I love you Lev

3.2K 262 14
                                        

Levin pov

Sosoknya sangat jelas di depanku sekarang. Masih memakai baju kerja yang tadi dia gunakan, mungkin dia langsung kesini. Aku bingung harus senang, kaget, atau malas menghadapi wanita yang sekarang duduk di hadapanku ini. Sambil menikmati makan malam masakan Mama, dengan lahap dia makan seperti sudah berhari-hari tidak makan.

"Makannya pelan-pelan kali Stev, keselek nanti."

"Masakan Mama kamu enak Lev, udah lama gak makan masakan orang tua sendiri." Jawab Stevi sambil memperlihatkan deretan giginya.

"Memang kenapa? Udah lama gak pulang ke Surabaya?" Tanyaku polos.

Stevi nampak terdiam dengan pertanyaanku, selesai menyantap makanan, kami langsung menuju ruang tv. Mama Papa memang sudah masuk kamar, tampaklah ruangan sepi dan hening hanya suara tv yang terdengar. Pada akhirnya aku yang harus memecahkan keheningan ini.

"Kamu ngapain kesini malem-malem?"

"Gak boleh memang?"

"Ya boleh, tapi kenapa malem-malem gini?"

"Sengaja, wong aku mau nginep di sini."

"Hah????? Nginep???"

"Emang kenapa sih Levinaaaa? Aku kan pacar kamu sekarang"

"Duh jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti Mama Papa denger!"

"Hehe, iya maaf sayang."

Stevi mau menginap? Apa yang akan terjadi malem ini? Aku semakin takut kalau tiba-tiba Stevi agresif. Tuhan apa yang harus aku lakukan.

***

Kini kami sudah berada di kamar, rasanya canggung ketika harus 1 tempat tidur dengan orang lain. Aku pun masih bingung bagaimana cara menghadapi Stevi sekarang. Dia sepertinya benar-benar serius akan perkataannya tadi.

"Lev, kamu udah tidur?" Tanya Stevi yang mungkin sedang menatapku yang sudah menutup mata.

"Hhmm"

"Ahh jangan tidur dulu dong aku masih pengen ngobrol sama kamu."

"Duh Stev, besok aku udah harus masukin lamaran lagi."

"Siapa yang ngizinin kamu untuk keluar dari kafe?"

"Kan aku yang bilang mau resign."

"Kamu gak perlu resign dan kamu juga gak perlu cari kerjaan lagi, kalau kamu mau kamu bisa gantiin aku jadi owner di sana." Ucap Stevi santai.

"Jangan gila deh Stev. Aku tadi udah pamitan sama anak-anak kafe terus tau-tau aku besok balik lagi dengan jabatan sebagai owner? Gak waras kamu."

"Kok gak waras? Kan kamu pacar aku."

"Pacar? Memang kita pacaran?"

"LEVINAAAAAA !!!!!"

"Apa sih Stevi Kenycta Sudiro, berisik malem-malem ih!"

"Abis kamu ngeselin banget."

Stevi tuh lucu kalo lagi ngambek, dia tidur di atas bahu kananku sekarang. Jantungku mendadak berdegup kencang. Rasanya sudah lama sekali, sudah sekitar 1 tahun setelah perpisahanku dengan Monic. Aku mencoba untuk menenangkan perasaanku sekarang dan tiba-tiba sebuah tangan jenjang melingkar di perutku, mencoba untuk memasuki bawah pinggangku yang terhimpit kasur. Dekapannya makin erat, dan tunggu sepertinya dia menangis. Stevi menangis lagi? Pasti dia inget Moza lagi. Entah harus cemburu atau kasihan yang jelas hati ini ikut sakit mendengar tangisannya.

"Kamu kangen Moza lagi? Kenapa gak datengin ke makamnya?"

"Siapa yang kangen Moza sih?"

"Kamu, kamu nangis karna keinget dia lagi kan?"

"Kamu negatif terus sama aku? Aku gak sama sekali mikirin Moza kok"

"Terus kenapa nangis?"

Stevi tidak menjawabnya malah justru memelukku makin erat dan aku pun membalas pelukannya. Nyaman, sangat nyaman rasanya.

"Makasih ya Lev, aku tau kamu masih ragu akan pilihanmu. Maaf sudah menjadi orang egois yang memaksamu untuk menjadi kekasihku, mungkin ini terdengar tidak masuk akal ketika aku dengan mudah mencintaimu dalam waktu yang singkat. Tapi aku pun tidak bisa membohongi perasaanku terhadapmu." Ucapnya masih dengan memelukku.

"Aku akan berusaha semampuku untuk memiliki cinta untukmu Stev, kita jalani dulu aja yang sekarang. Maaf jika aku selalu marah jika kamu mengingat masa lalumu."

Stevi pun membenamkan kepalanya dalam ceruk leherku. Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang, dan tidak tau juga harus seperti apa ke depannya. Sepertinya aku harus mencoba membuka hatiku untuknya.

Perlahan dengkuran halus terdengar dari Stevi, tapi aku masih belum bisa tidur. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan Bella, mungkin hubunganku dengannya terlihat tidak terlalu dekat. Tapi Bella mampu mencuri perhatianku dari awal pertemuan kami.

Stevi melepas pelukannya dan aku pun beranjak pergi keluar mengambil air, apakah lebih baik aku menelepon Bella?

***

Kau bilang kau cinta kopi
Tapi kau selalu mengeluh kopimu pahit
Kau bilang kau cinta seni
Tapi kau selalu menggerutu karyamu payah
Kau bilang kau cinta hidupmu
Tapi kau selalu bercerita hidupmu tak bahagia

Lalu ketika kau bilang kau cinta aku
Apa kau juga bilang cinta yang lainnya?
Ketika kau bilang merindukanku
Apa kau juga bilang merindunya?

Sebenarnya kau mau apa?
Masuk di hidupku lalu pergi begitu saja?
Hatiku ini kau anggap apa?
Cintaku ini kau buang dan berlalu?

Hey, aku wanita tak sempurna
Kau menggenggam hatiku
Lalu kau hempaskan sekuat tenaga
Dan kini aku sibuk menyusunnya lagi untukmu

- BA

Bella pov

Arlojiku menunjukkan pukul 10 malam, tapi aku masih di sini di tempat pertama aku bertemu dengan Levin. Aku tahu Keny sedang berada di rumah Levin sekarang, aku pun tidak paham mengapa ini sakit. Aku menganggap Levin sahabatku tapi mengapa ada rasa cemburu? Dan tulisan ini? Tertulis begitu saja.

Aku masih tidak mengerti, mengapa aku bisa merasakan sakit ketika mereka terlihat akrab, apakah aku mencintai Levin? Kekasih dari sepupuku sendiri. Aku hanya berharap semoga rasa ini hanya sementara.

Nama Levin tertera di ponselku, ada apa dia meneleponku? Bukannya dia sedang bersama Keny?

"Iya Lev, ada apa?"

"Gak apa - apa, kamu masih di luar ya? Kok masih kedengeran suara kendaraan?"

"Iya aku lagi di tempat pertama kita ketemu. Kamu bukannya lagi sama Keny?"

"Dia udah tidur. Pulanglah Bel, udah malem. Aku jemput ya?"

Jangan lagi berikan aku perhatian kecilmu Lev, rasanya cukup sakit mengingatmu sedang bersama orang lain saat ini.

"Halo Bel, kamu masih di sana kan? Tunggu aku ya, aku jemput kamu sekarang."

"Eh.. G-gak usah Lev, aku juga udah mau pulang kok. Nanti kalo kamu pergi, Keny

malah khawatir kamu gak ada. Bye Lev."

"Oh oke, hati - hati ya."

Aku pun menutup teleponnya. Entah kenapa air mata ini tiba tiba menetes, aku hanya bisa merasakan sesak di dadaku.

I think, i love you Lev Gumamku yang melihat display picture Levin di ponselku.

Our Coffee (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang