22. Syarat yang tidak terduga

18 15 18
                                        

HAPPY READING✨

🌼🌼🌼

Waktu siang sudah datang, membuat rasa bosan, bosan dan selalu bosan datang menghampiri setiap saat pada Agung. Ia hanya uring-uringan di kamar dengan diiringi lagu sedih ost titanic menggema di kamarnya.

Sesekali ia duduk lalu tak lama terbaring lagi dengan rasa gelisah, bukan gelisah karena masalah yang berat melainkan gelisah karena bosan di tinggal sendirian di rumah.

"Apa gue suruh Fahri aja ya datang?" Tanyanya pada diri sendiri.

Tidak berapa lama ia pun segera mengambil ponselnya yang tergelatak tak berdaya di lantai kamar itu. Ia pun segera mencari nomor Fahri lalu menelponnya.

Akhirnya sambungannya tersambung membuatnya yang awalnya lesu, langsung tersenyum senang.

"Oohh, kaga bisa pren! duit gue kaga ade, maaf ye,"

Mendengar itu lekas Agung melototkan matanya. Lalu menggelengkan kepalanya, karena sudah biasa di sambut dengan Fahri seperti itu di balik telpon.

"Lo bisa ke rumah gue nggak? bosan gue,"

"Iya gue sama. Bosan juga kalau ketemu sama lo," Balas Fahri membuat Agung hanya bisa membuang nafasnya.

"Cih! Gue traktir deh, yuk temenin gue makan," ajak Agung kepada Fahri.

"Ya, gini nih kalau jomblo, dimana-mana pengen di temenin, cari pacar aja noh! sana lo," balas Fahri membuat Agung tertawa.

"Itu dia, gue pengen ketemu sama Cinta di kafe milik Luca. Yuk temenin gue!"

"Ogah! gue jadi obat nyamuk di sana,"

"Ayo dong! Gue traktir dah, makan sepuas lo di sono," ajak Agung lagi yang mulai beranjak bangun dari tempat tidurnya.

"Gue benci kebohongan!"

"Gue serius, njer! Buruan siap-siap, gue otewe!"

Tanpa mau mendengar lagi jawaban dari Fahri lagi, Agung pun segera beranjak bangun dari tempat tidurnya lalu segera mematikan sambungan telponnya.

Setelah mengambil kunci motornya ia pun segera keluar d kamar dengan hanya mengenakan kaos hitam dan dengan celana jeans selutut, tak lupa  juga ia mengambil helm full face nya yang berada di kamarnya

Rumahnya memang sangat sepi saat ia melangkahkan kaki turun dari tangga, tak mau heran dengan kesunyian ini, ia pun segera mengambil motornya yang hitam kebanggaannya di garasi lalu segera menjalankannya.

***
Kafe kini sudah terbuka lebar, tak di pungkiri semua pengunjungnya lebih banyak di hari libur ini, liat saja tempat duduknya semuanya terpenuhi oleh pengunjung.

Agung dan Fahri pun segera langsung menuju ke bagian tingkat dua, dan ternyata, yah sama saja, sama-sama penuh karena pengunjung.

"Makin rame aja nih kafe!" celutuk Fahri dengan berkacak pinggang, bingung harus duduk dimana.

Sedangkan, Agung sudah cus ke meja pelayanan untuk menemui Cinta, modus lah.

"Pagi, Cin," sapa Agung.

"Pagi," balasnya, "Tumben datang, mau mesan apa?"

"Biasalah," jawab Agung untuk pertanyaan 'tumben datang' karena memang ia kesini alasannya adalah hanya untuk menemui Cinta, ya, biasalah!.

"Ooh okeh, gue catat dulu, yang biasakan? Bentar yak!"

Mendengar itu, Agung hanya bisa memukul jidat karena ternyata Cinta salah paham, cewek itu pikir, ia memesan minuman seperti biasanya. Padahal ia pergi kesini hanya untuk menemui cewek itu.

Luc'eenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang