CHAPTER 18 : Friendzone

16 4 1
                                        

Senja menjatuhkan kepalanya di pundak Langit yang kini tengah sibuk memastikan motornya berjalan dengan aman di jalanan kota yang mulai sepi. Beberapa kali hembusan napas kasar terdengar dari mulut Senja, tetapi itu tak mampu menjelaskan apa yang sedang Senja rasakan. Angin malam yang semakin lama menjadi kencang pun tak membuat perempuan itu merubah posisinya.

Lalu dalam beberapa saat setelahnya, Langit mulai merasakan getaran kacau yang dibuat oleh perempuan di belakangnya. Sayup-sayup ia mendengar tangisan kecil dari mulut Senja dan tak lama pundaknya pun terasa basah tepat dimana Senja meletakkan kepalanya.

"Anjir, Jaja! Jangan ngiler di pundak gue dong." Langit menepikan motornya di depan halte bus yang tidak ada orang sama sekali. Kepalanya menengok kebelakang saat Senja mengangkat kepala dari pundak Langit.

"Anjing! Ga bisa banget lo punya rasa empati ya?" Senja memukul pundak Langit seraya menatap laki-laki itu dengan marah.

"Kalo mau diperhatiin tuh bilang. Lo nangis tiba-tiba di belakang gua gini mana gue ngerti. Dari tadi gue udah deg-degan takut salah bawa orang."

"Apa maksud lo, njing?!" Senja mengusap air mata yang sedari tadi mengallir di pipinya dengan tatap sinis yang tak henti ia arahkan pada Langit.

"Lo nangisnya kayak Mba Kukun, anjir. Gue kira 'kan ya lo berdua bertukar tempat."

Senja memegangi kepala Langit dan mengarahkannya ke depan. "Udahlah cepetan ke Mang Ujang. Gue laper."

Langit kembali menengok ke arah Senja, "Jangan nangis tapi, anjir. Gue ga mau jaket gue basah gara-gara air mata lo doang."

"Anjir! Pelit banget lo jadi laki-laki."

"Bukan masalah pelit nih, Ja. Kalo besok Bunda nanya kok jaketnya basah sebelah, gue harus jawab apa? Kalo gue bilang lo nangis, nanti gue di tanya-tanya, terus kalo gue jawab, lo mau jadi bahan pergosipan emak-emak kita?"

Senja mendorong tubuh Langit, "Udah, gue ga nangis. Cepet elah jalan! Kasian Mang Ujang udah nungguin kita."

"Bener?"

"Iya, sat."

"Awas aja kalo tiba-tiba gue denger lo nangis lagi."

"Berisik! Udah jalan aja sih."

Langit akhirnya mengalah dan mulai bersiap untuk kembali melajukan motornya. Senja menjauhkan tubuhnya dari Langit, duduk dengan tegak seraya mencoba untuk menahan tangisan yang kembali ingin keluar.

Senja malam ini memang penuh dengan emosinya yang tak terbaca. Bagi Langit, emosi seperti ini adalah ketika Senja memang benar kecewa akan suatu hal. Maka malam ini kesimpulan yang Langit buat sendiri adalah Senja begitu kecewa pada Akash. Walau ia tak mengerti kecewa tersebut dalam konteks yang seperti apa, karena sejauh yang ia tahu sebabnya adalah Kaleena, perempuan yang memang beberapa waktu ke belakang menyita waktu Akash dengan cukup baik.

Sebenarnya untuk Akash, Langit tidak mau begitu mempermasalahkan hal itu. Akash pun selama ini hanya bermain bersamanya dan Senja, tak pernah ia lihat laki-laki itu memiliki seorang perempuan spesial dihidupnya. Jadi ketika Akash memang dekat dengan Kaleena, Langit hanya mampu mendukung seperlunya.

Namun, mungkin perasaan perempuan berbeda menerima perubahan yang terjadi. Senja merespon hal tersebut tidak dengan pemikiran yang sama seperti Langit. Perempuan itu bahkan seperti terlalu emosional sejak beberapa kejadian yang pernah dialami, dan selama itu ada Kaleena di dalamnya.

"Mang, mie ayam dua sama es teh manisnya juga dua ya." Ucap Langit pada Mang Ujang yang kemudian diangguki tanpa ragu.

"Kamu teh ngapain Neng Senja atuh, Lang?" Seorang laki-laki dengan postur tubuh tak berbeda dengan Langit menyaut saat Senja dan Langit duduk di salah satu meja yang berada di ujung ruangan.

Langit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang