sudah tidak berada di sisi jembatan lagi, Sadam Pun menghampirinya dengan nafas legah.

"Sadam--"

Plakkk!

Satu tamparan yang sangat pedas dan perih menyentuh pipi kiri Luna, gadis itu meringis lagi-lagi ia bertemu dengan Sadam dan lagi-lagi lelaki itu menamparnya.

Tidak mau kalah, Luna pun mengangkat tangannya, menatap nanar Sadam dengan sorot mata yang sudah berair karena memang tamparan itu sulit menutup jatuhnya air matanya yang selalu saja keluar karena rasa perih itu.

"Apa mau lo! Lo takut kalau gue mati?!" Teriak Luna didepan Sadam.

Lelaki itu tidak menjawab, ia menatap gadis itu lekat.

"Lo nggak usah sok peduli sama gue! Lo itu bajiangan yang cuman manfaatin gue buat jatuhin Luca, bangsat!" Lanjut Luna lagi, dan kali Sadam benar-benar terpancing.

Lelaki itu langsung menarik rambut Luna membuat gadis itu mendongak dengan rasa dua kali lipat sakitnya dari tamparan sebelumnya.

"Lo bilang apa hah?!" Tarik Sadam tambah kencang.

"Akhhh!"

" Lo juga sama...., sama-sama bangsat! Lo pikir dengan lo ngatain gue kayak gini, lo akan bisa di maafin sama Luca lagi hah?!"

Luc'eenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang