Yes! Akhirnya aku dapat pekerjaan ini. Sorakku dalam hati.
Rencananya setelah dari sini, aku tidak akan langsung pulang, aku mungkin akan ke kedai kopi langgananku dekat sini.
Kenapa kopi lagi? Karena aku memang pecinta kopi, aku suka membuat kopi dan aku suka meminum kopi, kadang kopi bisa menghilangkan strees. Walau pengetahuanku belum terlalu pintar tentang kopi, tapi rasanya aku memang tidak bisa jauh dari segelas kopi. Sesampainya aku kedai kopi itu, aku langsung duduk di tempat favoritku di kedai ini yang berada di pojok ruangan.
Di sini tidak ada bebas asap rokok mungkin karena tempatnya yang tidak terlalu besar. Tapi kedai ini cukup nyaman dengan fasilitas yang tidak kalah dengan kafe-kafe besar, makanya kedai ini juga jarang sepi pengunjung.
Tak lama salah satu pelayannya datang menghampiriku.
"Sore kak, mau pesan apa?"
"Saya mau Affogato mineral gak dingin sama onion ring daannn... itu aja dulu deh. Hehehe" Tawaku bingung karena pesanannya terlalu banyak.
"Baik, ditunggu pesanannya ya kak"
Pelayan itu lalu pergi, aku mulai memainkan ponselku sambil menunggu pesanan. Sedang asik memainkan game kesukaanku, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyapaku.
"Misi, apa kursi ini ada orangnya? Boleh aku numpang duduk di sini?" Dia bertanya sambil menunjuk kursi yang ada di seberangku, spontan aku juga melihat ke sekeliling mejaku yang ternyata sudah ramai pengunjung.
"Oh, gak ada kok, yaa silah kan aja." Jawabku tersenyum.
Jika diperhatikan, dia sepertinya sedang menunggu seseorang karena dia terus-merus melihat jam dan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Dan akhirnya suara pelayan menyadarkanku yang terus memperhatikannya.
"Misi kak pesanannya." Kata pelayan yang tadi sambil meletakan pesananku di atas meja.
"Makasih mbak. Emm, kamu gak pesen?" Tanyaku ke perempuan di hadapanku yang masih sibuk menghubungi seseorang.
"Nanti aja deh, aku masih nunggu orang." Jawabnya tampak tidak enak hati.
"Udah pesen aja atau di pesenin yang recomended dari sini yaa? Mbak, saya pesan Irish sama waffle green tea ya." Ucapku ke sang waiters.
"Baik kak"
"Ih, kamu banyak banget pesannya." Protes perempuan itu.
"Yaa kalo kamu gak mau, aku yang makan. Oiya, aku Levina. Kamu lagi nunggu siapa? Gelisah banget kayaknya?"
"Banyak juga ya kamu makannya." Ujarnya sambil tertawa
"Aku Bella. Aku nunggu sepupuku, kita janjian di sini jam 2 tadi, tapi aku telat karena perjalanan dari bandara ke sini macet. Bahaya kalo dia gak dateng." Lanjutnya, baru kenal saja langsung curhat. Tapi dia lucu sih, kalau dilihat dari logatnya sepertinya dia bukan orang Jakarta.
"Kamu datengin aja langsung rumahnya, memang gak tau alamatnya?"
"Aku lupa minta, setahuku dia tinggal daerah Permata Hijau tapi gak tau alamat lengkapnya. Aku baru pertama kali ke Jakarta soalnya. Dari tadi juga aku hubungin nomornya gak aktif. Masa aku harus balik lagi ke Surabaya?" Tampangnya kini mulai sedih. Aku sungguh tidak bisa melihat perempuan mengeluarkan tanda-tanda sedih seperti itu.
"Waduh susah kalo kayak gitu. Kamu gak ada saudara lain memang di sini?" Tanyaku yang mulai kasihan dengannya, sudah jauh-jauh dari Surabaya, sampai di sini gak ketemu orang yang dicari dan gak tahu alamatnya pula.
"Kenapa dia gak jemput kamu aja di bandara jadi kan gak bakal kayak gini." Lanjutku.
"Dia bilang tempat kerjanya dengan tempat tinggalnya berlawanan jauh kalo dari bandara, makanya dia minta aku untuk janjian di sini. Dia pun cuma tinggal sendiri di Jakarta jadi gak ada yang bisa jemput aku." Sungguh aku kasihan melihatnya.
"Yaudah, tungguin aja dulu sampe dia pulang kerja, mungkin dia lagi sibuk dan hpnya low-bat jadi gak bisa ngabarin kamu. Kalo sampe dia gak ngehubungin kamu juga, kamu nginep aja dulu di tempatku malem ini. Besok baru aku anterin ke tempat sepupumu kalo dia udah bisa dihubungin. Bahaya kalo yang gak tau Jakarta, malam-malam sendirian. Tenang aku bukan orang jahat kok." Ajakku.
"Eh, gak usah ngerepotin kamunya nanti, aku nginep di hotel aja pagi-pagi aku langsung ke bandara." Dia menolak penawaranku. Aku pun tidak ingin memaksa karena takut disangka punya niat jahat.
***
Terlalu asik mengobrol dengan Bella, aku sampai lupa untuk memberi kabar ke Mama, karena aku masih harus menemani Bella yang masih menunggu sepupunya. Tapi saat aku ingin menghubungi Mama, tidak lama ponsel Bella bunyi, mungkin itu dari sepupunya yang sejak tadi dia tunggu.
"Di mana sih?" Tanya Bella kesal.
"...."
"Yaudah iya, aku turun sekarang." Dan dia langsung menutup teleponnya.
"Lev, makasih ya udah mau nemenin aku." Ucapan terima kasih yang sangat manis dengan senyumannya yang begitu menggoda.
Kenapa gue jadi demen sama nih cewek ya? Ckckck. Batinku.
"Iya sama-sama, hati-hati ya."
Bella pamit pulang duluan, karena sepupunya sudah datang menjemputnya. Setidaknya aku tidak khawatir dengannya kalau dia bersama dengan sepupunya.
Lah kenapa gue jadi perhatian amat? Haha. Monologku pelan takut terdengar Bella.
"Duluan ya Lev. Sampe ketemu lagi dahhh." Dia melambaikan tangannya dan berlalu.
Ah masa gitu aja udah love in first sight sih? Mungkin ini first impression karena dia perempuan yang cukup menyenangkan dan sangat bisa membuat orang baru langsung nyaman. Pikirku.
Aku pun langsung merapikan tasku untuk segera pulang. Tapi sebelumnya aku memanggil pelayan untuk membayar pesananku tadi.
"Pesanannya sudah dibayar semua kak." Ucap pelayan itu.
"Lho sama siapa?" Tanyaku heran.
"Sama temennya kakak tadi yang barusan keluar."
Bella? Kenapa jadi dia semua yang bayar? Dan aku lupa meminta kontaknya. Lalu Gimana caranya ngehubungin dia dan bilang makasih? Gak tau juga kapan ketemunya. Biarlah, kalau Jodoh gak kemana. Gumamku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Coffee (Completed)
Roman pour AdolescentsKetika sebuah perasaan diibaratkan dengan secangkir kopi. Tak selamanya kopi itu pahit dan tak selamanya rasa itu manis Semua tergantung jenis kopi dan sebanyak apa gula yang ditambahkan.
