Leave your lover

1.8K 160 2
                                        

Stevi pov

Rasanya cemburu ketika orang yang kita cintai berdekatan dengan orang lain. Di tambah perlakuan laki-laki itu tidak bisa dikatakan biasa saja atau hanya sebatas teman, tapi apa aku bisa menggunakan egoku untuk melarangnya dekat dengan orang lain? Sedangkan kami hanya sekedar melampiaskan kerinduan dan perasaan kami semalam, belum ada kata pacaran yang bisa mengikat kami sebagai sepasang kekasih.

Kenapa rasanya begitu sakit? Aku duduk di sini melihatnya tertawa lepas dengan orang lain, tawa yang seharusnya hanya bisa dia tunjukan ketika dia bersamaku. Kenapa sesulit ini rasanya untuk bisa bersama dengannya lagi? Apa pun akan aku pertaruhkan untuk bisa bersama dengannya lagi.

"Lev, kamu sama Riko pacaran?" Tanyaku memecahkan keheningan.

"Hah? Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu? Kan kamu tau gimana aku ke cowok Stev."

"Tapi sepertinya dia jatuh cinta sama kamu."

"Ya memang, dia sudah mengungkapkannya. Tapi hati ini gak bisa nerima dia. Aku pun masih belum tau perasaan ini seperti apa."

"Maksud kamu?"

"Aku gak tau apa yang lagi aku rasain Stev."

Setelah mendengar pernyatannya, seperti ada ribuan pisau yang dengan sekaligus menghantam tubuhku bertubi-tubi. Apa dia kembali ragu akan perasaannya kepadaku? Tapi aku tidak akan menyerah aku akan terus memperjuangkan perasaan ini untukmu Lev.

Levin pov

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Jujur perasaan ini masih ada untuk Stevi tapi setiap mengingat kejadian yang membuat aku sakit. Takut dan ragu itu selalu datang. Belum lagi perhatian yang di berikan Riko yang mungkin wajar sebagai laki-laki yang mencintai seorang perempuan. Tapi tetap hati ini tidak bisa menerimanya.

Oh come on Lev, lo gak bisa terus terusan nyalahin Stevi yang sangat mencintai mantannya, harusnya lo bisa buktiin ke Stevi kalo lo juga bisa ngebahagiain dia dan mencintai dia. Mungkin lo gak bisa jadi Moza, tapi lo cukup jadi diri lo sendiri. Hatiku pun mencoba meyakinkan pikiranku.

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam menatap lurus ke depan. Begitu juga dengan Stevi, aku tahu hatinya hancur mendengar perkataanku. Karna aku juga tahu dia masih begitu menyayangiku. Munafik memang tapi aku lebih memilih untuk mengistirahatkan hatiku.

Sesampainya di rumah, Stevi langsung pamit kembali ke apartemennya. Aku pun langsung masuk ke dalam kamar, merebahkan badanku. Menatap langit kamarku dan bermonolog dengan diriku sendiri.

Salahnya di mana? Bagaimana mengobatinya? Apa memang sudah tidak pantas bahagia? Bisa gila kalai dibiarkan seperti ini. Jangan sampai hati ini membeku, jangan sampai aku tidak mampu mengendalikan otakku yang kini sudah sangat menang dari hatiku.

"Tolong jangan jadi manusia munafik yang selalu menyalahkan Stevi yang belum bisa melupakan masa lalunya. Semua ini salah lo yang gak mau berusaha lebih. Kalo lo masih kayak gini gue yakin, lo bakal selamanya kehilangan dia."

Shit! Siapa tadi? Itu bukan kata-kata monolog yang aku keluarkan, seperti ada seseorang yang memperingatkanku. Atau itu hanya halusinasiku? Ah sudahlah, lebih baik aku tidur.

***

Keesokannya aku terbangun terlalu siang dengan keadaan yang masih merasakan lelah. Tidak pernah merasakan selelah ini, tidak pernah merasakan serumit ini. Kalaupun lelah aku hanya beristirahat sebentar, tapi ini jangankan ingin berjalan lagi berdiri pun belum tentu aku mampu. Untungnya hari ini aku libur.

I don't have much to give, but I don't care for gold

What use is money, when you need someone to hold? ~

Our Coffee (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang