Akash masih tak mengerti tentang apa yang Senja katakan sejak tadi. Bahkan Akash makin tidak mengerti bagaimana perempuan di depannya bisa dengan mudah mengeluarkan semua kata kasar padanya. Perempuan di depannya bukanlah Senja yang ia kenal, ia terlalu berbeda bagi Akash. Selama ini Senjanya tak akan pernah semarah ini padanya, tidak pernah sekalipun.
"Sadar, anjing! Lo udah sering banget milih pergi sama Kaleena dibanding gue sama Langit. Hidup lo sekarang emang cuma dia 'kan? Ngaku aja lah, sat. Udah cape gue sama kelakukan lo sekarang."
Akash menarik napasnya untuk kesekian kali ketika mendengar Senja kembali mengeluarkan kata kasar dari mulutnya. "Apa sih, Ja? Berhenti bawa-bawa Kaleena dimasalah kita. Kalo lo emang marah sama gue, ya udah marah. Kenapa lo harus bawa-bawa orang lain?"
"Ya karena dia sumber masalah kita??"
"Gue udah cukup bersabar ngediemin lo seminggu ini. Gue kasih waktu buat lo refleksi diri biar ga pernah lagi marah ga beralasan kayak gini."
"Gue? Lo nyuruh gue buat re—"
"Lo harus liat ke diri lo sendiri lagi, Ja. Ga semua diem gue berarti gue menerima semua hal yang lo lakuin ke gue. Gue tau, gue cowo. Tapi bukan berarti lo emang bisa seenaknya kayak gini."
Akash masih mencoba untuk menahan semua amarahnya agar tak meluap dengan parah. Diam-diam ia susun segala kalimatnya dengan rapi dan berusaha untuk tak menyakiti hati perempuan di depannya. Maka satu langkah menjauh pun akhirnya jadi cara lain untuk Akash menghindar dari perdebatan ini. Namun Senja menahan pergerakannya, tangan kecil milik perempuan itu menarik tangan kiri Akash untuk memaksanya berhenti.
"Lo—"
Akash mengerutkan kedua alisnya kala Senja menghentikan ucapannya dan lebih memilih menatap jam tangan yang berada di tangan kiri Akash.
"Lo emang jahat! Ga usah ketemu sama gue lagi!"
Mendengar bentakan yang Senja buat, Akash kembali memutuskan untuk melangkah pergi menjauhi perempuan itu. Pertengakarannya dengan Senja kali ini membuat pikiran Akash semakin kacau. Laki-laki itu bahkan tidak akan sanggup jika saja Senja tetap menahannya untuk terus berdebat. Akash lelah, sangat lelah.
Akash kembali ke UGD dan memilih duduk di kursi yang berada sebelah ranjang Anindya. Ia menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menopang. Kepalanya kali ini cukup terasa berat. Entah karena rasa kantuk berat yang Akash rasa atau karena semua beban pikiran yang menyerang bersamaan.
Akash memejamkan matanya yang selama tiga hari kebelakang ini hanya mampu terpejam selama 2-3 jam sehari. Akash berusaha untuk mengistirahatkan pikirannya dan tubuhnya terlebih dahulu. Setidaknya Akash akan berjanji untuk menemui Senja setelah kepalanya mendingin, bukan saat Akash kelelahan seperti ini dan akan mudah terpancing emosi.
Selama beberapa menit Akash hanya mampu untuk terpejam dengan kedua alisnya yang berkerut. Ia tak bisa benar-benar merasa beristirahat seperti yang ia rencanakan. Isi kepalanya tetap berputar memikirkan bagaimana pertengkarannya dengan Senja tadi. Sepertinya Akash memang tak mampu untuk menyampingkan hal yang baru saja terjadi, terlebih itu adalah tentang Senja.
Dalam sekali gerak, Akash mengangkat kepalanya dan memaksa cahaya ruang UGD memasuki penglihatan. Si pengidap darah rendah itupun akhirnya malah membuat kepalanya mulai merasakan pusing dan kunang-kunang berterbangan dipandangannya. Akash memang bodoh, tapi egonya kali ini lebih mendominasi diri walau lelah tubuhnya tak mampu berbohong.
"Kenapa?" Kaleena yang sedari tadi berada di samping Akash kini mulai memegangi kedua pundak Akash mencoba memberi kesadaran dan menanyakan kondisi laki-laki itu.
Akash mengibaskan tangannya kala sudah merasa lebih baik, "Gue ga pa-pa."
Tanpa menghiraukan Kaleena yang mengkhawatirkannya, Akash berjalan keluar dari UGD dengan terburu-buru. Matanya beredar mencari subjek yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Langkah kakinya tak ingin kalah untuk membawa Akash pergi kemana pun hingga matanya mampu mendapatkan sosok Senja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Senja
Ficção AdolescenteKepada Senja yang paling cantik di alam semesta, kutitip doa pada-Nya agar kamu selalu baik-baik saja. Kepada Senja paling baik di alam semesta, beri aku senyummu maka akan kubuat kau jatuh cinta. Kepada Senja yang selalu ku sayang sepanjang masa, m...
