Brak!
Satu hentakan tangan saja sudah membuat pemilik meja itu tersentak kaget. Sedangkan sang berulah, menatapnya penuh rasa benci pada cowok yang ada di meja itu.
Beruntung suasana kelas itu masih kosong, hanya terdapat cowok itu sendirian duduk di mejanya.
"Lo bilang Luca mau maafin gue. Mana coba?! Malahan dia narik cewek lain di depan mata gue." Ucapnya dengan rasa jengkel, sebab lawan bicaranya hanya memperlihatkan wajah yang santai, seperti tidak peduli.
"Jangan mentang-mentangan karena bisnis orang tua gue yang turun, jadi lo bisa mempermainkan gue, bangsat!" Kulitnya yang terlihat memucat pun terlihat memerah. Dadanya naik turun, dengan mata masih tajam kearah lawan bicaranya.
Satu tangan Luna memegangi dadanya, ada rasa sakit terasa Ia cemburu, melihat kedekatan Luca dan siapa nama cewek itu? Oh iya, Aileen.
"Gue gak mau tau, bagaimanapun caranya lo harus selesain ini. Gue gak mau hubungan gue sama Luca semakin buruk hanya karena dendam lo itu." Ucap Luna lalu dengan cepat berlalu di sana.
Nampak terlihat seulas senyum yang tidak seperti biasanya terlihat dari bibir cowok itu, matanya kini menatap kearah samping, tepatnya pada jendela yang sedang terbuka.
"Ini baru permulaan Luca."
🐼🐼🐼
Aileen memasuki perpustakaan di sekolahnya dengan satu buku tulis dan kotak pensil di tangannya. Ia berhenti saat berada di rak buku yang terselip beberapa buku berbau rumus. satu tangannya, mengambil barang itu dan setelah dapat, Aileen pun mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas di bukunya.
Matanya bergerak meneliti semua penjabaran rumus dan pengerjaan soal yang sekarang di kerjakan nya itu. Lembar perlembar berlalu di lewatinya dengan kening yang kadang mengerut lalu tersenyum, ketika sudah mendapatkan jawabannya.
"Oi, ngapain lo disini? Bolos?" Tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Aileen.
Aileen mengenali suara itu, ia menoleh sekilas lalu kembali menulis lagi. Tak ada waktu bagi Aileen untuk meladeninya.
"Salah! Cara pengerjaan lo salah. Sini gue ngerjain."tarik Luca pada buku Aileen dan mengambil pulpennya.
Aileen yang mendapati itu, tentu kembali ingin merebutnya namun, dengan satu lirikan tajam saja sudah membuat dirinya ciut dengan rasa jengkel pada sikap Luca.
"Luca, jangan sok tau deh."
"Sebentar."tahan Luca saat Aileen kembali ingin menarik bukunya.
Dan tidak menunggu lama, Luca pun menyerahkannya kembali kepada Aileen, alisnya bergerak naik-turun membuat Aileen berdengus kasar.
Aileen melihat pengerjaan Luca ternyata sama dengan buku yang di pinjamnya di perpus, dan jawabannya pun benar. Ia sedikit malu, namun terlalu gengsi untuk mengucapkan maaf.
"Gimana? Benerkan jawaban gue? Mangkanya kalau susah itu, minta bantuan sama orang yang bisa." Luca menyentil kening Aileen membuat cewek itu meringis kecil.
"Tumben baek. Kamu- eh elo gak masuk kelas?"tanya Aileen lalu menggigit bibir bawahnya dengan senyum canggung kearah Luca.
Tentunya ekspresi itu membuat Luca langsung terkekeh kecil, ia dengan jari jahilnya langsung mendorong kepala Aileen membuat cewek itu hampir saja jatuh dari tempat duduknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luc'een
Novela JuvenilJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR NYA OKAY!! Maafkan jika, banyak Typo yang bertebaran. Tegur aja, okay. °°° Ketika dua insan mencari kebahagiannya. Begitu pula ada tantangan yang mereka hadapi. Sebuah Pertemuan yang mungkin akan merujuk kearah kebencian...
