Something just like this

1.2K 129 3
                                        

Author pov

Levin sedang menikmati secangkir kopi kesukaannya sambil memandangi hamparan gedung-gedung di depannya bersama Nadine, mereka memutuskan untuk pergi ke restoran yang memiliki rooftop untuk menikmati Jakarta sore hari ini.

"Jadi apa yang selalu buat kamu melamun hari ini?" Tanya Nadine memecah keheningan.

"Aku gak yakin bisa cerita ini ke kamu atau enggak, aku cuma gak mau aja tiba-tiba nangis depan kamu." Ujar Levin terkekeh.

"Nih." Ucap Nadine sambil menyodorkan sesendok es krim ke arah Levin.

"Biasanya kalo aku sedih atau bad mood, cuma es krim yang jadi mood boosterku. Udah cepet aaaa.." Jelas Nadine yang sedikit memaksa, yang akhirnya dituruti oleh Levin.

"Selain suka ngikutin aku, kamu pun juga suka maksa ya." Ucap Levin yang akhirnya membuat mereka tertawa.

"So, apa kamu akan cerita masalahmu sekarang?" Tanya Nadine dengan nada yang jauh lebih serius.

"Haaahh... Oke, jadi..."

Levin pun menghela nafasnya dengan kasar, lagi-lagi dia harus menceritakan kejadian yang sangat menyakitkan untuknya. Nadine pun terlihat serius mendengarkan Levin bercerita, sampai akhirnya dia hanya bisa menutup mulut dengan ke dua tangannya. Tak menyangka bahwa ada orang yang sejahat itu.

"It's ok, sekarang semuanya udah selesai. Aku rasa gak ada yang percuma dengan apa yang kamu jalani selama ini. Anggap aja ini untuk masa depanmu, untuk kebahagiaan dirimu sendiri nantinya. Kamu gak perlu larut dalam masalah ini, dan aku rasa dia akan sangat menyesal dengan kepergianmu setelah ini. Jangan sedih terus, kamu gak sendirian Lev, dan hidupmu masih terus berjalan." Ucap Nadine sambil mengelus punggung Levin.

"Makasih ya, kayaknya ini efek es krim yang tadi kamu kasih. Buktinya aku udah gak nangis cerita semua ini ke kamu." TawaLevin.

"Tapi kalo menurutku ya lev, kayaknya kamu harus terus nyelesaiin syarat dari orang tuanya Stevi. Mungkin kamu gak perlu restu dari mereka lagi setelah apa yang sudah anaknya lakukan ke kamu, tapi paling tidak tunjukan ke mereka bahwa kamu bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka berikan sama kamu. Toh berkat permintaan ayahnya Stevi juga kan kamu punya ilmu baru yang bisa kamu pakai nantinya."

"Kamu bener nad, mungkin ini tanda balas budiku ke om Danu karna sudah memberikanku kesempatan untuk hidup yang lebih baik."

Nadine pun hanya mengangguk dan menunjukkan senyum tulusnya mendengar penuturan Levin.

Sepertinya aku sudah terperangkap masuk dalam pesonamu lev, meski pun aku harus berjuang setengah mati untuk kembali membangun kepercayaanmu. Aku pasti mendapatkan hatimu lev. Batin Nadine.

***

Sudah 2 hari semenjak kejadian Levin memergoki Stevi berselingkuh dengan perempuan lain, kini Levin dan Nadine pun berada di bandara untuk kembali ke Sydney. Sebelumnya Levin sempat mengajak Nadine untuk mengunjungi keluarganya. Tanggapan baik yang di terima Nadine ketika Mama Levin sangat hangat dan ramah.

Setelah berada di dalam pesawat, Levin memilih untuk melanjutkan tidurnya sedangkan Nadine sibuk membaca novelnya. Sesekali Nadine melihat Levin yang terlelap begitu damai yang dia rasakan.

"Jangan ngeliatin terus, nanti naksir loh!" Ucap Levin dengan mata masih terpejam.

Nadine yang kaget akan ucapan Levin pun langsung kembali pura-pura sibuk membaca novelnya, bagaimana Levin bisa tau sedang diperhatikan? Padahal dia memakai kacamata tidurnya.

Our Coffee (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang