Kembali lagi sama cerita Luc'een.
Maaf kalau part ini kurang panjang, juga kurang dapat kesannya.
Langsung aja!
Jangan lupa Vote dan Share ke teman-teman kalian ceritanya.
Kalian juga boleh kasih saran maunya gimana alurnya.
Happy Reading
🍒
Malam semakin berlalu, nampak suasana kafe kembali pada ketenangan setelah kejadian beberapa menit lalu membuat orang-orang yang berada di sana syok.
Cinta seseorang yang dekat dengan Aileen, mengambil barang-barang sahabatnya itu untuk ikut pergi bersama Aileen.
"Aileen bangun...,Lin..,"panggil Cinta dengan hati tidak tenang.
Kepala Aileen berada di pangkuan Cinta, beruntung sang anak pemilik kafe mau mengantarkannya ke Rumah Sakit. Dia Luca, cowok itu sesekali melihat ke arah kaca di atas kepalanya untuk melihat keadaan kedua gadis yang ada di belakangnya.
"Lo bisa diem gak??" Tanya luca.
"Luca, kening Aileen Biru banyak darahnya juga. Gue gak sanggup liatnya. ayo Lin bangun....." Lirih Cinta menahan isakkannya karena tidak sanggup melihat keadaan Aileen.
"Yah gak usah dilihatin lah Bego!"
"Sama Kakinya..hiks...kakinya Aileen---"
"Lo bisa diem gak?! Percuma lo panggil gak bakalan bangun dia!! Kalau lo gak mau liat keadaannya seperti ini, mending lo turun aja dari mobil gue! Mau!?" Tanya Luca dengan sorot mata tajam, itu terlihat dari kaca atas yang memperlihatkan langsung wajah Cinta yang penuh dengan air mata.
"Engh...Eng-Enggak.." geleng Cinta dengan sesegukkannya.
"Makanya diam!"pekik Luca sambil melajukan kecepatan Mobilnya.
"Aileen, hiks..hiks.."
meski sudah tidak banyak omong lagi, tapi suara panggilan itu tetap saja keluar dari mulut Cinta membuat Luca hanya bisa berdecak kesal didepan karena merasa bising dengan suara Cinta.
Permintaan Luca hanya satu, ia mau agar gadis yang di belakangnya itu diam, tenang tanpa menangis lagi karena ia sendiri harus konsentrasi untuk menyetir. Tapi, ini? Ah! Mengesalkan.
Sampai di Rumah Sakit, Aileen langsung di bawa dan ditangani oleh para perawat dan dokter.
Di sana juga sudah ada Fahri dan Agung yang terlebih dulu sampai dengan menggunakan Taxi dengan sang pembayar adalah Luca. Mereka berdua lah yang lebih dulu melapor dan bersiap-siap untuk menjemput Aileen agar lekas ditangani.
Kini, mereka berempat sedang berada di tempat tunggu, menunggu dokter yang menangani Aileen keluar.
Raut wajah orang-orang yang ada di sana sangat khawatir dengan keadaan Aileen kecuali satu orang, yang sedang menikmati layar ponselnya dengan raut wajah datar, entah apa yang sedang di lakukan oleh cowok itu yang bahkan tidak ada raut wajah khawatir dari mukanya.
"Udahlah Cin, gak usah nangis terus. Didalam Aileen sudah di tangani oleh Dokter juga, jadi lo tenang aja." Ucap Agung yang langsung di beri anggukkan oleh Cinta meski sesekali masih terdengar suara isakan dari mulutnya.
"Tapi tadi Aileen jatuhnya parah banget Gung... Hiks...hiks..," tutur Cinta sendu.
"Iya gue tau, lagian Dokter juga sudah menangani Aileen jadi lo tenang aja," balas Agung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luc'een
Teen FictionJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR NYA OKAY!! Maafkan jika, banyak Typo yang bertebaran. Tegur aja, okay. °°° Ketika dua insan mencari kebahagiannya. Begitu pula ada tantangan yang mereka hadapi. Sebuah Pertemuan yang mungkin akan merujuk kearah kebencian...
