Chapter 21 : Intropeksi diri

17 0 0
                                        

Assalammualaikum temen-temen 😊

Selamat datang kembali di cerita RASYI

Kali ini update nya pendek aja yaa hehe

Lebih baik pendek-pendek tapi sering atau panjang tapi jarang update??

Nggak ada pilihan sering update tapi panjang yaa

Selamat membaca🥰

☘☘☘

Terlalu lelah untuk sekedar bersilat lidah
Karena pada dasarnya kita sama-sama salah

Terlalu pandai menghakimi
Tapi lupa untuk intropeksi diri

☘☘☘

"Lo lihat apa emangnya?"

Rafael menghela nafas panjang, sebenarnya dia sangat malas untuk mengatakannya tapi apa boleh buat jika Arsy terus-menerus memancing emosinya.

"Acara ultah Hilmi, gue lihat semuanya." Rafael memberi klue.

"Lo dateng kesana?"

"Ya."

"Gue biasa aja natap dia waktu di kasih kue."

"Bukan waktu dikasaih kue, tapi waktu dia ngelap bibir lo."

Dheg

Kenapa dari sekian banyak orang harus Rafael yang menangkap basah kejadian itu? Batin Arsy.

Arsy menghela nafas, "Dia kan cuma bantuin gue, udah gitu aja." Ujarnya kemudian.

"Yakin ? Kalau itu sekedar bantu-membantu."

"Dari sudut pandang gue Hilmi hanya membantu, kalau lo pasti ngiranya itu modus kan?"

"Ya, gue dan Hilmi kan sama-sama cowok. Cowok mana sih yang se-care itu ke temen ceweknya? Pasti itu cowok punya rasa luar biasa ke temen ceweknya."

"Lo tuh kenapa sih, overthinking ke Hilmi?"

"Gue bukan sekedar overthinking, tapi emang kenyataannya begitu."

"Kalaupun memang Hilmi punya perasaan lain ke gue, gue nggak peduli."

"Beneran lo bakal nggak peduli?"

"Kenapa sih lo ngeraguin gue?" Kini Arsy sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan amarahnya, dia tahu dia salah tapi bukan berarti dia selingkuh kan? Kontak fisik seperti itu memang cukup berlebihan bagi sebagian orang tapi itu sudah terjadi dan berlangsung begitu cepat.

Seharusnya Rafael juga paham hal itu. Sekalipun Arsy mencoba menepisnya, tangan Hilmi sudah lebih dahulu menyentuhnya. Lagipula setelah itu Hilmi langsung menyesali perbuatannya dan segera meminta maaf.

"Terus mau lo apa?" Tanya Arsy to do point.

"Putus?" Tanyanya lagi.

"Kok lo ngomong gitu sih?" Rafael tidak percaya Arsy mengatakan kata yang ia benci. Putus sama dengan perpisahan. Dan Rafael membenci perpisahan.

"Terus mau lo itu apa dengan memperbesar hal sepele kayak gitu?"

"Hal sepele kalau diabaikan bisa jadi masalah yang serius." Ungkap Rafael.

"Nggak akan jadi masalah yang serius kalau nggak lo besar-besarin." Arsy terus membolak-balikkan kalimat Rafael, sekarang Arsy tidak ingin mengalah karena Rafael yang memulai perang.

Nggak sia-sia selama ini gue adu mulut sama Reno, itung-itung latihan dan bisa digunakan disaat begini. Batin Arsy.

Memang hampir setiap hari Arsy dan Reno bertengkar, ntah itu karena Reno yang terlalu jahil pada Arsy atau Arsy yang selalu mengadu ke guru kalau Reno berbuat curang. Hal itu memicu perdebatan panjang di antara keduanya.

RasyiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang