CHAPTER 10 : Boleh suka sama Kaleena?

33 6 3
                                        

"Permisi, atas nama Neng Jaja?"

Senja yang sedang memainkan handphone di depan auditorium menoleh saat sebuah suara terdengar di depannya. Sedangkan Langit yang berada di atas motornya tersenyum menatap Senja.

"Ngapain?" Tanya Senja kaget seraya melangkah mendekati Langit.

Laki-laki itu menyerahkan helm yang ia bawa pada Senja. Setelah perempuan itu sudah duduk manis di atas motor, Langit mulai menjalankan motornya tanpa berbicara pada Senja terlebih dahulu.

"Kemana?" Tanya Senja saat mereka berhenti di persimpangan.

"Katanya mau makan soto."

"Gue ga bilang." Senja mengalihkan pandangannya ke lain arah. "Ga usah soto deh, yang lain aja."

"Kenapa?"

"Gue nanti keinget emosi sama Akash."

"Mau makan apa jadinya?"

Senja menaruh dagunya di pundak Langit, "Mie ayam Mang Ujang?"

Langit mengangguk sebelum kembali melajukan motornya saat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Lalu keduanya pergi menuju tempat yang mereka panggil mie ayam Mang Ujang. Perjalanan yang tak sampai 20 menit itu membuat Langit kini sudah menepikan motornya di depan gerobak mie ayam itu.

"Wassup Mang Ujang?" Langit bersalaman asik dengan Mang Ujang yang tengah melayani mangkuk-mangkuk di depannya.

"Akash mana, Lang?" Mang Ujang mengedarkan pandangannya.

Langit menaikkan kedua bahunya, "Biasalah, sibuk banget 'kan dia orangnya."

Mang Ujang tertawa sesaat setelah Langit menyelesaikan ucapannya. Senja mendekat pada Mang Ujang, "Kayak biasa ya, Mang."

"Siap, Neng Senja!" Mang Ujang menaruh tangan kanannya dikening bergaya hormat pada Senja.

Setelahnya Senja dan Langit berjalan menuju meja yang berada di pojok ruangan. Sambil menanti es teh, keduanya sama-sama sibuk bermain dengan handphone milik masing-masing. Tak lama dua buah gelas dengan didalamnya terdapat larutan berwarna cokelat itu sudah tersaji di atas meja mereka.

Senja menyeruput es teh miliknya seraya menatap Langit yang baru saja meletakkan handphone di atas meja.

"Kenapa?" Langit menaikkan alisnya sambil menyeruput minuman di depannya.

"Ga pa-pa."

Langit mengubah posisinya beberapa saat untuk mencari posisi nyaman, "Ngomong-ngomong nih, Ja. Kalo lo ngajak Akash pergi tapi dia ga bisa, lo bisa ngajak gue 'kan, Ja?"

Senja mengangguk, "Iya, Lang."

"Terus kenapa kemarin lo marah sama Akash?"

"Dia cerita sama lo ya?"

"Gue yang nanya sama dia sih. Abisnya kalian di kamar gue cuma diem-dieman doang. Apaan party tapi malah diem-dieman."

"Ya maaf." Senja mengetuk meja beberapa kali, "Ada kemungkinan Akash bakal menjauh dari kita ga sih, Lang?"

"Maksud lo?"

"Gue yakin dia sekarang lagi deket sama cewe, gue ngetes aja kemarin ngajakin dia pergi. Tapi dia malah ngebela-belain buat nganterin temen cewenya."

Langit tertawa cukup renyah mendengar penuturan Senja.

"Ngapain anjir lo malah ketawa gitu? Diliatin orang-orang gila." Senja memukul lengan Langit yang berada di atas meja.

"Aneh lo."

"Kok jadi gue yang aneh?"

"Gue kalo suka sama cewe juga, gue bakal ngebelain buat nemenin cewe itu lah. Itu adalah dasar-dasar dari teknik modus, Ja."

Langit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang