Sejak terakhir Senja berbicara, Akash tak menanggapi apapun hingga keduanya telah sampai di tempat Langit melangsungkan acara. Akash menerima helm yang tadi dikenakan Senja, kemudian dengan cekatan tangannya membantu Senja merapikan rambut yang tak kunjung tersentuh oleh perempuan itu.
"Lo selalu punya waktu gue." Ucap Akash yang setelahnya mulai turun dari motor.
"Yakin?"
Akash mengangguk. "Butuh berapa banyak waktu yang harus gue kasih ke lo?"
Senja tersenyum tipis, ia memilih untuk mengedarkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan Akash. Langkah kecilnya mulai menuntun perempuan itu menuju meja di depan pintu masuk gedung. Senja dan Akash akhirnya melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum masuk.
"Mba, bisa ke backstage dulu ga, ya?" Tanya Senja pada seorang perempuan di depannya.
"Mau ngapain, Mba?"
"Saya temennya Langit, mau ketemu sebentar, Mba."
"Mba-nya udah ada janji?"
"Perlu janji ya, Mba? Kalo engga, tolong panggilin Langit-nya aja ke sini, bisa?"
Seorang laki-laki disebelah perempuan itu tiba-tiba ikut masuk ke dalam pembicaraan, "Maaf Mba, semua lagi pada latihan sama siap-siap. Ga bisa ditemuin dulu buat sekarang."
"Gitu ya? Ya udah, makasih ya."
Setelah mendengar jawaban dari kedua penjaga itu, Senja memilih keluar dari barisan diikuti oleh Akash dibelakangnya. Laki-laki itu tertawa seraya mengusap puncak kepala Senja setelah mengetahui temannya satu itu telihat begitu kecewa.
"Ayo masuk aja, nanti kita juga ketemu Langit di dalem." Ajak Akash.
"Coba telpon Langit dulu deh ya?"
"Kalo dia ga angkat, kita masuk ya?"
Senja mengangguk menyetujui tawaran Akash dan mengambil handphone miliknya didalam tas. Satu-dua kali handphone Senja menghasilkan suara menandakan bahwa panggilan tersambung, tetapi hal itu tak membuat panggilannya kemudian diangkat oleh Langit. Perempuan itu berdecak sebal karena saat ini sudah mulai banyak orang memasuki gedung dan memenuhi area penonton.
"Ja," Senja menoleh dengan handphone yang masih berada di telinga kanannya. "ke depan aja dulu, yuk. Takut nanti makin rame."
Senja menuruti ucapan Akash seraya mematikan handphonenya. Tangan Senja ditarik oleh Akash hingga keduanya kini sudah berada di barisan paling depan dan di tengah panggung. Mereka mencoba untuk berada di tempat paling strategis, berpikir bahwa jika nanti Langit bernyanyi mereka akan berhadapan secara tidak langsung karena diatas panggung sana terlihat sebuah stand mic yang sejajar dengan posisi keduanya
Langit masih tidak menjawab telepon Senja hingga terlihat dua orang menaiki panggung dan menyambut semua orang yang hadir ditempat itu. Akash merangkul Senja, mengusap pundak kirinya perlahan.
"Udah, nanti juga Langit bakal diri di depan kita nyanyi. Kita samperin dia pas acaranya selesai aja." Akash berbisik.
Senja menghela napasnya kasar, mood-nya tiba-tiba berantakan mengetahui Langit yang tidak bisa mengangkat telepon darinya. Padahal untuk datang ke acara ini, Langit sendiri yang memaksa Senja dan Akash.
"Dan yang udah ditunggu-tunggu nih. Tujuan adanya acara hari ini juga." Seorang MC laki-laki berucap setelah beberapa menit berbasa-basi dan memperkenalkan anggota lama dari Band Schemer.
"Dua anggota baru dari Schemer, yang ternyata udah punya banyak banget fansnya." Perempuan disamping laki-laki itu menyaut.
"Kita panggil aja, Langit sebagai vokalis!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Senja
Fiksi RemajaKepada Senja yang paling cantik di alam semesta, kutitip doa pada-Nya agar kamu selalu baik-baik saja. Kepada Senja paling baik di alam semesta, beri aku senyummu maka akan kubuat kau jatuh cinta. Kepada Senja yang selalu ku sayang sepanjang masa, m...
