Jakarta, 3 tahun yang lalu
Stevi pov
"Kamu serius sama pilihan kamu Stev? Kamu yakin beneran minggat dan ninggalin orang tua kamu di Surabaya?" Tanya seseorang perempuan berwajah manis di hadapanku dengan mimik wajah yang serius.
"Iyaa aku yakin sayang. Kenapa? Kamu gak mau terima aku di Jakarta?"
"Bukan itu Stevi Kenycta Sudiro. Masalahnya kamu itu terlalu membahayakan diri kamu sendiri. Kamu sendiri bilang papamu itu bisa melakukan apapun demi misahin kita, sekarang kamu malah nekat ke Jakarta dan milih tinggal sama aku disini." Jawabnya cemas.
"Dengar ya Mozardevanya, papa sama mama aku memang bakal ngelakuin apapun kalo aku sampe tinggalin rumah, tapi aku kasih mereka pilihan. Tetep terima aku apa adanya atau aku juga bakal lakuin apapun kalo aku gak boleh hidup sama kamu. Intinya aku bakal nunjukin ke mereka kalo aku bisa hidup di sini sama kamu dan kamu bakal jagain aku baik-baik." Jelasku untuk menenangkannya.
"Ok, ok. Apapun yang terbaik menurutmu sayang. Dan aku harap orang tua kamu gak akan mencelakakan kita nantinya. Aku akan buktiin sama mereka kalo aku juga pantas jadi menantunya walaupun aku seorang perempuan." Ucapnya semangat.
Hubungan kami memang tidak mudah, ketika aku memberanikan diri untuk jujur dengan kedua orang tuaku mengenai hubungan kami, tanggapan kurang baik yang kami dapatkan. Bahkan Moza sampai harus ditampar oleh papa yang saat itu memandang jijik kami berdua.
Segala bentuk umpatan dan hinaan yang kami dapatkan, mereka pun seolah lupa bahwa aku adalah anak kandungnya. Seumur hidupku selalu menuruti apa kemauan mereka dan selama itu pula aku selalu mengikuti segala perintah mama dan papa. Tapi tidak kali ini karena aku sudah muak dengan semuanya dan aku memilih untuk pergi dari rumah dan menyusul Moza ke Jakarta.
***
Dia alasan kenapa aku ada di sini saat ini, dia alasan kenapa aku selalu bahagia meskipun kehidupan kita kurang dari kata cukup. Pagi ini aku terbangun untuk pertama kalinya dengan seseorang yang akan terus ada di hari-hariku berikutnya.
"Morning sweety, udah aku bikinin sarapan. Oiya cobain kopi paling nikmat buatan aku." Ujar Moza.
"Aahh kamu pagi-pagi so sweet banget sih za, Setau aku sih yaa yang namanya kopi itu sama aja. Kalo gak pahit ya manis. Yang pahit kopi hitam tanpa gula yang manis kopi susu pake gula."
"Payah ah kamu mah. Udah berapa lama sih kita pacaran masa pacarnya penggemar kopi masih aja menilai kopi sestandar itu." Mukanya langsung cemberut.
"Hahaha, sini sayang sini aku cobain. Gitu aja ngambek. Uuuuuuu.. Enak. Moza emang paling the best kalo bikin kopi. Kenapa kamu gak buka Coffee Shop aja sekalian?"
"Nah itu dia, aku baru mau omongin ke kamu. Temen aku nawarin tempat di mall gitu, semacam food corner tapi outdoor. Jadi kita gak cuma jualan kopi aja."
"Terus yang masak siapa?"
Moza hanya tersenyum dan berkedip kepadaku.
"Aku? Oh no za, kamu gila nyuruh aku masak? Kamu kan tau, aku gak mau masak lagi gara-gara dapur aku hampir kebakaran?!"
"Yaampun Stev, cuma karna itu aja kamu kapok? Masakan kamu itu enak kok. Lagian kita gak akan nyediain makanan yang ribet, yang simple-simple aja. Sambil nanti aku cari koki untuk tempat kita."
"Modalnya gede ya za?"
"Udah gampang kamu gak perlu pikirin."
Dan hari itu juga Moza langsung mengajakku ke tempat temannya, tempatnya memang enak, strategis dan walaupun out door rasanya nyaman banget. Tanpa ku tahu ternyata Moza sudah kasih DP temannya dan dia pun sudah menghubungi temannya yang arsitek untuk dekor semua sesuai kemauan dia.
"Kamu tuh ngebet banget ya za? Sampe segininya, udah kamu perhitungin semuanya belum?"
"Tenang aja sayang, kamu tinggal tau beres. Semua udah aku pikirin baik-baik."
"Tapi aku request kalo barnya di tengah ya. Biar kalo kamu ngebar semua bisa liat kamu bikin kopi kamu yang enak banget itu."
"Iya sayang iya."
***
Moza pov
Akhirnya semua mimpiku tercapai. Punya usaha sendiri, punya pacar yang sangat mencintaiku dan berkatnya aku masih bisa bertahan sampai detik ini. Ya, meskipun kami sudah 1 tahun pacaran tapi masih ada hal yang Stevy tidak tahu. Dia tidak mengetahui bahwa aku sakit, dan itu sengaja tidak aku beri tahu karena aku tidak ingin membuatnya sedih.
Tapi akhirnya semua itu harus aku ungkap setelah Stevi bertanya mengenai obat-obatan yang dia temukan di laci lemariku.
"Obat apa ini za? Kenapa banyak banget? Kamu sakit?" Tanyanya cemas.
"Ha? Enggak kok, itu cuma vitamin aja. Aku selalu inget almh. Mama untuk jaga kesehatan aku makanya aku stok vitamin sebanyak itu." Jawabku berusaha tenang.
Dengan wajah penuh curiga dan emosi yang mulai naik Stevi terus memaksaku untuk jujur, dan akhirnya aku mengalah, aku cepat atau lambat Stevy pasti tahu tentang penyakitku ini.
"Jawab jujur Mozard! Sejak kapan kamu jadi pembohong kayak gini! Aku bukan anak kecil." Tegas Stevi dengan emosinya.
"Iyaa iyaa aku jujur, itu obat penenang. A.. Aku sakit Stev. Aku takut kamu terlalu khawatir sama aku, aku gak mau kamu jadi terlalu ke pikiran sama keadaan aku"
Stevy pun diam, dia tertunduk mencoba memahami apa yang aku bicarakan dan perlahan dia mulai menangis. Emosi yang tadi memuncak kini turun derastis. Aku pun memeluknya untuk membantu menenangkan tangisannya ini.
Oh Stevi ku. Maaf aku membuatmu menangis. Batinku.
"Makasih ya za." Lirihnya.
"Kamu kenapa Stev? Kenapa berterima kasih?" Tanyaku heran.
"Gak apa-apa sayang. Aku cinta sama kamu, maaf aku terlalu keras sama kamu. Aku sayang banget sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya. Aku terima kamu apa adanya." Ucapnya sendu.
Bagaikan tersengat listrik kakiku semua melemah dan pelukan Stevi semakin erat terasa.
"Mulai sekarang jangan sakit sendirian, kamu harus berbagi sama aku. Kita hidup berdua, bahagia berdua dan sakit juga harus berdua. Ajak aku ke mana pun kamu pergi za, aku cinta kamu"
Kekasih ku tapi tidak untuk hidupku
Awalnya selalu manis tapi akhirnya tidak akan selalu manis
Dia memang wanita, tapi dia bahagia ku
Dia segalanya dan sudah menjadi selamanya
Mozardevanya
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Coffee (Completed)
Fiksi RemajaKetika sebuah perasaan diibaratkan dengan secangkir kopi. Tak selamanya kopi itu pahit dan tak selamanya rasa itu manis Semua tergantung jenis kopi dan sebanyak apa gula yang ditambahkan.
